Berteman dengan Sepi

Korean studies graduates. Currently working in collaboration team of kumparan.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Namira Afifah Diyana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ari Staprans Leff berbaring di rumput hijau, sendirian. Persis seperti judul lagunya, Modern Loneliness, begitulah tayangan hampir seluruh video musik penyanyi bernama panggung Lauv itu. Puncaknya adalah ketika kamera bergerak mundur memperlihatkan ternyata kesendirian itu bukan cuma dideranya: Juga didera orang-orang lain.
Kebanyakan orang mungkin ingin menghindari kesendirian tapi justru pandemi memaksanya hidup dalam kesendirian. Tak semua akan menjadi buruk, contohnya aku. Aku malah bertemu kenyamanan dalam kesepian. Tak harus repot memulai pembicaraan, tak repot memikirkan apa yang orang lain pikirkan, tak perlu juga takut kehilangan.
Just me and my fickle heart Lonely never felt so right I would go anywhere tonight
Barangkali, tumbuh dengan orang tua pekerja dan keluarga yang terpecah membuatku terbiasa dengan kesendirian sejak kecil. Suram kala itu menjadi kekuatan saat ini.
Satu-satunya teman dalam kesendirian itu adalah diri sendiri, maka jadikanlah kesendirian sebagai momen berharga untuk lebih mengenali-nya. Tanyakan pada-nya: "Bagaimana perasaanmu saat ini?"
Berkontemplasilah.
Atur emosi untuk berdamai pada masa lalu. Mengistirahatkan jiwa dan menyiapkan raga sebelum kembali pada kehidupan hustle yang melelahkan.
Bukan berarti aku mengisolasi diri sendiri, tidak. Aku bisa saja menerima ajakan nongkrong atau vidcall dari teman. Tapi tak ada salahnya aku memilih kesendirian.
Bisa jadi, sepi ini adalah zona nyaman. Tapi bertemu sepi juga bisa jadi sebuah pilihan.
