Konten dari Pengguna

Ketika Anggaran Negara Meningkat, Mengapa Beban Keuangan Rumah Tangga Tetap Menjadi Persoalan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Najwa Aurelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://canva.link/g4sx3q42s6ranza
zoom-in-whitePerbesar
https://canva.link/g4sx3q42s6ranza

Secara tahunan, pemerintah melaksanakan penyaluran alokasi anggaran negara dalam skala yang sangat masif guna memenuhi beragam keperluan strategis, yang mencakup pembangunan infrastruktur, sektor pendidikan, layanan kesehatan, program bantuan sosial, serta berbagai bentuk subsidi. Anggaran itu seharusnya dipakai untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun, ada satu hal yang masih perlu kita pikirkan: meskipun anggaran negara terus bertambah, mengapa banyak keluarga masih merasa kesulitan dalam mengatur uang untuk kebutuhan sehari-hari? Bagi masyarakat, indikator utama keberhasilan pemerintah dalam tata kelola keuangan negara seharusnya tidak semata-mata diukur melalui magnitudo anggaran yang dialokasikan maupun kuantitas program yang diimplementasikan. Keberhasilan itu juga perlu dirasakan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, harga bahan pokok yang murah, biaya pendidikan dan kesehatan yang tidak terlalu memberatkan, serta penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, masyarakat jelas lebih mengharapkan perubahan yang benar-benar terjadi, daripada hanya mendengar laporan tentang jumlah anggaran yang besar dari pemerintah.

Berdasarkan laporan APBN KiTa edisi Oktober 2026, pendapatan negara sampai bulan September 2026 mencapai Rp2.341,5 triliun, yang merupakan 74,2 persen dari target yang ditetapkan. Secara paralel, realisasi belanja negara tercatat pada angka Rp2.660,5 triliun, yang merepresentasikan 69,2 persen dari total anggaran yang telah disusun dalam perencanaan. Pemerintah juga mencatat jumlah anggaran yang kurang mencapai 319 triliun rupiah. Fakta-fakta tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah menjalankan pengelolaan terhadap sumber daya negara dalam skala yang sangat masif. Namun, jumlah dana yang dikelola mungkin besar, tetapi tidak berarti semua orang sudah merasakan manfaatnya secara langsung. Di sisi lain, masyarakat tetap harus berhadapan dengan tantangan yang melanda biaya kehidupan. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa tingkat inflasi di Indonesia pada bulan September 2026 mencapai 3,28 persen jika dibandingkan dengan bulan September tahun sebelumnya. Di sisi lain, terjadi lonjakan sebesar 5,03 persen pada kelompok harga pangan yang fluktuatif. Artinya, kenaikan harga bahan makanan lebih besar daripada kenaikan harga barang lainnya secara umum. Fenomena ini tentu menjadi perhatian serius, khususnya bagi keluarga yang mayoritas pendapatan mereka dialokasikan untuk pengadaan pangan dan pemenuhan kebutuhan harian.

Bagi keluarga yang penghasilannya tidak terlalu banyak, kenaikan harga yang kecil saja bisa mengganggu pengeluaran bulanannya. Uang yang dulu cukup untuk membeli beras, minyak goreng, telur, dan kebutuhan lainnya mungkin harus diperbesar. Akibatnya, keluarga harus mengurangi pengeluaran lainnya, menunda kebutuhan tertentu, atau bahkan menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Situasi seperti ini membuktikan bahwa masalah ekonomi tidak hanya bisa dilihat dari angka pertumbuhan dan laporan keuangan negara, tetapi juga harus dilihat dari kondisi masyarakat. Untuk menghadapi masalah tersebut, pemerintah sebaiknya lebih menekankan upaya mengurangi dan mengendalikan biaya hidup rakyat. Bukan berarti terlalu cepat menghubungkan kesulitan ekonomi masyarakat dengan gaya hidup yang dianggap terlalu mewah. Perlu dipahami bahwa gaya hidup konsumtif dan tingginya biaya hidup merupakan dua persoalan yang saling berbeda. Gaya hidup adalah cara seseorang memakai uang, sedangkan biaya hidup adalah jumlah uang yang harus dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pemilihan untuk mengakuisisi barang mewah menciptakan dinamika permasalahan yang intrinsik berbeda ketika dibandingkan dengan keluarga yang mengalami kesulitan mendasar dalam memperoleh bahan pangan akibat lonjakan harga kebutuhan pokok.

Lebih menyedihkan lagi, masalah biaya hidup sering kali justru menyebabkan orang-orang saling menyalahkan di tengah masyarakat. Banyak orang mengira bahwa kesulitan ekonomi seseorang datang dari cara hidupnya sendiri. Meski demikian, bukan berarti semua orang yang merasa kesulitan keuangan itu memiliki kebiasaan belanja berlebihan. Ada orang yang setiap hari bekerja hanya agar bisa bertahan hidup, tetapi penghasilannya tetap harus dipakai untuk membeli makanan, membayar tempat tinggal, biaya transportasi, pendidikan anak, serta kebutuhan lainnya. Bagi mereka, masalahnya bukan soal membeli barang-barang mahal atau ikut tren, melainkan bagaimana memastikan uang yang dimiliki cukup sampai akhir bulan. Kita harus berhenti menyederhanakan isu ekonomi dengan mengatakan bahwa masyarakat hanya perlu mengurangi cara hidup mereka. Mengatur keuangan pribadi merupakan tanggung jawab setiap individu. Namun, tidak adil jika semua masalah ekonomi dibebankan pada masyarakat, padahal faktor-faktor lain seperti naiknya harga kebutuhan pokok, rendahnya pendapatan, sedikitnya peluang kerja, serta mahalnya biaya layanan dasar tidak mendapat perhatian yang seimbang. Kondisi memprihatinkan terkait tingginya biaya hidup patut dijadikan objek evaluasi serius oleh pemerintah, alih-alih disalahartikan sebagai indikator ketidakmampuan masyarakat dalam mengelola keuangan secara mandiri.

Pemerintah wajib menciptakan kondisi ekonomi yang memungkinkan masyarakat hidup dengan baik dan layak. Tanggung jawab itu tidak cukup diatasi hanya dengan meminta masyarakat lebih irit atau memberikan bantuan ketika situasi sudah sangat sulit. Pemerintah juga harus meninjau ulang kebijakan yang memengaruhi harga kebutuhan pokok, cara mendistribusikan barang, peluang kerja, tingkat pendapatan masyarakat, serta kemudahan akses terhadap layanan publik. Jika masyarakat terus berusaha keras namun masih kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya, maka masalah ini perlu dilihat dari sudut pandang yang lebih luas daripada hanya kebiasaan belanja seseorang. Pemerintah seharusnya memberikan respons terhadap keluhan tersebut dengan kebijakan yang benar-benar konkret, seperti menjaga harga bahan pokok tetap stabil, memperbaiki cara penyebaran barang ke masyarakat, meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan pendidikan dan kesehatan, serta menciptakan peluang kerja dengan gaji yang adil. Sebab itu, masyarakat tidak hanya diharapkan untuk lebih hemat, tetapi juga memiliki kondisi ekonomi yang membaik agar bisa memenuhi kebutuhan hidup dengan lebih baik.

Pemerintah sebenarnya sudah memberikan berbagai bentuk bantuan agar masyarakat tidak terlalu berat beban nya. Hingga bulan September 2026, bantuan sosial yang sudah diberikan mencapai jumlah sebesar Rp115,8 triliun. Sementara itu, dana subsidi dan kompensasi mencapai jumlah sebesar 376,8 triliun rupiah. Anggaran tersebut diharapkan bisa membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menghadapi naiknya harga barang. Namun, pertanyaan yang paling penting adalah apakah bantuan tersebut sudah benar-benar diterima oleh masyarakat yang membutuhkan. Apakah jumlahnya cukup membantu? Dan apakah pelaksanaannya sudah berjalan dengan baik? Pertanya terhada tersebut tersebut tersebut terhada terhada terhada terhada saran terhada saran terhada. Jika bantuan tidak tepat sasaran, masih ada keluarga yang membutuhkan tetapi justru tidak menerima bantuan itu. Begitu pula dengan subsidi. Pemerintah wajib menjamin bahwa instrumen subsidi secara substansial menyalurkan manfaat bagi masyarakat luas, melampaui sekadar statusnya sebagai pos pengeluaran dalam laporan keuangan negara. Itulah saatnya pemerintah benar-benar memperhatikan dan meninjau kembali cara mereka mengatur uang yang dimiliki. Jangan sampai sukses hanya diukur berdasarkan berapa banyak dana yang sudah habis. Yang lebih penting adalah apakah uang itu benar-benar memberi manfaat. Contohnya, dana bantuan sosial seharusnya bisa membantu keluarga memenuhi kebutuhan dasar mereka. Anggaran pendidikan perlu ditingkatkan agar kualitas pendidikan menjadi lebih baik dan membantu masyarakat lebih mudah mengakses pendidikan. Demikian pula anggaran kesehatan yang seharusnya memudahkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan.

Ini sesuai dengan konsep Value for Money, yaitu prinsip dalam mengelola uang yang menekankan penggunaan uang secara irit, efisien, dan tepat tujuan. Secara sederhana, pemerintah tidak cukup hanya menghabiskan dana sesuai rencana, tetapi juga harus memastikan bahwa hasilnya mencapai tujuan yang ditetapkan. Jika uang yang digunakan banyak, tetapi manfaatnya belum terasa oleh masyarakat, maka program tersebut perlu dinilai kembali. Oleh karena itu, beberapa hal penting perlu diperhatikan oleh pemerintah. Pertama, cara memberikan bantuan sosial perlu diperbaiki agar benar-benar sampai kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Kedua, pengelolaan uang harus lebih fokus pada kebutuhan rakyat, seperti pendidikan, kesehatan, makanan, dan pekerjaan. Ketiga, pemerintah harus lebih jujur dalam menjelaskan bagaimana uang negara digunakan supaya rakyat tahu ke mana uang itu dibelanjakan dan manfaat apa yang didapat.

Selain itu, pemerintah tidak boleh hanya mempercayakan bantuan untuk mengatasi masalah ekonomi masyarakat. Bantuan memang penting, tetapi masyarakat juga perlu memiliki kesempatan untuk mendapatkan penghasilan yang cukup. Oleh karena itu, pembuatan lapangan kerja, bantuan bagi usaha kecil, serta peningkatan kemampuan tenaga kerja harus menjadi hal yang diperhatikan. Dengan cara ini, masyarakat tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga punya kesempatan untuk memperbaiki keadaan ekonomi mereka dalam waktu yang lebih lama. Akhirnya, anggaran negara bukan hanya angka-angka yang tertulis dalam laporan pemerintah saja. Anggaran itu berasal dari sumber daya milik negara, dan penggunaannya harus dijelaskan kepada masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah harus memastikan bahwa uang yang digunakan benar-benar memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat. Meningkatnya dana pemerintah bisa menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun, besar anggaran tersebut tidak akan berguna banyak jika masyarakat masih kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Masyarakat sebenarnya perlu cerdas dalam mengatur uang yang dikeluarkan, tetapi pemerintah juga wajib bertindak tanggung jawab dalam membuat biaya hidup menjadi lebih murah. Agar tidak terjadi lagi situasi di mana masyarakat terus-menerus digalakkan untuk bersikap pelit, sedangkan akar permasalahan yang mendorong kenaikan kos sara hidup tidak menerima penyelesaian yang sepadan dan menyeluruh. Tujuan utama mengelola keuangan negara bukan hanya agar anggaran terlihat besar, tetapi agar kesejahteraan masyarakat semakin meningkat.