Menelisik Perkembangan Praktik Sustainability di Indonesia: Perspektif ESG

FEB UIN JKT
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Ridhwan Hanafi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tren sustainability atau keberlanjutan semakin meraih banyak perhatian, terlebih lagi dengan adanya modernisasi yang menghapus tembok penghalang arus informasi yang beredar. Sekarang ini, masyarakat secara global memiliki perhatian yang tinggi terhadap lingkungan, sehingga masyarakat dan pemerintah secara global menekan perusahaan-perusahaan untuk menjalankan praktik sustainability.
Perhatian ini tidak hanya berfokus pada lingkungan, tetapi juga pada hak asasi manusia serta tata kelola perusahaan. Oleh karena itu, berbagai stakeholder seperti masyarakat, konsumen, investor, dan lainnya menekankan pentingnya penerapan praktik sustainability melalui ESG (Environmental, Social, and Governance).
Rata-rata skor ESG perusahaan di Indonesia menunjukkan tren peningkatan. Hal ini mencerminkan adanya komitmen untuk terus memperkuat praktik sustainability. Akan tetapi, terlepas dari hal tersebut, skor ESG di Indonesia masih tergolong rendah karena rata-ratanya masih berada di kisaran 50.
Dengan rata-rata skor ESG yang masih berada pada grade B- (lihat gambar di atas), dapat dikatakan bahwa komitmen perusahaan-perusahaan di Indonesia terhadap praktik sustainability masih perlu ditingkatkan. Nilai tersebut mencerminkan bahwa sebagian besar perusahaan memang telah memulai langkah menuju praktik sustainability, namun belum sepenuhnya mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola ke dalam strategi bisnis mereka.
Indonesia pun masih menjadi negara di kawasan ASEAN yang menyumbang emisi karbon dioksida (carbon dioxide emissions) paling tinggi dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Singapura. Pada tahun 2024, tingkat emisi karbon Indonesia tercatat mencapai sekitar 746,9 juta ton, jauh melampaui negara-negara lain di kawasan ASEAN.
Oleh karena itu, diperlukan komitmen yang kuat yang mana hal ini tidak hanya datang dari perusahaan, tetapi juga dari masyarakat itu sendiri. Perusahaan perlu terus meningkatkan alokasi dana research and development (R&D) agar mampu berinovasi dalam green innovation, sehingga dapat mengurangi dampak negatif proses produksinya terhadap lingkungan. Di sisi lain, masyarakat juga dapat berkontribusi melalui penerapan gaya hidup yang berkelanjutan.
