Revolusi Teknologi Hijau: Data Science Jadi Senjata Utama Melawan Krisis Iklim

Saya Muhammad Firdaus, mahasiswa Teknologi Sains Data, Universitas Airlangga yang memiliki minat terhadap Machine Learning dan AI. Didorong oleh komitmen terhadap inovasi, saya fokus pada penciptaan solusi yang berdampak melalui proyek berbasis data.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Firdaus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teknologi hijau kini semakin sering dibicarakan, karena peningkatan kebutuhan dunia menghadapi krisis iklim.
Salah satu bidang yang mulai menjadi pusat perhatian adalah data science, yang tidak hanya digunakan di sektor bisnis dan keuangan, tetapi juga untuk menciptakan solusi lingkungan yang berkelanjutan.
Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan big data dan machine learning semakin sering digunakan untuk menangani tantangan krisis iklim.
Mulai dari memprediksi cuaca ekstrem, meningkatkan efisiensi energi, hingga memetakan kualitas udara. Dengan kemampuannya mengolah data secara besar-besaran, teknologi ini memungkinkan pemerintah, perusahaan, dan komunitas mengambil keputusan lebih cepat serta menurut bukti.
“Data science bisa menjadi dasar dalam pengembangan teknologi hijau.
Contohnya, dengan predictive analytics, kita bisa memperkirakan penggunaan energi dan mengurangi pemborosan,” kata Dr. Raka Pratama, peneliti teknologi hijau dari Universitas Indonesia.
Salah satu penerapan yang sering dibicarakan adalah optimalisasi energi terbarukan.
Panel surya, misalnya, kini dipadukan dengan algoritma prediksi cuaca untuk meningkatkan produksi listrik di siang hari, sekaligus mempersiapkan distribusi ke jaringan listrik. Di sektor transportasi, analisis data digunakan untuk menyusun rute kendaraan listrik agar lebih hemat baterai dan ramah lingkungan.
Selain itu, data science juga membantu pemantauan lingkungan secara real-time.
Sensor kualitas udara di perkotaan bisa diintegrasikan dengan sistem analisis data untuk mengenali titik polusi tertinggi. Hasilnya, pemerintah bisa membuat kebijakan pengendalian emisi yang lebih tepat sasaran.
Indonesia sendiri mulai menunjukkan tanda-tanda berkembang di bidang ini.
Beberapa startup lokal, misalnya, sedang mengembangkan platform AI for Climate yang menganalisis data satelit untuk memantau deforestasi dan kebakaran hutan. Pemerintah juga telah menambahkan transformasi digital ke dalam agenda net zero emission 2060, termasuk pemanfaatan data science sebagai bagian dari strategi.
Namun, tantangan tetap ada.
Ketersediaan data yang belum merata, keterbatasan sumber daya manusia, dan biaya infrastruktur masih menjadi penghalang. Meski begitu, para ahli optimis dengan kerja sama lintas sektor, hambatan tersebut bisa diatasi.
“Kalau dulu green tech dianggap hanya sebatas jargon, sekarang data science menyebarkan ide tersebut lebih konkrit.
Kita tidak hanya bicara tentang idea, tetapi bentuk nyata yang didasari data,” ujar Raka.
Dengan semakin banyaknya inisiatif ini, teknologi hijau berbasis data science diharapkan bisa menjadi pilar penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi hijau di Indonesia.
