Konten dari Pengguna

Di Antara Jutaan Rasa, Masakan Ibu Tetap Juaranya

Meyta Fawzia Salsabila

Meyta Fawzia Salsabila

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNS

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Meyta Fawzia Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi masakan ibu (Source: Freepik)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi masakan ibu (Source: Freepik)

Seenak apapun makanan yang pernah kita rasakan, ada makanan yang rasanya tak pernah bisa dilawan. Makanan yang hanya bisa kita temukan ketika pulang ke tempat yang bernama rumah. Makanan yang selalu disiapkan dengan penuh cinta dan kasih sayang. Makanan yang ketika disajikan, aromanya menyebar ke seluruh penjuru rumah dan menggugah selera makan. Benar, makanan dengan rasa yang tak bisa dikalahkan itu adalah masakan ibu.

Selalu menjadi pertanyaan umum mengapa rasa masakan ibu terasa begitu nikmat. Padahal, masakan Ibu sering kali sederhana, tidak memakai bahan dan bumbu yang neko-neko, tidak selalu terihat menarik, tidak diberi nama yang rumit, dan tidak mengikuti tren makanaan yang sedang viral. Bahkan ketika kita mencoba untuk membuatnya sendiri rasanya sering kali tak menjadi seenak masakan ibu, seolah ada bumbu rahasia yang ia tambahkan di tiap masakannya.

Sejak kecil, lidah kita telah dibentuk oleh masakan ibu. Makanan yang pertama kali kita makan adalah masakan ibu, di sanalah kita mengenal rasa “enak” untuk pertama kalinya. Dan masakan ibu terus menemani kita, menjadi sesuatu yang terasa hangat dan familiar sekaligus membentuk standar rasa yang menjadi patokan bagi lidah kita.

Ilustrasi seorang ibu sedang memasak. (Source: Freepik)

Masakan ibu juga hadir dengan perhatian. Ia hadir dengan penyesuaian-penyesuaian yang mungkin tidak kita sadari, misalnya penyesuaian pedas, penyesuaian jenis lauk, dan penyesuaian porsi. Ibu memasak sambil memikirkan kita, bukan hanya sekadar menyelesaikan pekerjaan dapur. Disitulah letak keistimewaan terbesar yang membedakan masakan ibu dengan makanan di luar sana.

Ketika beranjak dewasa, jarak dengan rumah semakin terasa. Kesibukan membuat kita tak sempat untuk pulang. Di titik itu, masakan ibu bukan hanya menjadi sekadar makanan. Ia berubah menjadi simbol pulang. Menjadi sesuatu yang dirindukan ketika hari-hari berat datang menyapa. Bukan karena tak sempat makan. Bukan karena kelaparan. Tapi karena ingin kembali ke perasaan tenang yang dulu terasa biasa saja.

Ilustrasi kehangatan saat makan bersama keluarga. (Source: Freepik)

Mungkin kita pernah mencoba mencari rasa yang sama di luar sana. Mencari menu yang serupa di tempat makan yang menyediakan makanan rumahan. Namun tetap saja ada yang berbeda. Karena yang membuat masakan ibu terasa istimewa bukan hanya soal rasanya, tetapi juga tentang suasana hangat yang menyertainya.

Masakan ibu selalu disajikan dengan cara yang sama, hangat, sederhana, dan tanpa syarat. Itulah mengapa, di antara begitu banyak rasa yang pernah kita coba, rasa masakan ibu selalu jadi pemenangnya. Bukan karena ia paling sempurna, tetapi karena ia selalu terasa cukup. Dan dalam hidup yang banyak kurangnya ini, rasa cukup adalah kemewahan yang jarang kita temukan.