Konten dari Pengguna

Dari Mimbar KKN ke Masyarakat, Pengurusan Jenazah Ikhtiar Membangun Kepedulian

Abqori Hisan

Abqori Hisan

Mahasiswa Hukum UIN Jakarta

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abqori Hisan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi pribadi: Seminar Penyuluhan Pengurusan Jenazah
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi pribadi: Seminar Penyuluhan Pengurusan Jenazah

Di tengah derasnya arus modernisasi, ada satu gejala ilmu pengetahuan dalam kehidupan bermasyarakat yang perlahan mulai ditinggalkan, yaitu tata cara pengurusan jenazah. Hal demikian, ntah itu karena masyarakatnya tidak tahu atau memang merasa malu bahkan takut bila mengurus jenazah. Padahal, dalam ajaran Islam, mengurus jenazah bukan sekadar tradisi keagamaan, melainkan fardu kifayah, suatu kewajiban kolektif bagi masyarakat, karenanya apabila tidak ada seorang pun yang melaksanakannya, seluruh komunitas kemasyarakatan menanggung akibat atau dosa.

Kesadaran inilah yang melatarbelakangi penyelenggaraan "Penyuluhan Pengurusan Jenazah" di Desa Kota Batu Kecamatan Ciomas Bogor pada 7 Agustus 2026. Kegiatan yang diselenggarakan oleh  KKN kelompok 152 mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut menghadirkan praktisi keislaman sekaligus Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) sebagai pemateri, dengan melibatkan masyarakat secara langsung, Ibu-ibu PKK dan Ibu-ibu Majelis Ta'lim, melalui praktik memandikan, mengafani, hingga tata cara salat jenazah.

Hal semacam ini memang cukup sederhana bila dilihat dari kacamata orang yang sudah paham. Namun, jika dicermati lebih dalam, ia menyimpan pesan sosial yang jauh lebih besar, sehingga kepekaan dan kepedulian masyarakat untuk ikut mengurus jenazah bila mana ada salah satu tetangganya yang meninggal dunia, mereka tidak mengandalkan orang lain.

Sering kali pengabdian masyarakat di lingkungan perguruan tinggi dipersepsikan hanya sebagai formalitas akademik, nilai dan semacamnya. Padahal, hakikat "Tri Dharma Perguruan Tinggi" menempatkan pengabdian sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata masyarakat.

Sesi penyampaian materi: Dokumentasi pribadi

Penyuluhan pengurusan jenazah menjadi contoh bagaimana kampus dapat hadir bukan hanya sebagai pusat produksi ilmu, tetapi juga sebagai institusi yang menyelesaikan persoalan sosial secara langsung. Jadi, Mahasiswa Kerja Kuliah Nyata (KKN) tidak sekadar datang membawa materi, melainkan menghadirkan ruang belajar bersama, duduk melingkar dan menjawab persoalan yang ada ditengah-tengah masyarakat. Sebagaimana yang diharapkan oleh Mahasiswa KKN 152 adalah:

Bahwa, kita ingin masyarakat kedepan akan tetap tahu dan peduli terhadap sesama dalam hal pengurusan jenazah. Ketika seseorang meninggal dunia, misalnya, keluarga tidak lagi bergantung kepada segelintir tokoh agama atau pengurus masjid.

Proses mengafani: Dokumentasi pribadi

Dalam kegiatan Penyuluhan Pengurusan Jenazah ini, para peserta diberi kesempatan mempraktikkan langsung proses mengafani jenazah menggunakan kain kafan, memahami urutan pelaksanaan, hingga mendiskusikan berbagai persoalan yang sering muncul di masyarakat.

Model pembelajaran seperti ini jauh lebih efektif dibandingkan ceramah satu arah. Sebab keterampilan pengurusan jenazah tidak cukup dipahami secara teoritis, tetapi harus dilatih secara praktis.

Pada akhirnya, penyuluhan pengurusan jenazah bukan sekadar mengajarkan bagaimana membungkus tubuh dengan kain kafan atau melaksanakan salat jenazah. Ia mengajarkan bahwa kehidupan memiliki batas, dan setiap manusia memiliki tanggung jawab sosial terhadap sesamanya.

Di tengah masyarakat yang semakin individualistis, kegiatan seperti ini mengingatkan bahwa masih ada ruang bagi masyarakat untuk saling gotong royong, kepekaan, kepedulian, dan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupan bersama. Sekian.