Konten dari Pengguna

Vasektomi: Solusi KB untuk Kesetaraan Gender

Nabila Safira

Nabila Safira

Mahasiswa Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nabila Safira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama ini, pembahasan mengenai kesehatan reproduksi dan program keluarga berencana (KB) masih didominasi oleh peran dan tanggung jawab perempuan. Berbagai metode kontrasepsi lebih banyak ditujukan kepada perempuan, sementara laki-laki jarang dilibatkan secara aktif. Padahal, terdapat pilihan kontrasepsi yang aman dan efektif bagi pria, seperti vasektomi. Penting bagi kita untuk mengkritisi ketimpangan ini dan mendorong keterlibatan laki-laki dalam isu kesehatan reproduksi secara lebih adil dan setara.

Sumber: Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Freepik.com

Saatnya Laki-Laki Ambil Peran dalam Keluarga Berencana

Vasektomi merupakan salah satu metode kontrasepsi permanen bagi laki-laki, yaitu dengan cara memotong atau mengikat saluran vas deferens secara bilateral. Prosedur ini tergolong operasi ringan, sangat aman, efektif, dan hanya membutuhkan waktu singkat dengan bius lokal (Fitri et al., 2013).

Meskipun demikian, metode ini masih jarang dipilih oleh laki-laki. Padahal, partisipasi pria dalam program keluarga berencana bisa membantu mengurangi beban yang selama ini lebih banyak ditanggung oleh perempuan,

Jika dilihat dari perspektif gender, akses terhadap layanan kesehatan reproduksi masih menunjukkan ketimpangan. Negara cenderung lebih banyak menargetkan program KB kepada perempuan, seperti penggunaan pil, suntik, implan, dan IUD. Sementara laki-laki, yang juga memiliki peran penting dalam pengendalian kelahiran, sering kali hanya diberikan sedikit pilihan dan informasi. Akibatnya, tanggung jawab KB menjadi tidak seimbang.

Menurut artikel di Kumparan (2023), KB dengan jenis implan dapat menyebabkan perubahan pada siklus menstruasi, seperti perdarahan yang tidak teratur, menstruasi menjadi lebih lama atau lebih pendek, atau bahkan tidak mengalami menstruasi sama sekali. Selain itu, pengguna juga melaporkan munculnya flek-flek darah (spotting), terutama pada bulan-bulan awal setelah pemasangan. Efek samping lain yang sering dikeluhkan meliputi peningkatan berat badan, sakit kepala, dan perubahan suasana hati. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun KB implan efektif dalam mencegah kehamilan, penggunaannya dapat membawa dampak negatif terhadap tubuh perempuan.

Tubuh perempuan seringkali dibingkai dalam logika moral dan pembangunan. Perempuan dianggap sebagai pihak yang harus menjaga kesucian, mengatur jarak kehamilan, dan menjaga kestabilan ekonomi keluarga melalui pengendalian kelahiran. Sementara itu, tubuh laki-laki lebih jarang dijadikan objek intervensi program kesehatan reproduksi, sehingga pilihan kontrasepsi bagi pria sangat terbatas dan partisipasi mereka dalam pengendalian kelahiran masih minim.

Kondisi ini juga mencerminkan adanya kontrol negara yang tidak setara terhadap tubuh perempuan, di mana negara lebih banyak mengatur dan membatasi tubuh perempuan dengan dalih moralitas dan pembangunan, sementara tubuh laki-laki tetap relatif bebas dari intervensi. Ketimpangan ini memperkuat struktur patriarki yang melekat dalam masyarakat dan memperdalam ketidakadilan gender dalam bidang kesehatan reproduksi, sehingga perempuan tetap menjadi pihak yang paling dirugikan dan terpinggirkan dalam pengambilan keputusan terkait tubuh dan reproduksi mereka sendiri.

Program keluarga berencana harus dilihat sebagai tanggung jawab bersama antara perempuan dan laki-laki, bukan beban yang sepihak hanya dipikul oleh perempuan. Ketimpangan akses dan pilihan kontrasepsi menunjukkan perlunya perubahan paradigma yang mengedepankan kesetaraan dan keadilan dalam peran serta tanggung jawab reproduksi.

Melibatkan laki-laki secara aktif dalam program KB, termasuk melalui metode seperti vasektomi, bukan hanya memperingan beban perempuan, tetapi juga mendorong terciptanya hubungan keluarga yang lebih harmonis dan setara. Dengan demikian, upaya mencapai kesehatan reproduksi yang adil dan berkelanjutan hanya akan berhasil jika didukung oleh kesadaran dan partisipasi bersama dari seluruh anggota masyarakat tanpa terkecuali.

Referensi:

Kumparan. (2023). Efek samping KB implan yang umum dialami wanita. Kumparan. https://kumparan.com/artikel-kesehatan/efek-samping-kb-implan-yang-umum-dialami-wanita-256v5uoYxLi

Wantouw, B., Tendean, L., Skripsi, K., Kedokteran, F., & Sam, U. (n.d.). Pengaruh vasektomi terhadap fungsi seksual pria 2. 496–502. https://media.neliti.com/media/publications/68274-ID-none.pdf