Standar Kecantikan di Media Sosial: Mengapa Kita Sering Membandingkan Diri?

Mahasiswa Universitas Pamulang S1 Ilmu Komunikasi - Ketika semua pintu terasa tertutup, yakinlah masih ada pintu langit yang selalu terbuka untuk doa
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nadia Muthmainnah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Awalnya Cuma Scroll, Lama-Lama Ikut Membandingkan

Kalau dipikir-pikir, media sosial sudah jadi bagian dari keseharian kita. Bangun tidur buka Instagram, lagi makan scroll TikTok, sebelum tidur lihat-lihat konten lagi. Awalnya mungkin cuma ingin mencari hiburan, tapi ternyata apa yang kita lihat setiap hari bisa ikut memengaruhi cara kita berpikir.
Salah satunya soal kecantikan.
Coba saja perhatikan isi media sosial kita. Ada orang dengan kulit yang terlihat mulus, wajah yang simetris, tubuh yang dianggap ideal, sampai makeup yang selalu terlihat sempurna. Karena melihat hal seperti itu berulang kali, tanpa sadar kita mulai punya bayangan sendiri tentang seperti apa orang yang dianggap cantik.
Bahkan, terkadang kita mulai membandingkan diri sendiri.
"Kok kulit aku nggak semulus itu?"
"Kenapa kalau difoto wajahku kelihatan beda?"
"Kayaknya kalau badan aku seperti dia, pasti lebih bagus."
Padahal, belum tentu apa yang kita lihat di layar adalah gambaran sebenarnya.
Standar Cantik yang Terlihat Sempurna
Media sosial memang memberikan banyak hal positif. Kita bisa belajar makeup, skincare, fashion, bahkan mendapatkan informasi tentang cara merawat diri.
Tapi di sisi lain, ada standar tertentu yang terus muncul dan akhirnya terasa seperti sesuatu yang normal. Wajah tanpa jerawat, kulit glowing, badan langsing, hidung kecil, atau bentuk wajah tertentu sering kali dianggap lebih menarik.
Belum lagi adanya filter dan editing.
Kadang kita melihat seseorang dengan kulit yang benar-benar mulus, padahal mungkin di kehidupan nyata orang tersebut juga punya pori-pori, jerawat, atau bekas luka seperti kebanyakan orang.
Masalahnya, kita sebagai pengguna media sosial sering hanya melihat hasil akhirnya.
Influencer Juga Punya Pengaruh
Menurut saya, influencer juga punya peran besar dalam hal ini. Ketika seorang influencer menggunakan produk tertentu dan menunjukkan perubahan kulitnya, banyak orang akhirnya ikut tertarik. Begitu juga ketika gaya rambut, bentuk tubuh, atau makeup tertentu sedang ramai digunakan.
Tidak ada yang salah dengan mengikuti tren. Saya juga merasa wajar kalau kita ingin mencoba sesuatu yang sedang populer.
Tapi yang perlu diperhatikan adalah ketika tren tersebut membuat kita merasa harus mengikuti supaya dianggap cantik.
Padahal, kebutuhan dan kondisi setiap orang berbeda.
Skincare yang cocok untuk satu orang belum tentu cocok untuk orang lain. Begitu juga dengan bentuk tubuh atau gaya penampilan. Apa yang terlihat bagus di orang lain belum tentu harus kita miliki juga.
Masyarakat Juga Ikut Membentuk Standar
Kalau ditanya siapa yang paling bertanggung jawab membentuk standar kecantikan, menurut saya jawabannya bukan cuma media sosial atau influencer.
Kita sebagai masyarakat juga ikut membentuknya.
Ketika seseorang mendapat banyak pujian karena memiliki kulit putih, tubuh langsing, atau wajah tertentu, standar itu semakin kuat. Sebaliknya, ketika seseorang mendapat komentar negatif karena penampilannya dianggap tidak sesuai standar, orang lain bisa ikut belajar bahwa penampilan tersebut dianggap kurang ideal.
Jadi sebenarnya prosesnya berjalan dua arah.
Media sosial menampilkan suatu standar, lalu masyarakat memberikan respons. Respons tersebut kemudian membuat standar itu semakin sering muncul dan akhirnya dianggap biasa.
Tapi Standar Kecantikan Bisa Berubah
Untungnya, standar kecantikan juga bukan sesuatu yang selalu sama.
Sekarang kita mulai melihat lebih banyak orang yang berani menunjukkan kulit dengan jerawat, pori-pori, stretch mark, bentuk tubuh yang beragam, sampai wajah tanpa filter.
Kita jadi mulai memahami bahwa merawat diri tidak selalu berarti harus mengubah diri menjadi seperti orang lain. Menggunakan skincare boleh, makeup juga boleh, ingin tampil cantik juga tidak salah.
Yang penting, semuanya dilakukan karena kita memang menginginkannya, bukan karena merasa terpaksa memenuhi standar yang dibuat media sosial.
Jadi, Media Sosial Harus Disalahkan?
Tidak juga.
Media sosial hanyalah salah satu bagian dari lingkungan yang membentuk cara kita melihat sesuatu. Yang paling penting adalah bagaimana kita menyaring apa yang kita lihat.
Kalau setelah melihat konten tertentu kita merasa termotivasi untuk merawat diri, tentu tidak masalah. Tapi kalau setiap selesai scrolling kita malah merasa kurang cantik, kurang kurus, atau tidak cukup baik, mungkin sudah waktunya kita sedikit mengatur kembali apa yang kita konsumsi di media sosial.
Karena pada akhirnya, tidak semua yang terlihat sempurna di layar harus menjadi standar untuk diri kita sendiri.
Mungkin cantik memang tidak perlu punya satu definisi.
Dan menurut saya, media sosial seharusnya menjadi tempat untuk melihat berbagai macam bentuk kecantikan, bukan tempat yang membuat kita merasa harus terlihat sama.
