Sempat Pesimistis untuk Kuliah, Anak Tukang Las Ini Dapat Beasiswa Rp 55 Juta

Millennialverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Zetta (kiri) dan ayahnya dok YouTube Sevima
zoom-in-whitePerbesar
Zetta (kiri) dan ayahnya dok YouTube Sevima

Remaja asal Semarang, Zetta Septian Nugroho Adhi, sebenarnya telah memendam harapan untuk kuliah.

Biaya kuliah yang tinggi membuat Zetta enggak ingin membebani ayahnya, Joni Christiono, yang merupakan tukang las dan ibunya, Ester Yuliani, yang membuka jasa laundry kecil-kecilan.

Penghasilan orang tuanya enggak menentu. Terkadang bahkan hanya Rp 500 ribu sebulan.

Apalagi di tengah pandemi COVID-19 ini, perekonomian keluarga Zetta kian terdampak. Usaha orang tuanya mendadak sepi pelanggan.

“Aku tahu sendiri pendapatan ayah enggak menentu. Awalnya aku ingin langsung kerja, karena kuliah itu harus merantau, harus bayar kuliah, enggak sedikit (biayanya),” kenang Zetta, dalam Talkshow Pengumuman Beasiswa SEMESTA belum lama ini.

Ilustrasi beasiswa. Foto: Shutter Stock

Namun, harapan untuk kuliah kembali muncul saat Zetta dinyatakan sebagai penerima beasiswa senilai Rp 55 juta dari program Beasiswa SEMESTA.

Enggak cuma itu, Zetta juga mendapat uang tunai sebesar Rp 3 juta dan kontrak kerja di PT Sentra Vidya Utama dengan gaji bulanan.

Dia menjadi satu dari lima penerima beasiswa, setelah lolos seleksi yang terdiri dari sejumlah tahapan tes. Di antaranya ujian membuat aplikasi dalam waktu singkat.

“Biasanya aku mengerjakan pembuatan aplikasi selama sebulan dan bisa lebih. Nah, saat seleksi ini aku melakukannya dalam satu hari aja,” tutur Zetta.

Zetta Jago IT karena Hobi Main Game di Warnet

kumparan post embed

Kini dia bisa melanjutkan pendidikan di jurusan kuliah Teknik Informatika (IT) yang sesuai minatnya.

Ya, kesukaan Zetta di bidang IT bermula dari hobi bermain game di warnet. Setiap hari dia rela enggak jajan di sekolah supaya bisa bayar di warnet Rp 3 ribu per jam.

“Tidak jarang sampai larut malam pergi ke warnet. Sebagai ayah, saya enggak khawatir dengan hobi tersebut. Karena selalu yakin, Zetta sebagai anak mbarep (laki-laki dan anak pertama) punya pemikiran matang,” kata Joni.

Kecintaan itu kemudian membuat Zetta tertarik belajar membuat game sendiri di komputer. Makanya dia memilih jurusan Pemrograman di SMK Negeri 8 Semarang.

“Dari bermain game ini aku mulai tertarik untuk menjadi developer, sebelumnya aku enggak tahu caranya menjadi seorang developer, akhirnya cari-cari dan ternyata harus bisa pemrograman,” tutur Zetta.

kumparan post embed

Keahlian di bidang IT yang dimiliki Zetta juga digunakan untuk membantu orang tua. Jasa sang ayah sebagai tukang las dan ibu sebagai tukang laundry, dipromosikannya secara online hingga laris-manis.

“Aku pasang toko laundry di Google Maps sampai akhirnya jadi lebih laris dari biasanya. Jadi kalau biasanya pesanan dari mulut ke mulut, ini sampai ada email yang masuk," ujar Zetta.

Dia juga mengambil pekerjaan lepas membuat website sekolah atau sayembara berhadiah tertentu.

“Hadiahnya lumayan, untuk keperluan sekolah, jadi saya bisa membantu meringankan ekonomi keluarga,” lanjutnya.

Ke depannya setelah mendapatkan beasiswa ini, Zetta berjanji akan memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Kuliah diharapkan bisa membuka jalannya meraih masa depan yang cerah.

kumparan post embed