Tidur dalam Perspektif Fisiologi

Muhammad Rifqi Musyaffa
Mahasiswa kedokteran Universitas Palangka Raya
Konten dari Pengguna
7 Oktober 2022 13:22 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Muhammad Rifqi Musyaffa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT

Sebuah Penjelasan Singkat tentang Tidur

Tertidur (Sumber pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Tertidur (Sumber pribadi)
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Tidur adalah suatu proses aktif, bukan sekedar hilangnya keadaan terjaga. Tingkat aktivitas otak keseluruhan tidak berkurang selama tidur. Selama tahap-tahap tertentu tidur penyerapan O2, oleh otak bahkan meningkat melebihi tingkat normal sewaktu terjaga. Terdapat dua jenis tidur, yang ditandai oleh pola EEG yang berbeda dan perilaku yang berlainan : tidur gelombang lambar dan tidur paradoksal atau REM.
ADVERTISEMENT
Siklus tidur-bangun serta berbagai tahapan tidur disebabkan oleh hubungan timbal-balik antara tiga sistem saraf: (1) sistem keterjagaan, yaitu bagian dari reticular activating sistem yang berasal dari batang otak; (2) pusat tidur gelombang lambat di hipotalamus yang mengandung neuron tidur yang menginduksi tidur; dan (3) pusat tidur paradoksal di batang otakyang mengandung neuron tidur REM yang menjadi sangat aktif sewaktu tidur REM. Pola interaksi di antara ketiga regio saraf ini, yang menghasilkan rangkaian siklis yang dapat diperkirakan antara keadaan terjaga dan kedua jenis tidur, kini minjadi bahan penelitian intensif. Para ilmuwan saraf baru-baru ini mempelajari bahwa neuron yang membuat anda terjaga melepaskan muatan secara otonom (sendiri) dan terus-menerus. Neuron-neuron ini harus dihambat agar kita dapat tidur, mungkin oleh PPI yang dihasilkan oleh masukan dari neuron tidur atau oleh masukan inhibitorik lain. Neuron tidur REM dipercayai berfungsi sebagai tombol antara tidur gelombang lambat dan tidur REM. Bagaimanapun, mekanisme molekular yang mengontrol siklus tidur-bangun masih sangat sedikit dipahami.
ADVERTISEMENT
Siklus normal dapat mudah diinterupsi, dengan sistem yang membuat kita terjaga lebih mudah mengalahkan sistem tidur daripada kebalikannya :yaitu, lebih mudah terjaga ketika mengantuk daripada jatuh tertidur ketika terjaga penuh. Sistem keterjagaan dapat diaktifkan oleh masukan sensorik aferen (sebagai contoh, seseorang mengalami kesulitan untuk tidur jika lingkungan berisik) atau oleh masukan yang turun ke batang otak dari daerah-daerah otak yang lebih tinggi. Konsentrasi penuh atau keadaan emosi yang kuat, misalnya rasa cemas atau kegembiraan, dapat mencegah orang tidur, demikian juga aktivitas motorik, misalnya bangkit dan berjalan-jalan, dapat membangunkan orang yang mengantuk.
Meskipun manusia menghabiskan sekitar sepertiga dari kehidupan mereka dengan tidur, namun mengapa tidur sangat dibutuhkan masih merupakan misteri. Tidur tidak disertai oleh penurunan aktivitas saraf (yaitu, sel-sel otak tidak “beristirahat”), seperti dahulu diduga, tetapi disertai oleh perubahan mencolok dalam aktivitas. Walaupun masih spekulatif, studistudi terakhir menunjukkan bahwa tidur gelombang lambat dan tidur REM memiliki fungsi berbeda. Salah satu hipotesis yang diterima luas adalah bahwa tidur memberi otak waktu untuk “mengejar (catch-up)” guna memulihkan proses-proses biokimia atau fisiologis yang secara progresif mengalami penurunan ketika terjaga. Bukti paling langsung yang menunjang anggapan ini adalah peran potensial adenosin sebagai faktor tidur saraf. Adenosin, tulang punggung adenosin trifosfat (ATP), “mata uang” energi tubuh, terbentuk selama keadaan terjaga oleh neuron dan sel glia yang aktif secara metabolik.
ADVERTISEMENT
Karena itu, konsentrasi adenosin ekstrasel otak terus meningkat semakin lama seseorang terjaga. Adenosin, yang bekerja sebagai neuromodulator, telah dibuktikan melalui eksperimen dapat menghambat pusat keterjagaan. Efek ini dapat menimbulkan tidur gelombang lambat. Aktivitas pemulihan ini dipercayai berlangsung selama tidur gelombang lambat. Penyuntikan adenosin menginduksi tidur normal sementara hafein, yang menghambat reseptor adenosin di otak, membangunkan orang yang mengantuk dengan menghilangkan pengaruh inhibitorik adenosin pada pusat keterjagaan. Kadar adenosin berkurang selama tidur, mungkin karena otak menggunakan adenosin ini sebagai bahan mentah untuk memulihkan simpanan energi. Jadi, kebutuhan tidur bagi tubuh dapat disebabkan oleh kebutuhan periodik otak untuk mengganti simpanan energi yang berkurang. Karena adenosin mencerminkan tingkat aktivitas sel otak maka konsentrasi bahan kimia ini di otak dapat berfungsi sebagai ukuran seberapa banyak energi yang telah terpakai.
ADVERTISEMENT
Hipotesis “restorasi dan pemulihan” lain menyatakan bahwa tidur gelombang lambat memberi otak waktu untuk memperbaiki kerusakan akibat radikal bebas toksik yang dihasilkan sebagai produk sampingan metabolisme selama keadaan terjaga. Organ-organ lain dapat mengorbankan dan mengganti sel-sel yang rusak oleh radikal bebas tetapi hal ini tidak dapat dilakukan oleh otakyang nonregenerarif.
Teori lain yang menonjol adalah bahwa tidur, terutama tidur paradoksal, diperlukan bagi otak untuk “berganti persneling”, untuk melaksanakan penyesuaian-penyesuaian kimiawi dan struktural jangka panjang yang diperlukan untuk belajar dan mengingat, terutama konsolidasi ingatan prosedural. Teori ini dapat menjelaskan mengapa bayi memerlukan banyak tidur. Otak mereka yang sangat lentur secara cepat mengalami modifikasi-modifikasi sinaps besarbesaran sebagai respons terhadap rangsangan lingkungan. Sebaliknya, orang dewasa, yang perubahan pada sarafnya lebih terbatas, tidur lebih sedikit.
ADVERTISEMENT
Tidak banyak yang diketahui tentang kebutuhan otak akan dua jenis tidur, meskipun tampaknya otak memerlukan tidur paradoksal dalam jumlah tertentu. Orang yang secara eksperimental dikurangi jatah tidur paradoksalnya selama satu atau dua malam dengan membangunkannya setiap kali pola EEG paradola muncul tampaknya mengalami halusinasi dan menghabiskan lebih banyak waktu pada tidur paradoksal selama malam-malam berikutnya ranpa gangguan, seolaholah untuk mengganti waktu yang hilang sebelumnya.
Suatu gangguan tidur yang tidak lazim adalah narkolepsi, yang ditandai oleh serangan kantuk tak tertahankan pada siang hari yang berlangsung singkat (5 sampai 30 menit). Orang yang mengidap keadaan ini dapat tiba-tiba tidur selagi melakukan suatu aktivitas, sering tanpa peringatan. Pasien narkoleptik biasanya langsung masuk ke tidur paradoks tanpa melalui tidur gelombang lambat. Para peneliti baru-baru ini mempelajari bahwa narkolepsi berkaitan dengan disfungsi neuron-neuron yang mengeluarkan neurotransmiter eksitatorik hipokretin (juga dikenal sebagai orehsin). Yang mengejutkan, bahan kimia ini lebih dikenal sebagai sinyal perangsang nafsu makan. tetapi tampaknya juga berperan penting dalam sildus tidur-bangun. Kita telah menyelesaikan pembahasan rentang otak dan kini kita akan mengalihkan perhatian ke komponen lain sistem saraf pusat yaitu medula spinalis.
ADVERTISEMENT
Medula spinalis adalah suatu silinder panjang langsing jaringan saraf yang berjalan dari batang otak. Struktur ini memiliki panjang 45 cm (18 inci) dan garis tengah 2 cm (seukuran jempol tangan anda).
Bibliography
Guyton, A., & Hall, J. E. (2016). Textbook of Medical Physiology 13th Edition. Philadelphia: Elsevier.
Sherwood, L. (2007). Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.