Tekno & Sains
·
8 April 2021 11:49

Bersaing dengan Robot!

Konten ini diproduksi oleh Armansyah
Bersaing dengan Robot! (1176)
Gambar oleh DrSJS dari Pixabay
Waspadalah! Karena saat ini persaingan tenaga kerja sangat kompleks. Bukan hanya sesama manusia, melainkan dengan robot.
ADVERTISEMENT
Jika tahun-tahun sebelumnya kita diributkan dengan banyaknya tenaga kerja asing masuk ke Indonesia, sehingga mempersempit lapangan kerja penduduk domestik. Namun kali ini lebih berat, karena kita juga harus melawan robot.
Menurut Hancock, et al., (2011), dalam artikelnya yang berjudul “Can You Trust Your Robot?”, umumnya robot diasumsikan sebagai sebuah mesin yang memiliki bentuk fisik mirip manusia dan kecerdasan buatan yang beroperasi layaknya manusia.
Namun demikian, tidak semua robot mirip dengan manusia dan tidak semua pekerjaan dapat diambil alih oleh robot.
Pekerjaan yang banyak disasar oleh robot-robot ini adalah jenis pekerjaan bersifat berulang, monoton dan administratif.
Para pemilik modal menciptakan robot untuk menghasilkan pekerja yang cepat, efesien, murah dan hasil maksimal. Mereka tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk uang pensiunan atau pesangon para robot.
ADVERTISEMENT
Beberapa bentuk robot sederhana sudah kita saksikan, mulai dari petugas jalan tol, kasir, pencetak buku, pengepak makanan, semua sudah mulai dilakukan oleh mesin-mesin robot.
Robot sebagai Lawan atau Kawan?
Ada dua paradigma terkait pertanyaan ini, yaitu paradigma positif dan paradigma negatif. Paradigma positif adalah pandangan yang menganggap robot bukan sebagai saingan, melainkan sebagai alat/kawan.
Maknanya, robot hanyalah alat yang bertujuan memudahkan pekerjaan manusia dan kawan untuk berkolaborasi.
Dalam sebuah artikel berjudul “Efficient Human-Robot Collaboration: When Should a Robot Take Initiative”, yang ditulis oleh Baraglia, et al., (2017), menyatakan bahwa kolaborasi manusia dan robot dipercaya dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas tugas sehari-hari, selain itu pula dapat membantu meringankan beban kerja manusa.
ADVERTISEMENT
Namun demikian, paradigma positif harus dibarengi dengan upaya, yaitu upaya untuk meningkatkan human capital yang selaras dengan kemajuan teknologi yang ada saat ini.
Secara sederhana paradigma positif memiliki pemikiran terbuka kepada hal-hal baru yang disertai sifat aktif. Salah satunya dengan melakukan adaptasi dengan inovasi terbaru.
Kelompok penganut paradigma positif inilah yang dapat menjadikan robot sebagai alat. Pada sisi lain, keterampilan mereka akan meningkat. Selain karena tuntutan pekerjaan juga karena kesadaran bahwa dunia terus berubah.
Sementara itu, paradigma negatif adalah kebalikan dari paradigma positif. Penganut paradigma negatif sangat skeptis melihat perkembangan dunia robot.
Mereka seolah ketakutan dengan munculnya berbagai inovasi baru. Parahnya tindakan yang mereka lakukan lebih kepada pembenaran-pembenaran yang disertai penyangkalan, bahkan kadang-kadang kekerasan.
ADVERTISEMENT
Mereka akan banyak menghasut orang lain supaya menolak hal-hal yang baru. Nafsu mereka bermaksud menahan sebuah peradaban. Padahal tidak ada yang dapat menolak peradaban baru, itu sama saja seperti membendung gelombang besar. Mungkin akan kuat untuk sementara, namun pada akhirnya pasti jebol juga.
Kita ambil contoh demo ojek pangkalan atau sopir angkot konvensional. Pada awal-awal aplikasi ojek online masuk, hampir setiap daerah terjadi gejolak. Para sopir angkot dan tukang ojek pangkalan berdemo, bahkan ada juga yang melakukan kekerasan.
Selain itu, pembagian batas-batas wilayah atau zona merah, juga diberlakukan supaya para pelaku aplikasi online ini tidak masuk ke wilayah mereka.
Pada awalnya, usaha mereka mungkin berhasil. Tapi, mereka tidak sadar bahwa masyarakat kita semakin pintar. Mereka tahu mana yang menguntungkan dan mana yang tidak. Aplikasi online secara umumnya sangat mempermudah dan menguntungkan.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, jangan heran jika ojek online, kini semakin besar. Penganut paradigma negatif menjadikan inovasi baru sebagai saingan, maka wajar saja jika akhirnya mereka dikalahkan.
Mereka belum menyadari bahwa inovasi yang diciptakan bertujuan untuk memudahkan. Inilah dua paradigma yang ada di masyarakat kita. Sejatinya kita memiliki dua pilihan ini.
Apa Pilihannya?
Saran saya pilihlah yang pertama, karena seperti yang saya katakan tadi. Tidak ada yang dapat menolak sebuah peradaban baru. Maka, adaptasilah jika tidak mau tertinggal.
Sama halnya pada saat revolusi industri pertama dimulai, semua orang berlomba-lomba ke perkotaan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.
Ladang pertanian kekurangan tenaga kerja, namun para penganut paradigma positif dapat menggunakan alat-alat hasil karya revolusi industri untuk mengarap sawah.
ADVERTISEMENT
Alhasil anggota keluarga mereka yang lain dapat melakukan pekerjaan yang lebih produktif. Entah itu bekerja di kota atau melakukan pekerjaan yang sifatnya lebih menghasilkan.
Semuanya memiliki siklus dan waktunya masing-masing. Saat ini kita tengah berada pada peradaban disrupsi dan revolusi 4.0.
Perubahan teknologi terjadi secara gila-gilaan, memberikan gelombang ketakutan dan juga harapan. Mau menjadikan robot sebagai lawan atau kawan itu pilihan kita, yang pasti mesin-mesin pintar ini akan terus bermunculan, karena sains tidak pernah tidur.
Menolak sesuatu hal baru itu boleh, namun percayalah, menyaring dan beradaptasi itu lebih baik, karena sejatinya setiap manusia memerlukan perubahan, seperti layaknya kita memiliki siklus kehidupan. Lahir-bayi-remaja-dewasa-tua, dan mati.
Referensi
Baraglia, J., Cakmak, M., Nagai, Y., Rao, R. P., & Asada, M. (2017). Efficient human-robot collaboration: When should a robot take initiative? The International Journal of Robotics Research, 36(5–7), 563–579. https://doi.org/10.1177/0278364916688253
ADVERTISEMENT
Hancock, P. A., Billings, D. R., & Schaefer, K. E. (2011). Can You Trust Your Robot? Ergonomics in Design: The Quarterly of Human Factors Applications, 19(3), 24–29. https://doi.org/10.1177/1064804611415045

sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white