Gus Irfan Minta Jemaah Haji Tetap Jaga Kesehatan Meski Armuzna Sudah Selesai
·waktu baca 4 menit

Sebanyak 27.086 jemaah haji Indonesia dari 69 kloter telah dipulangkan ke Tanah Air. Sisanya masih menunggu giliran penerbangan. Namun ada juga yang berangkat ke Madinah pada 7 Juni untuk melaksanakan ibadah gelombang dua di sana.
Rombongan Amirul Hajj yang dipimpin oleh Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf alias Gus Irfan, telah terlebih dahulu tiba di Kota Nabi untuk memastikan segala kebutuhan jemaah haji seperti akomodasi, konsumsi, serta layanan kesehatan telah siap tersedia.
"Karena selesainya puncak haji (Armuzna) bukan berarti selesainya pelayanan haji. Secara umum apresiasi dari berbagai pihak cukup baik sehingga kita harus menjaga performa ini sampai akhir masa operasional haji," ujar Gus Irfan, dikutip Sabtu (6/6).
Rombongan Amirul Hajj telah mengunjungi dua dapur di Madinah untuk memastikan tidak ada konsumsi yang tak memenuhi syarat. Meskipun sejauh ini jemaah mengapresiasi konsumsi yang disediakan, namun jika sebulan terakhir ini pihaknya lengah maka nilai yang keluar bakal jelek.
"Kita harus terus menjaga pelayanan dan performa kita," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Gus Irfan mengimbau kepada jemaah untuk menjaga kesehatan saat beribadah meski puncak haji telah usai.
"Jaga asupan makanan, minuman, serta kegiatan-kegiatan di luar. Jangan sampai kelelahan," ucap dia.
Gus Irfan pun menekankan dua poin yang bakal menjadi fokus Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) pasca-Armuzna ini. Yang pertama adalah evaluasi Mina.
"Di Mina memang situasinya relatif lebih padat dibandingkan di Arafah, sehingga permasalahan menjadi lebih banyak. Selain itu jemaah juga tinggal lebih lama, sehingga masalah lebih banyak," katanya.
Beberapa masalah yang akan dievaluasi di antaranya adalah persoalan tenda, jemaah yang sering kehilangan arah dan terpisah dari rombongan, serta waktu melakukan lempar jumrah di Jamarot.
Fokus kedua adalah persoalan kesehatan. Ia memaparkan, Pemerintah Arab Saudi mengapresiasi pada Indonesia karena angka kematian turun jauh hingga hampir mencapai 50 persen.
"Jika tahun lalu (angka kematian) sebanyak 467, maka tahun ini tidak sampai 200 sejauh ini," ujar Gus Irfan.
Meskipun demikian, terdapat catatan terkait Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) yang penggunaannya kurang optimal. Apalagi terdapat regulasi bahwa KKHI tidak boleh menampung pasien rawat inap. Selain itu juga terdapat persoalan kekurangan dokter dan perawat.
"Kami berpikiran adanya klinik satelit (untuk rawat jalan pasien) lalu langsung ke RS. Namun ide ini akan kita matangkan lagi pasca-haji," ujar Gus Irfan.
Salat Arbain Bukan Rangkaian Ibadah Haji
Di Madinah, biasanya jemaah haji mengejar untuk beribadah salat berjemaah di Masjid Nabawi sebanyak 40 waktu. Namun, ibadah ini ternyata bukan rangkaian haji.
Jemaah haji yang belum atau tidak melaksanakan Arbain tidak usah merasa ibadah hajinya tidak sempurna atau tidak sah. Sebab salat lima waktu secara berjamaah sebanyak 40 kali berturut-turut di Masjid Nabawi, Madinah, tidak termasuk wajib atau rukun haji.
Ketua Musyrif Diny Haji 2026, KH M Cholil Nafis, mengatakan hadits yang mendasari anjuran pelaksanaan Arbain tersebut berstatus dhaif atau lemah.
”Jangan sampai merasa ragu keabsahan hajinya karena itu tak ada hubungan dengan ibadah haji untuk sah dan tidak sahnya,” kata Kiai Cholil.
Kendati berstatus dhaif, Kiai Cholil menjelaskan dalam Mazhab Imam Syafi’i, mengamalkan hadis tersebut tetap diperbolehkan. Hal ini dikategorikan sebagai fadhailul amal, yakni amalan-amalan utama untuk memperoleh keutamaan dan pahala kebaikan.
Ibadah haji, kata dia, seluruhnya bertumpu pada manasik yang dilakukan di kota suci Makkah yaitu thawaf di Baitullah, sai, dan wukuf di Arafah.
Namun demikian, kata dia, dari sisi etika dan spiritualitas seorang Muslim, rasanya kurang sopan bagi jemaah haji jika tidak menyempatkan diri mampir ke Madinah guna berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW.
Ia kemudian mengutip sebuah hadits yang berarti "barangsiapa yang berziarah kepadaku (Nabi Muhammad) setelah aku wafat, maka sama saja dengan menziarahiku pada waktu aku masih hidup."
Lebih lanjut, ia berpesan kepada para jemaah, khususnya perempuan yang kerap menghadapi kendala biologis seperti datang bulan, atau jemaah lain yang terhambat urusan teknis, agar tidak larut dalam penyesalan. Hambatan-hambatan tersebut tidak boleh mengurangi kegembiraan dan rasa syukur atas ibadah haji yang telah ditunaikan.
