Self-Compassion: Rahasia Mahasiswa Sukses di Tengah Tekanan UAS

Mahasiswa S1 Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Najwa Qolbil Wafa' tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Akhir tahun bagi mahasiswa sering kali menjadi momen yang penuh tekanan. Ujian Akhir Semester (UAS) seolah menjadi penentu masa depan, membuat banyak dari kita merasa stress dan takut akan kegagalan. Tidak jarang, kita yang terjebak dalam pikiran negatif seperti, “Aku harus dapet nilai yang bagus” atau “Gimana yaa kalo hasilnya ga sesuai ekspektasi?”
Namun, apakah benar tekanan ini harus kita pikul sendirian? Gimana caranya untuk tetap tenang, percaya diri, dan peduli pada diri sendiri di tengah pergelutan pikiran ini?.
Dalam artikel ini penulis ingin memberikan tips dari kekacauan ini dengan self-compassion.
Apa itu Self-compassion?
Menurut seorang psikolog Kristen Neff dalam (Ardi et al., 2024) self-compassion adalah kemampuan untuk bersikap mengasihi dan menerima diri sendiri dalam keadaan apapun sebagai bentuk menghargai diri sendiri atau bisa disebut tindakan mengasihi diri sendiri. Sejatinya setiap orang tidak selamanya sempurna pasti ada kegagalan atau kekecewaan yang dihadapi, proses penerimaanya itulah yang disebut self-compassion. Menurut Kristen Neff juga self-compassion dibagi menjadi 3 yaitu:
Self-kindess: Bersikap baik terhadap diri sendiri, bukannya terlalu keras atau menyalahkan diri.
Common humanity: Mengingatkan bahwa kesalahan adalah bagian dari kehidupan yang dialami semua orang.
Mindfulness: Menyadari emosi negatif tanpa membiarkannya menguasai diri.
Mengapa Self-compassion itu Penting?
Saat UAS, banyak mahasiswa merasa terbebani oleh ekspektasi tinggi dan merasa takut gagal. Stress yang tak terkendali ini dapat menurunkan peforma dan bahkan dampak buruk pada kesehatan mental. Dalam jurnal (SHELEMO, 2023) mengatakan bahwa self-compassion dapat mengurangi Psychological Distress yang sering dialami mahasiswa, seperti:
Meningkatkan ketahanan mental. Mahasiswa lebih tangguh dalam menghadapi tantangan dan stres, serta lebih fokus mencari solusi daripada terjebak dalam perasaan negatif.
Mengurangi rasa terisolasi. Dengan merasa bahwa kesulitan yang dialami adalah bagian dari pengalaman manusia secara umum, kita akan merasa lebih didukung dan mendorong kita untuk mencari dukungan sosial.
Mengurangi stres dan kecemasan. Jika kita menerapkan self-compassion akan lebih mampu mengatasi kegagalan dan stress dengan cara yang lebih sehat, mengurangi kecemasan, dan rasa bersalah.
Tips Menerapkan Self-compassion saat UAS
Berbicara baik pada diri sendiri hindari self-talk negatif seperti, “Aku pasti gagal.” Ganti dengan kalimat positif seperti, “Aku sudah berusaha sebaik mungkin, dan itu cukup.”
Coba memberi perhatian penuh pada kebutuhan fisik ataupun emosional sendiri. Misalnya, jika merasa lelah beristirahatlah sejenak dan jangan merasa bersalah akan hal itu.
Beri ruang kesadaran untuk menerima perasaan negatif tanpa menghakimi diri sendiri. Cukup akui perasaan itu jangan berfokus pada perasaan negatif.
Fokus pada apa yang bisa dilakukan saat ini.
Kenali batas kemampuan tidak semua hal bisa dan harus dikuasai dalam waktu singkat. Fokuslah pada materi yang paling realistis dalam menentukan target.
Berbagi dengan teman. Jangan ragu untuk berbicara dengan teman atau meminta bantuan jika merasa kesulitan. Berbagi pengalaman dapat membantu mengurangi tekanan dan merasa lebih didukung.
Self-compassion adalah kunci untuk menghadapi tekanan UAS dengan bijak. Dengan mencintai diri sendiri, tidak hanya mengurangi stres, tetapi juga menjadi pribadi yang lebih tangguh dan optimis. Setelah UAS selesai, jangan biarkan hasil mengontrol harga diri kita. Jika hasil tidak sesuai dengan harapan, lihatlah kegagalan sebagai pelajaran bukan akhir dari segalanya. Ingatlah nilai hanyalah salah satu aspek dalam kehidupan akademik kita. Yang terpenting adalah bagaimana kita terus belajar dan berkembang. Seperti yang dikatakan Kristen Neff,
“Jadilah teman terbaik untuk dirimu sendiri, terutama saat kamu gagal.”
Selamat menghadapi UAS! Apa pun hasilnya, yakinlah bahwa kamu telah berusaha sebaik mungkin.
Referensi:
Ardi, I. Y., Feoh, N., & Jani, S. A. (2024). Pengaruh Self Compassion pada Kemampuan Penyesuaian Diri Mahasiswa Perantau. 7(1), 433–440.
Vanessa, S. R. & Ferdian, F. R. (2023). Prediksi Self-compassion Terhadap PSYCHOLOGICAL DISTRESS Pada Mahasiswa Yang Sedang Menyusun Skripsi. Jurnal Ilmiah Psikologi MANASA, 12(2), 96–109.
