Konten dari Pengguna

Rasa Takut Menjadi Hiburan: Logika di Balik Popularitas Horor

NAFISA FARRAS SALSABILA

NAFISA FARRAS SALSABILA

Psychology Student of Brawijaya University

·waktu baca 5 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari NAFISA FARRAS SALSABILA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu menonton film horor sambil menutup mata, tetapi tetap mengintip di sela-sela jari? atau mungkin kamu memiliki teman yang sebenarnya takut horor tetapi tetap ikut ketika akan menonton horor? Fenomena ini sangat umum terjadi. Banyak orang yang mengaku tidak suka dengan perasaan takut, tetapi justru memilih menonton film horor, mendengarkan podcast cerita mistis, atau membaca kisah seram sebelum tidur. Fenomena tersebut menimbulkan pertanyaan yang menarik, jika rasa takut adalah emosi yang tidak menyenangkan, lantas mengapa manusia justru mencarinya sebagai hiburan?

Ilustrasi menonton film horor. Sumber: iStock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menonton film horor. Sumber: iStock

Fenomena ini menarik untuk dikaji dan dikupas secara logis. Ada sesuatu yang tampaknya bertentangan antara apa yang kita rasakan dan apa yang kita lakukan. Di satu sisi, rasa takut adalah suatu emosi yang ingin dihindari. Namun di sisi lain, manusia justru menciptakan berbagai bentuk hiburan untuk sengaja menghadirkan rasa takut itu sendiri.

Ada beberapa penjelasan yang sering dikemukakan untuk menjelaskan hal ini. Salah satu yang paling umum adalah sensasi adrenalin. Adegan menegangkan yang disajikan dalam film horor dapat memicu respons tubuh yang mirip seperti mengalami situasi bahaya, seperti detak jantung yang meningkat dan kewaspadaan yang tinggi. Bagi sebagian orang, sensasi ini terasa menyenangkan karena memberikan pengalaman emosional yang intens, mirip seperti menaiki wahana ekstrem.

Selain sensasi, rasa ingin tahu juga sering menjadi alasan. Cerita horor biasanya dibangun dengan alur yang penuh misteri dan ketegangan, sehingga membuat penonton terus-menerus bertanya apa yang akan terjadi setelahnya. Rasa penasaran ini mendorong penonton untuk tetap bertahan mengikuti alur cerita, bahkan ketika mereka merasa takut. Dalam beberapa kasus, menonton horor juga dianggap sebagai cara untuk menguji keberanian diri sendiri dan menjadikannya semacam tantangan personal untuk melihat sejauh mana seseorang mampu menghadapi rasa takutnya.

Namun, jika dipikirkan lebih jauh, penjelasan-penjelasan tersebut terasa belum sepenuhnya menjawab pertanyaan utama. Jika hanya sensasi dan rasa penasaran yang menjadi alasan, hal itu juga ada dalam banyak jenis hiburan lainnya. Lalu, apa yang membuat horor terasa berbeda?

Sejumlah penelitian dalam bidang psikologi mencoba menjelaskan hal ini dari sudut pandang yang lebih mendalam. Ditemukan bahwa ketertarikan terhadap cerita horor ternyata dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kecenderungan untuk mencari sensasi, tingkat empati, serta sensitivitas terhadap rasa takut dan jijik. Artinya, tidak semua orang merespons horor dengan cara yang sama.

Namun, yang lebih menarik adalah temuan mengenai adanya recreational fear, yaitu pengalaman menikmati rasa takut dalam konteks yang aman. Dalam suatu penelitian yang mencoba mengamati pengunjung wahana rumah hantu, ditemukan bahwa orang dapat merasakan ketakutan dan kesenangan dalam satu waktu sekaligus. Kuncinya terletak pada kesadaran bahwa ancaman yang dihadapi tidak nyata.

Dalam situasi seperti ini, rasa takut tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari, melainkan sebagai pengalaman yang dapat dinikmati. Menariknya, kenikmatan tersebut tidak muncul ketika rasa takut terlalu lemah atau terlalu kuat. Pengalaman yang menyenangkan justru ketika ketakutan berada pada tingkat yang “pas”. Hal itu terjadi pada saat ketakutan dirasa cukup menegangkan, tetapi masih dalam batas yang dapat ditoleransi.

Selain itu, pengalaman menonton horor kerap kali melibatkan perubahan emosi yang dinamis. Ketika adegan menegangkan muncul, penonton merasakan ketegangan dan kecemasan. Namun, setelah adegan tersebut berlalu, muncul rasa lega yang justru terasa menyenangkan. Dalam banyak kasus, justru rasa lega setelah ketegangan inilah yang menjadi sumber kepuasan.

Jika dilihat dari sudut pandang yang lebih logis, hal ini menunjukkan bahwa yang sebenarnya dinikmati bukan hanya rasa takut semata, melainkan keseluruhan pengalaman emosional yang menyertainya. Ketakutan menjadi semacam “pemicu”, sementara kenikmatan muncul sebagai respons setelah ketegangan tersebut mereda.

Perbedaan konteks situasi juga memainkan peran penting. Dalam kehidupan nyata, rasa takut berkaitan dengan ancaman yang harus dihindari. Namun dalam dunia hiburan, ancaman tersebut hanyalah sebuah simulasi. Penonton tetap merasa aman, meskipun tubuhnya seolah menghadapi bahaya. Kombinasi antara rasa aman dan ketegangan inilah yang menciptakan pengalaman yang unik.

Dari sudut pandang ini, horor dapat dipahami sebagai ruang simulasi emosi. Melalui film atau cerita, manusia dapat “mengalami” ketakutan tanpa harus benar-benar berada dalam situasi berbahaya. Pengalaman ini memungkinkan seseorang untuk mengenali dan merasakan emosi secara lebih intens, tetapi tetap dalam batas yang terkendali.

Meski demikian, penting untuk tidak menyederhanakan fenomena ini. Tidak semua orang menikmati horor dengan cara yang sama. Ada yang merasa terhibur, tetapi ada juga yang justru merasa tidak nyaman. Faktor seperti kepribadian, pengalaman pribadi, dan tingkat sensitivitas terhadap rasa takut sangat memengaruhi bagaimana seseorang merespons pengalaman tersebut.

Selain itu, anggapan bahwa orang yang menyukai horor semata-mata karena sensasi adrenalin juga tampaknya terlalu sederhana. Emosi, rasa ingin tahu, persepsi risiko, hingga konteks sosial pun mungkin terlibat dalam pengalaman seseorang menikmati horor. Kompleksitas inilah yang membuat fenomena ini sulit dijelaskan hanya dengan satu alasan tunggal.

Pada akhirnya, ketertarikan manusia terhadap horor menunjukkan bahwa perilaku manusia tidak selalu berjalan dengan logika yang sederhana. Justru dalam pengalaman yang tampak bertentangan seperti ini, kita dapat melihat bagaimana emosi, pikiran, dan konteks saling berinteraksi. Rasa takut, yang umumnya dihindari, dapat berubah menjadi sesuatu yang dicari.

Disitulah daya tarik horor muncul, bukan hanya sekadar menakut-nakuti, melainkan juga menawarkan pengalaman emosional yang lengkap dengan adanya ketegangan, kejutan, dan akhirnya kelegaan. Sebuah permainan antara rasa takut dan rasa nyaman yang secara tidak disadari justru dinikmati oleh manusia.

Ilustrasi menonton film horor. Sumber: iStock