Kumparan Logo

Emosi Ibu Terkuras Akibat Rentetan Tragedi, Ini Cara Mengelolanya

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ibu sedih. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu sedih. Foto: Shutterstock

Belakangan ini, sejumlah peristiwa yang menyita perhatian publik turut mempengaruhi kondisi emosional para ibu. Mulai dari dugaan penganiayaan di daycare di Yogyakarta dan Aceh, hingga tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam, yang melibatkan banyak korban perempuan, termasuk ibu. Situasi ini memicu rasa cemas, takut, bahkan marah yang tidak jarang terasa berlebihan.

Menurut Little Shine Montessori School & Little Shine Psychological Services, Jovita Maria Ferliana, M.Psi, Psikolog, respons emosional tersebut merupakan hal yang wajar. Secara psikologis, ibu cenderung memiliki empati dan mekanisme identifikasi yang kuat, membayangkan bahwa kejadian serupa bisa terjadi pada diri sendiri atau anaknya.

Kondisi gerbong KRL Commuterline yang bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/4/2026). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

“Situasi seperti kecelalaan KRL dan Kejahatan di daycare memang sangat memicu respons emosional yang kuat, terutama bagi para Ibu,” ucap Jovita kepada kumparanMOM, Kamis (30/4).

Cara Mengelola Emosi di Tengah Kabar yang Memicu Kecemasan

Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:

1. Validasi emosi, jangan ditekan

Ilustrasi perempuan sedih. Foto: ViDI Studio/Shutterstock

Akui bahwa perasaan yang muncul adalah hal yang wajar. Menyadari “Saya sedang cemas karena ini menyentuh saya sebagai ibu” bisa membantu otak memproses emosi dengan lebih sehat dibandingkan menolaknya.

2. Batasi paparan informasi

Terlalu sering melihat berita atau video berulang dapat memperkuat kecemasan. Tentukan waktu khusus untuk update informasi.

“Dan hindari konsumsi berlebihan, terutama dari sumber yang tidak terverifikasi,” katanya.

3. Fokus pada hal yang bisa dikontrol

Ilustrasi ibu memeluk anak.. Foto: Shutter Stock

Alihkan perhatian pada hal-hal yang bisa dilakukan, seperti memastikan keamanan anak, berkomunikasi dengan pengasuh atau sekolah, serta memberikan edukasi sederhana pada anak.

4. Salurkan emosi secara konstruktif

Emosi perlu dikeluarkan dengan cara yang sehat, seperti menulis jurnal, berbagi cerita dengan orang terpercaya, melakukan aktivitas fisik ringan, atau latihan pernapasan.

5. Bangun rasa aman secara bertahap

Lakukan teknik grounding sederhana, seperti menarik napas perlahan atau menyadari lingkungan sekitar, untuk membantu pikiran kembali fokus pada kondisi saat ini.

6. Perkuat dukungan sosial

Berbagi dengan sesama ibu dapat memberikan rasa tidak sendirian. Namun, penting untuk menjaga agar diskusi tetap sehat dan tidak memperburuk kecemasan.

Ilustrasi perempuan sedih. Foto: Shutterstock

7. Waspadai tanda kelelahan emosional

Jika mulai sulit tidur, mudah marah, atau merasa kewalahan, itu bisa menjadi tanda bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan istirahat.

“Atau merasa kewalahan, itu tanda perlu jeda dan mungkin bantuan profesional,” sambungnya.

8. Cari bantuan profesional bila diperlukan

Jika emosi terasa sangat berat dan mengganggu aktivitas sehari-hari, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog.

Pada akhirnya, kunci dari pengelolaan emosi bukanlah menghilangkannya, melainkan memahami dan mengolahnya dengan baik. Dengan begitu, ibu tetap bisa hadir secara utuh untuk diri sendiri maupun keluarga, meski di tengah situasi yang penuh tekanan.

kumparan post embed