Konten dari Pengguna

Opname Seminggu, Mertua Setia Menunggu

Mertua Oh Mertua

Mertua Oh Mertua

Curhatan, keluh kesah, dan kisah cinta tentang mertua. Banyak drama di antara kita.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mertua Oh Mertua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Opname Seminggu, Mertua Setia Menunggu. Foto: Thinkstock
zoom-in-whitePerbesar
Opname Seminggu, Mertua Setia Menunggu. Foto: Thinkstock

Punya mertua perhatian dan nggak banyak demand adalah sebuah kemewahan. Mertua yang menganggap Anda seperti anak sendiri. Salah satu menantu beruntung yang merasakannya adalah Hana. Simak ceritanya.

Selama bertahun-tahun, aku selalu berdoa agar dikaruniai mertua yang baik. Yang bisa aku anggap sebagai orang tua kedua, yang kehadirannya nggak perlu aku hindari. Alhamdulillah, doaku itu dikabulkan.

Ya, aku punya mertua yang super duper perhatian. Hal itu terlihat saat aku opname atau rawat inap selama seminggu karena tipes sekitar setahun yang lalu. Bukan suami atau orang tuaku yang paling sering menemaniku, melainkan ibu mertua.

Saat itu aku dan suami sedang long distance marriage. Suamiku ditugaskan mengawasi kantor cabang di luar kota selama dua bulan. Dia nggak bisa pulang karena jadwalnya sangat padat. Sedangkan orang tuaku harus jaga stand-nya di pasar dan nggak bisa ditinggal.

Sebenarnya kondisiku emang nggak begitu lemah. Masih bisa makan dan jalan ke toilet sendiri. Tapi karena khawatir ada apa-apa, ibu mertua selalu stand by sejak pagi hingga maghrib setiap hari. Ayah mertua sendiri yang antar-jemput. Untungnya, kami memang tinggal sekota.

Selama menemaniku di rumah sakit, ibu mertua nggak pernah mengeluh. Dia selalu membawakan camilan dan buah-buahan siap makan. Nggak jarang ibu mertua juga menyuapiku padahal aku cukup kuat untuk makan sendiri.

“Nggak apa, kapan lagi bisa Ibu bisa suapin menantu kesayangan,” kata ibu mertua. Mendengarnya hatiku jadi berbunga-bunga.

Mertua dan menantu rukun. Foto: Shutterstock

Yang paling manis, ibu mertua juga nggak pernah absen bertanya “besok mau dibawain apa?” sebelum pulang dari RS. Gimana nggak sayang diperlakukan begitu?

Tentu aku sebenarnya merasa sungkan. Nggak tega rasanya melihat ayah dan ibu mertua bolak-balik ke rumah sakit, menghabiskan seharian di kamar pasien, repot bawa ini-itu buat aku. Aku sudah menyuruhnya pulang, tapi rupanya ibu mertua lebih ngotot daripada aku.

Mungkin ibu mertua merasa bersalah karena anaknya nggak bisa menemani istrinya. Mungkin dia memang sesayang itu kepadaku. Apapun latar belakangnya, aku bersyukur memiliki mertua yang membuatku merasa dicintai. (sam)

Jadi gimana, nih? Apakah Anda juga pernah mengalami pengalaman serupa dengan Hana? Boleh dong, diceritakan di kolom komentar. Takut namanya kebaca sama mertua? Kirim email aja! Ke: curcolsoalmertua@gmail.com