Gilang, Polisi Santun Korban Bom Kampung Melayu

Bripda Imam Gilang Adinata, 24 tahun, sejak kecil bercita-cita jadi polisi. Empat tahun menjadi anggota Samapta Bhayangkara (Sabhara), Gilang bercerita kepada orang tuanya tentang tugas-tugas polisi menjaga tempat-tempat ramai.
"Biasanya tugas mengawal acara, sehari sebelumnya berjaga di Monas, lalu kemarin itu disuruh ngepos di Kampung Melayu untuk menjaga acara pawai obor Ramadhan," kata Sri Sarjono, ayah Gilang, saat ditemui di rumahnya di kawasan Menteng Dalam Jakarta, Kamis (25/5).
Menurut Sarjono, Gilang tidak nakal dan cenderung pendiam. "Karakternya santun banget, sama lingkungan juga baik," ujar dia.
Baca juga: Kronologi Bom Bunuh Diri di Kampung Melayu

Gilang sering pulang malam, sehingga jarang main. Menurut Sarjono, Gilang hanya menongkrong di depan rumah dengan para tetangga, jika bisa pulang sore.
Pada Rabu malam lalu, kata Sarjono, tak ada pesan dari anak sulungnya itu. "Tidak ada pesan apa-apa," ujar dia. Gilang menjadi korban tewas akibat terkena bom di Kampung Melayu. Gilang juga meninggalkan adik perempuannya yang akan masuk kuliah.
Baca: Pemprov DKI Beri Beasiswa untuk Adik Gilang Korban Bom Kampung Melayu
Sebelum ke Jakarta dan ikut tes polisi, Gilang menempuh pendidikan di Kecamatan Karangnongko, Klaten, Jawa Tengah. "Dua kali tes baru lolos," kata Sarjono.
Sarjono mengingat Gilang sebagai anak yang berprestasi. "Anak itu pintar, sejak Sekolah Dasar nilainya 9 terus," kata dia.
DIAH HARNI
