Toxic Productivity, Keinginan untuk Selalu Kerja yang Diam-diam Menyiksa
·waktu baca 1 menit

Pandemi COVID-19 memaksa kita untuk bekerja dari rumah. Seringkali situasi ini menuntut seseorang untuk selalu produktif.
Namun akibatnya, enggak sedikit orang yang tanpa sadar justru terjebak dalam toxic productivity.
Apa itu toxic productivity?
“Toxic productivity merupakan suatu keinginan untuk selalu produktif setiap waktu dengan segala usaha dan cara, serta enggak mau berhenti walaupun tugasnya telah selesai,” jelas Dokter Erikavitri Yulianti, dilansir laman Unair.
Erikavitri menjelaskan bahwa seseorang yang terjebak dalam toxic productivity akan selalu mengkritik, menuntut diri sendiri seakan belum melakukan dan mencapai apa-apa, serta melupakan prestasi yang telah diraih.
Menurutnya, toxic productivity berpotensi menimbulkan suatu burn out sehingga relasi dengan orang lain akan terganggu.
Penyebab toxic productivity
Konsultan bidang psikiatri itu menjelaskan bahwa penyebab toxic productivity adalah rutinitas yang berubah. Khususnya di tengah pandemi saat ini.
“Sebetulnya kita ini enggak nyaman. Kita takut dengan ketidakpastian pandemi COVID-19, sehingga melakukan suatu produktivitas toksik yang akan memberikan ‘rasa aman’ untuk menutupi ketakutan,” tutur Erikavitri.
Ciri seseorang melakukan toxic productivity
Ia menyebut, beberapa ciri yang menandakan seseorang melakukan toxic productivity adalah sering merasa bersalah. Selain itu juga menuntut untuk harus melakukan lebih banyak pekerjaan, padahal sudah enggak ada lagi yang perlu dikerjakan.
Toxic productivity dapat pula ditandai dengan kelelahan di pagi hari meski udah tidur cukup, dan enggak efisien saat kerja.
Tips terbebas dari toxic productivity
Cara terhindar dari toxic productivity
Ada beberapa saran agar seseorang terhindar dari toxic productivity. Apa aja?
1. Melakukan pengaturan waktu yang baik dan memahami bioritme diri masing-masing
“Ada orang yang aktif setelah tengah malam, ada juga orang yang aktif setelah jam 12 siang. Kita harus memahami diri kita sendiri karena tugas yang tidak produktif akan menghabiskan waktu,” jelas Erikavitri.
2. Melakukan manajemen stres
Cobalah secara efektif mengatasi gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang muncul akibat suatu hal.
3. Menetapkan tolok ukur
Dilakukan untuk mengevalusi hasil pekerjaan.
4. Memberikan reward untuk diri sendiri
Alias self reward, yakni dengan membeli makanan favorit, me time dengan nonton film, perawatan di salon, atau sekadar mematikan handphone dan istirahat yang cukup. Di saat kamu cukup tertekan dengan pekerjaan atau kejadian yang dialami, self reward bisa membantumu menikmati hidup.
