Buzz
·
8 Juni 2021 20:19
·
waktu baca 2 menit

Cerita Seniman Muda Hias Gubuk dengan Lukisan Mural agar Petani Senang

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Cerita Seniman Muda Hias Gubuk dengan Lukisan Mural agar Petani Senang (458328)
Mural di Gubuk dok IG ardankuk
Belakangan sempat viral di media sosial tentang gubuk di tengah perkebunan yang tampak berbeda, karena dihias dengan mural.
ADVERTISEMENT
Gubuk yang awalnya tampak biasa saja dengan tembok semen itu, dilukis hewan warna-warni sehingga tampak lebih indah dan 'hidup'.
Sosok di baliknya ialah Ardan Kukuh Prayoga (31). Cowok asal Solo, Jawa Tengah itu ternyata sudah empat kali menggambar mural di gubuk petani.
Berawal di Agustus 2020, Ardan menggambar mural di gubuk milik neneknya di Desa Blumbag, Tawangmangu, Jawa Tengah. Tujuannya sederhana, dia hanya ingin memberikan sesuatu untuk daerah tersebut.
"Karena itu adalah tempat lahirnya ibuku juga. Sebagai visual artist, apa, nih, yang bisa aku berikan di Tawangmangu. Terus kepikirannya bikin itu," kata dia kepada kumparan.
Cerita Seniman Muda Hias Gubuk dengan Lukisan Mural agar Petani Senang (458329)
Mural di Gubuk dok IG ardankuk
Namun, di gubuk pertama sampai ke-3, Ardan melukis mural di satu sisi saja. Barulah pada kali ke-4 dia menghias seluruh sisi bersama dua temannya, Potr dan Elienmen, yang tergabung dalam Komunitas Senyum Manis.
ADVERTISEMENT
Selama menggarap proyek terbarunya itu, cowok lulusan Universitas Sebelas Maret (UNS) tersebut mengaku menghabiskan sekitar 30 kaleng cat semprot yang satuannya seharga Rp 38 ribuan.
"Proses mengerjakannya paling lima sampai enam jam. Yang kemarin ini, hampir semua sisinya kami gambar. Satu sisi dipegang satu artist," ucap Ardan.

Supaya Petani Senang

Karena gubuk tersebut bukan miliknya atau keluarganya, cowok yang sudah senang menggambar sejak SMA ini harus meminta izin terlebih dulu kepada pemilik.
Untungnya para petani di sana merasa senang, bahkan sampai menawarkan meminjamkan tangga dan memberikan minum.
"Kalau di gubuk ke-3, aku enggak tahu pemiliknya siapa. Ya, udah, aku gambar aja. Akhirnya yang punya dateng dan aku izin udah hampir 50 persen proses. (Syukurnya) kata mereka enggak masalah," tutur Ardan.
ADVERTISEMENT
Walau begitu, Ardan pernah menerima kritik apa yang dia lakukan merusak pemandangan alam dan membuat lingkungan enggak alami lagi.
Tapi baginya, yang terpenting petani di sana merasa senang.
"Apa, sih, yang bisa aku berikan biar petaninya, tuh, lebih senang lagi gimana, sih. Ternyata bikin gambar juga bikin petani senang. 'Kan, awalnya tembok cuma di semen. Terus, ketika ada orang dengan suka rela ngecat, tuh, mereka senang," jelas dia.
Ke depannya, cowok yang kini bekerja sebagai lead designer di Persis Solo itu ingin melukis mural di daerah lain, seperti Boyolali, dan bekerja sama dengan komunitas di sana.
"Pengin fokusnya di gubuk dulu. Kalau gambar di gubuk, tuh, lebih bermanfaat gitu. Intinya ingin mengindahkan daerah situ," pungkas Ardan.
ADVERTISEMENT
Laporan: Afifa Inak