Cerita Syafiq, Mahasiswa yang Jadi Relawan Penjemput Jenazah COVID-19

Millennialverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Syafiq dok IG Ditjen.dikti
zoom-in-whitePerbesar
Syafiq dok IG Ditjen.dikti

Sejak pandemi COVID-19 merebak di Indonesia, berbagai lapisan masyarakat gotong royong untuk saling membantu melewati masa krisis ini.

Salah satunya dengan menjadi relawan dalam penanganan COVID-19. Seperti yang dilakukan oleh Muhammad Syafiq Abdan Syakuri, mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

embed from external kumparan

Dilansir Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, cowok yang akrab disapa Syafiq ini mendedikasikan dirinya sebagai relawan penjemput jenazah COVID-19, dengan Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC).

Dia rela pergi meninggalkan keluarganya di Sleman untuk menetap di kantor MCCC di Kotagede atau di kantor BPDB DIY.

Syafiq ikut serta dalam berbagai kegiatan, seperti dekontaminasi dan juga pemakaman jenazah. Selain itu karena kini banyak pasien COVID-19 yang meninggal dunia saat melakukan isolasi mandiri, dia dan tim relawan membuka pelayanan aduan untuk memfasilitasi kebutuhan dan persiapan isolasi.

embed from external kumparan

Dalam kegiatan ini, Syafiq enggak sendirian. Dia ditemani oleh beberapa mahasiswa lain seperti dirinya.

Meski sibuk sebagai relawan, Syafiq dan teman-teman satu timnya enggak lantas meninggalkan kewajiban kuliah yang dilakukan secara online.

Maka itu mahasiswa jurusan kuliah Psikologi tersebut harus pintar-pintar membagi waktu dan menentukan prioritas tugas.

embed from external kumparan

Ditolak Warga sampai Sulit Bernapas karena Pakai APD

Menjadi relawan penjemput jenazah COVID-19 bukan hal mudah. Syafiq mengaku bahwa dirinya dan tim melewati berbagai kesulitan di lapangan.

Di antaranya, banyak penolakan dari warga dalam menerima jenazah COVID-19 di lingkungan setempat.

Selain itu, dia juga harus merasakan kesulitan bernapas akibat pemakian APD yang harus tertutup secara rapat.

Meski memiliki tugas dan juga tanggung jawab yang berat serta melelahkan, bahkan tanpa tunjangan yang didapatkan, Syafiq dan tim relawan lain tetap menjalankan tugas secara ikhlas dan rela.

Sebab dia telah mendedikasikan dirinya tanpa mengharapkan materi.

"Tugas ini adalah panggilan dari dalam hati dan inisiatif sendiri," kata Syafiq.

embed from external kumparan

Laporan: Afifa Inak