Menyaksikan Si Sulung Jadi Peraga Endorse
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sedikitnya dua kali dalam rentang beberapa bulan belakangan ini, saya menyaksikan Si Sulung menjadi peraga endorse. Produk yang dikerjasamakan dengannya kebanyakan berupa kuliner khas Semarang. Lokasi setting dan pengambilan video pun dilakukan di Kota Semarang. Ada dukungan narasi rekomendatif yang disuarakan oleh Si Sulung.
Sebagai ayah, saya mendukung dari jauh dengan doa kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Semoga ini menjadi jalan peraihan dan pengayaan pengalaman baru bagi seorang fresh graduated, yang pada April 2026 lalu resmi menyandang gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan dari FISIP Undip Semarang.
Embrio praktik kerja tim endorse yang mengenakan sistem endorsement dengan landasan basis media sosial, di Indonesia mulai berada dalam ranah pengenalan publik secara luas pada kisaran 2012-2014. Kecenderungan ini muncul bergayung sambut dengan adanya lonjakan popularitas sebuah platform media sosial terkemuka di Tanah Air.
Fenomena endorse hingga terbangun suatu ekosistem tim profesional, menelusuri garis waktu perkembangan. Untuk tahapan awal (2012-2013) lebih merupakan sistem barter. Pada mula pemunculannya di sebuah platform media sosial raut kehadiran endorse belum terlalu membuka tarikh kepopulerannya sebagaimana sekarang ini.
Kolaborasi antara pemilik toko daring (online shop) dan figur publik dengan banyak pengikutnya (followers) masih bersifat informal. Skema yang mereka gunakan adalah barter barang. Pemilik toko daring mengirimkan produk secara cuma-cuma alias gratis. Lalu figur publik itu mengunggah foto produk sebagai wujud dukungan informal.
Tahapan berikutnya menjadi komersial dan melahirkan istilah peraga selebritas. Hal ini mulai memperlihatkan fenomenanya pada kisaran 2013-2015. Seiring dengan kian tinggi kuantitas pengguna media sosial di negara kita, model bisnis yang semula tidak lebih dari barter produk, kemudian melangkah menuju ke pintu komersial.
Para selebritas internet generasi pertama, seperti Rachel Vennya, Ria Ricis, dan Awkarin, mulai memberi ketetapan tarif khusus (rate card) untuk mengoperasikan sistem promosi berbayar. Mulai dari titik inilah istilah yang dalam bahasa Inggrisnya, endorsement dan paid promote, secara resmi mengalami penyerapan menjadi hal yang lazim terucapkan dalam bisnis digital.
Tim Endorse
Tahapan selanjutnya adalah kelahiran tim endorse profesional. Pada pengujung tahun 2015, beban kerja para influencer semakin tinggi. Sebab, permintaan klien untuk mempromosikan produknya yang terus membeludak mau tidak mau menyebabkan mereka kewalahan. Realitas ini memicu keterbentukan struktur manajemen profesional. Kini, dengan bahasa yang relatif sederhana, dikenal dengan sebutan tim endorse.
Tugas pengelolaan tim endorse pada umumnya meliputi manajemen kontak dan admin. Mengurus pesan masuk, jadwal booking, negosiasi tarif dengan pemilik merek atau jenama produk. Kemudian pengarah kreatif dan fotografer. Ini adalah amunisi kepastian bahwa konten produk memenuhi estetika yang sesuai dengan standar, sehingga dapat memikat minat para pembeli.
Tim endorse menjadi agensi influencer yang memainkan strategi pemasaran digital guna mengidentifikasi, mengolaborasikan, dan mengoptimalkan relasi dengan para pemilik toko daring untuk menggapai tujuan bisnis. Di sini muncul perusahaan pihak ketiga (talent management) yang menjembatani ratusan pemilik usaha dengan puluhan influencer sekaligus dalam satu pintu.
Dalam sebuah tim endorse baik dari sisi brand atau jenama maupun agensi, pembagian peran masing-masing, pada substansinya semua fokus ke tujuan agar kampanye promotif berjalan terstruktur dan dapat menggapai target. Adapun peran utama tim endorse mencakup posisi strategis, operasional, hingga kreatif.
Terkait dengan manajemen dan strategi, ada posisi manajer kampanye (campaign manager), merupakan penanggung jawab utama yang mengatur strategi dasar, anggaran keseluruhan, dan mengawasi perjalanan proses dari awal dan setelah eksekusi praktis.
Di bidang manajemen dan strategi tim endorse, juga terdapat peran spesialis pemasaran influencer (influencer marketing specialist). Analis yang bercokol pada ranah tugas untuk melakukan pencarian, kurasi, dan pemilihan influencer yang paling sesuai dengan citra jenama (brand image), dan target pasar.
Selanjutnya di bidang operasional dan hubungan kerja, terdapat peran koordinator talenta (talent coordinator) atau penanggung jawab (person in charge). Penghubung langsung pemilik jenama dengan influencer. Memiliki tugas melakukan negosiasi tarif, mengirimkan produk (product sending), menyepakati skedul tayang. Dan yang tidak kalah penting, memastikan influencer memahami dengan baik arahan kerja.
Sudah itu, di bidang operasional dan hubungan kerja, ada peran yang menjadi bagian tugas dari spesialis legal (legal specialist). Dialah penyusun kontrak kerja sama guna menegaskan kepastian hak cipta konten, klausul eksklusivitas (aturan kontrak yang melarang kerja sama dengan pesaing bisnis). Dan, sistem pembayaran aman bagi kedua pihak (mekanisme transaksi yang memproteksi).
Kemudian bidang kreatif dan konten, ada penulis naskah iklan (copywriter) atau perencana kreatif (creative planner). Dia pembuat panduan ringkas (brief guide). Peran ini menjadi penentu poin unik produk (unique selling point) yang wajib terucapkan, kata kunci (keywords), dan batasan mengenai hal yang boleh atau tidak (do’s and don’ts).
Termasuk ke dalam bidang kreatif dan konten, yaitu pengontrol kualitas (quality controller/QC) atau pe-review (reviewer). Peninjau draf konten yang dikirim influencer sebelum diunggah ke publik. Peran ini memastikan kesesuaian antara panduan singkat dan kualitas visual.
Terdapat pula bidang analisis dan evaluasi. Peran analis data (data analyst) atau pemasar performasi (performace marketer). Pemantau performa setelah konten tayang. Bertugas menghitung metrik keberhasilan, seperti tingkat interaksi (engagement rate), jumlah klik tautan, hingga konversi penjualan (return on investment/ROI).
Untuk skala bisnis kecil, tim endorse biasanya hanya dijalankan satu atau dua orang (owner atau admin media sosial) yang merangkap semua bidang dengan fungsi tugas di atas. Untuk skala bisnis menengah, mempunyai tim internal khusus yang terdiri atas manajer, koordinator talenta, perencana kreatif.
Sementara itu, untuk skala bisnis besar mempunyai struktur lengkap sebagaimana terpapar pada uraian di atas. Terdapat spesifikasi peran yang begitu ketat untuk mengelola ratusan influencer.
Sangat Diperlukan
Mayoritas lingkungan usaha (business-to-consumer), terutama yang mengandalkan citra jenama (brand image) dan pemasaran digital untuk memikat para konsumen, sangat memerlukan tim endorse. Pada umumnya, tim ini membantu sektor usaha dengan produk yang bersifat visual, tren cepat berubah. Atau, produk itu menuntut tingkat kepercayaan tinggi dari konsumen.
Di sektor usaha ritel dan gaya, tim endorse memainkan peran signifikan di industri kecantikan. Ulasan dan hasil visual di media sosial sangat mendukung promosi kosmetik, perawatan kulit, dan klinik perawatan yang menambah pesona keayuan.
Lalu di jagat fesyen dan aksesori. Figur publik yang didukung tim endorse begitu dibutuhkan keberadaannya, agar produk-produk pakaian, sepatu, tas, dan perhiasan bisa dihadirkan sebagai tren mode dan gaya hidup.
Begitu pula di lingkungan usaha kuliner atau food and beverage (F&B). Peran food vlogger menjadi sedemikian penting bagi para pemilik restoran, kafe, dan perusahaan produk makanan ringan guna meningkatkan kunjungan dan kesadaran produk.
Di sektor produk teknologi dan hiburan, misalnya, sebut saja gawai dan elektronik, begitu tidak dapat terpisahkan dari kebutuhan utama ulasan teknis kreator konten teknologi untuk mengintroduksi ponsel pintar, laptop, dan perangkat rumah tangga elektronik kepada para followers.
Lalu untuk aplikasi dan gim, perusahaan rintisan (startup) tidak jarang menggandeng figur publik untuk kepentingan meningkatkan jumlah unduhan (download) aplikasi atau gim baru.
Di sektor jasa dan layanan, untuk usaha pariwisata dan perhotelan, mengakui peran signifikan travel blogger mengedepankan promosi pengalaman liburan bersama hotel, tempat wisata, dan agen perjalanan.
Selanjutnya, usaha yang menawarkan kesehatan dan kebugaran, seperti pusat kebugaran (gym), produsen atau penjual suplemen, dan makanan sehat, mengandalkan jasa pembuat konten kebugaran (fitness influencer) guna membangun kredibilitasnya.
Demikian pula dengan usaha di bidang pendidikan dan pembinaan karier. Seperti lembaga kursus daring atau platform edukasi, tidak jarang menggunakan strategi bisnis dengan menggandeng figur berprestasi hasil didikannya untuk menarik minat masyarakat memercayakan putra-putri mereka menjalani proses pelatihan dan bimbingan belajar.
Dan sudah pasti, sektor komoditas dan korporat besar, juga membutuhkan sentuhan tim endorse. Di bidang usaha otomotif, peluncuran mobil atau motor baru sering melibatkan figur pencinta otomotif dalam upaya menjangkau minat komunitas penghobi.
Pun dengan para pengusaha properti, kebutuhan akan sistem endorsement tidak bisa terlepas dari perjalanan kiprah bisnisnya. Performa figur publik kelas atas dalam keterlibatannya sebagai peraga yang hadir atau mengucapkan sepatah dua patah kesaksian tentang perumahan atau apartemen mewah yang melatarbelakangi secara visual, sebagai sinyal untuk menegaskan betapa prestise hunian bersangkutan.
Alasan Utama
Semua lini usaha memerlukan tim endorse untuk membangun kepercayaan para konsumen dengan uluran waktu yang lebih efisien. Di samping itu, tim endorse juga memiliki kontribusi tidak kecil dalam proses upaya memperluas jangkauan pasar lewat strategi taktis pemasaran yang organik.
Pada era digital, terdapat fenomena kecenderungan yang menarik. Betapa tidak? Para konsumen cenderung lebih memercayai rekomendasi influencer atau figur publik atau kesaksian pengguna produk daripada iklan konvensional dari perusahaan.
Sejumlah alasan utama yang menjawab pertanyaan, kenapa setiap lini usaha membutuhkan tim endorse. Alasan membangun kepercayaan (trust and credibility), yaitu validasi sosial, para konsumen melihat figur publik yang mereka kagumi, menggunakan produk yang tengah menjadi subjek promosi.
Kemudian efek rekomendasi, karena gaya penyajian peraga endorse atau talentalebih terasa menyerupai saran atau rekomendasi tulus dari teman atau orang terdekat, dan tidak terasa sebagai paparan iklan yang agresif. Konsumen merasa tidak terdikte. Tidak seperti iklan konvensional yang terlalu menjual (hard selling).
Dengan demikian, strategi komunikasi ala talenta endorse atau figur publik, kemasan penyampaiannya secara santai, kasual, dan personal (soft selling). Paparan naratif yang tersaji tidak jarang dengan cara influencer mengisahkan pengalaman pribadinya manakala menggunakan produk yang menjadi subjek penawaran.
Melalui performa komunikasi sebagaimana laiknya obrolan sehari-hari, lebih mampu membangun kedekatan (trust) di hati para konsumen yang dapat menganggap promosi tersebut sebagai tips yang tulus dan mempersembahkan faedah bagi mereka. Bukan hanya demi keuntungan komersial semata. Di samping itu, ada susupan reputasi instan, dengan mempertalikan (terutama) antara jenama baru dan sosok personel yang telah terkenal dan tepercaya.
Alasan utama lainnya soal kontribusi tenaga endorse dalam dinamika perdagangan di era digital ini, yaitu memperluas jangkauan pasar (brand awareness), yaitu memasuki akses audiens baru, komunitas atau follower khusus dari influencer. Juga adanya penetrasi cepat penyebaran informasi produk ke ribuan orang untuk sekali unggah. Akan tetapi, perlu pemikiran tentang segmentasi tepat, dengan pemilihan influencer yang memenuhi relevansi target pasar.
Alasan utama seterusnya adalah untuk meningkatkan angka penjualan (conversion rate). Peraga endorse bisa memberikan ulasan positif yang menjadi pemicu keputusan para konsumen untuk membeli, karena menghilangkan keraguan mereka. Demonstrasi produk secara langsung memperlihatkan fungsi riilnya. Dan, hal itu kian terjembatani dengan fitur seperti tautan langsung (link swipe -up) yang menyebabkan proses belanja bergulir begitu mudah.
Alasan utama selebihnya, yaitu pertimbangan hemat biaya konten (cost-effective content). Sebab, influencer mengkreasikan konten mereka tanpa tanggungan biaya studio dari pemilik produk alias produksi mandiri. Menjadi aset pemasaran, karena hasil foto atau video dapat menemukan realisasi pemakaian lagi sebagai iklan resmi perusahaan. Di sini berlaku fleksibilitas anggaran, lantaran bisa terjadi penyesuaian kerja sama, mulai sistem barter produk hingga jalinan komitmen kontrak.
Peraga Endorse
Peraga endorse atau talenta merupakan individu, yang pada mulanya hanya figur publik. Dan dalam perkembangan selanjutnya bisa melibatkan “bukan figur publik.” Mereka memperoleh pekerjaan dari pemilik usaha (bisa daring bisa luring) untuk mempromosikan, merekomendasikan, atau memasarkan produk lewat media sosial.
Selain itu, pihak yang ingin mempromosikan produknya melalui influencer, affiliate marketer, atau brand ambassador pun tidak jarang memanfaatkan sejumlah saluran komunikasi lainnya. Seperti situs web dan blog pribadi untuk menulis artikel ulasan produk (review), panduan, atau tutorial dengan kelengkapan tautan pembelian (link affiliate).
Bisa juga melalui aplikasi pesan instan (chatting) dengan cara membagikan rekomendasi promotif suatu produk ke grup atau kanal khusus di aplikasi. Atau, kanal berbagi video (video sharing), dengan pembuatan konten video yang menayangkan performa ulasan mendalam, unboxing, atau platform media sosial.
Pilihan saluran komunikasi untuk meng-endorse suatu produk berjenama, yaitu pemasaran lewat surat elektronik (email marketing), dengan pengiriman surat kabar digital (newsletter) berkala kepada pelanggan terdaftar (subscribers) yang berisikan rekomendasi atau penawaran produk.
Alternatif saluran komunikasi lainnya, yaitu podcast (siniar). Promosi produk dalam bentuk iklan audio di tengah obrolan atau wawancara di platformm media sosial. Ada lagi forum diskusi daring, dengan pemberian rekomendasi produk yang relevan manakala menanggapi pertanyaan pengguna lain di forum digitak.
Peraga endorse yang merupakan figur publik masuk ke dalam kategori mega influencer yang memiliki lebih dari satu juta pengikut. Masih juga dalam kategori ini adalah macro-influencer, mempunyai 100.000 hingga satu juta pengikut. Fokus pada ceruk (niche) tertentu dengan reputasi kuat.
Sementara itu, peraga endorse yang bukan figur publik masuk dalam kategori micro-influencer yang mempunyai 10.000 hingga 100.000 pengikut. Biasanya memiliki tingkat interaksi (engagement rate) tinggi dengan khalayak audiensnya. Atau, masuk kategori nano-influencer, dengan kepemilikan 1.000-10.000 pengikut. Kendatipun komunitasnya relatif kecil, sangat loyal dan organik.
Sementara itu, ada yang disebut key opinion leader (KOL). Seseorang yang mendapat pengakuan sebagai pakar atau ahli, praktisi profesional, seperti dokter, pengacara, ekonom, koki tersohor. Kredibilitas mereka murni dari profesi. Mereka tidak harus aktif atau terkenal di media sosial.
Selain itu, peraga endorse juga bisa datang dari pe-review atau customer biasa. Mereka bukan figur publik, bukan pula “pegiat” media sosial. Bukan juga pakar di suatu bidang. Benar-benar konsumen organik. Pembeli riil yang menyukai suatu produk. Kemudian menulis ulasan secara sukarela di platform seperti e-commerce, Google Maps, atau media sosial tanpa imbalan.
Kelebihan memanfaatkan jasa peraga endorse atau talenta bukan figur publik, karena para pengikutnya merasa bahwa dia lebih jujur dan dekat secara emosional. Terjalin suatu interaksi erat (engagement rate), lantara komunikasi antara peraga endorse dan para pengikutnya lebih aktif serta dua arah. Apresiasi terhadap jasa terkadang cukup dengan barter produk.
Barter produk adalah salah satu bentuk kerja sama endorsement. Alurnya bermula dari pemilik toko daring melakukan penghadiahan produk (product gifting). Peraga endorse baik secara mandiri maupun mengikuti arahan timnya memberikan ulasan secara sukarela atau sesuai dengan perjanjian awal.
Sudah tentu ada opsi lain yang lebih profesional, yaitu berupa konten berbayar (paid promote/sponsored post). Peraga endorse dan tim menerima bayaran dengan tarif tertentu (rate card) untuk hasil pekerjaan mereka memfoto, memvideo, atau membuat cerita yang menghadirkan performa produk sesuai dengan pengarahan (briefing) dari pemilik jenama.
Ada pula yang menyepakati penerapan sistem komisi (affiliate marketing). Peraga endorse dan tim memperoleh komisi berlandaskan pada persentase penjualan dari kode unik atau tautan khusus yang mereka bagikan.
Sisi menarik dari profesi peraga endorse beserta tim, tatkala kerja sama dari kemampuan mereka menjadi “sutradara di balik layar” yang mempertemukan ke pelaminan seni kreativitas dengan keakurasian data bisnis. Tim endorse yang berkualitas adalah mereka yang mampu menskenariokan arah tren dan kesuksesan finansial suatu jenama.
Narasi kesuksesan yang menyenangkan bagi peraga endorse bersama timnya, hadir manakala mereka mampu menjadi trendsetter dan pengarah kreatif. Mereka mampu mengubah wajah produk yang pada mulanya biasa saja menjadi viral.
Dengan pemberian kesempatan untuk memainkan kebebasan berkreasi, tim endorse dapat menyusun konsep storytelling yang kreatif atau bahkan terbilang unik dan mempersembahkan rekomendasi organik bagi para konsumen.
Sisi menarik selebihnya, dunia media sosial bergerak begitu dinamis setiap hari. Peraga endorse dan tim yang sukses senantiasa menjadi pihak yang paling awal mampu membaca tren, filter, musik, atau platform yang paling gres. Dan, mereka pula yang menjadi pihak dengan kepemilikan akses eksklusif. Pihak pertama yang mencoba produk, sebelum resmi bergulir ke pasar.

