Konten dari Pengguna

Bukan karena Perang, Gelar Ayatullah Berawal dari Kisah Perceraian Raja Mongol?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Irsyad Mohammad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang pelayat memegang gambar Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei saat warga berkumpul untuk prosesi pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas pada 28 Februari dalam serangan udara Israel dan AS, di Teheran, Foto: REUTERS/Mohammed Salem
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pelayat memegang gambar Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei saat warga berkumpul untuk prosesi pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas pada 28 Februari dalam serangan udara Israel dan AS, di Teheran, Foto: REUTERS/Mohammed Salem

Ketika dunia kembali menyorot Iran akibat gelombang konflik terbaru di Timur Tengah, perhatian publik internasional tidak hanya tertuju pada kekuatan militernya, tetapi juga pada figur-figur ulama yang selama puluhan tahun membentuk arah politik Republik Islam tersebut.

Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dalam serangan udara gabungan Israel–Amerika Serikat pada 28 Februari 2026, serta prosesi pemakaman akbar untuk Ayatullah Ali Khamenei yang berlangsung pada 4–9 Juli 2026,

kembali memperkenalkan kepada dunia satu gelar yang begitu lekat dengan otoritas keagamaan Syiah: Ayatullah. Di tengah berlanjutnya ketegangan kawasan, baik di Iran maupun di Yaman yang menjadi salah satu arena persaingan geopolitik regional, nama dan gelar para ulama Syiah kembali menghiasi pemberitaan global.

Ketika dunia menyaksikan eskalasi konflik di Timur Tengah pasca serangan udara gabungan Israel-Amerika Serikat yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026, perhatian internasional kembali tertuju pada Iran dan para pemimpinnya yang bergelar Ayatullah.

Pemerintah Iran baru mengadakan prosesi pemakaman akbar terhadap Imam Ali Khamenei pada 4-9 Juli 2026, setelah situasi dianggap mulai kondusif dan ketegangan mulai mereda, pasca Penandatangan MoU Islamabad di Istana Versailles, Prancis pada 17 Juni 2026.

Walaupun kini perang Iran dengan Amerika Serikat kembali berlanjut dan kini ketegangan kembali terjadi di Iran, maupun di Yaman yang dikuasai milisi Houthi–proxy Iran di Yaman.

Gelar yang hari ini identik dengan otoritas tertinggi dalam tradisi keulamaan Syiah disandang tokoh seperti Imam Khomeini, Ali Khamenei, Murtadha Muthahhari, Baqir Sadr, Sistani, dan Mojtaba Khamenei, rupanya tidak lahir sebagai institusi formal, melainkan sebagai penghormatan intelektual yang berkembang secara historis.Pertanyaannya kemudian: sejak kapan gelar ini mulai digunakan, dan dalam konteks apa ia pertama kali muncul? Apakah gelar ini muncul karena perang Iran lawan Amerika Serikat dan Israel?

Jawaban atas pertanyaan ini tidak ditemukan dalam ruang-ruang institusi keagamaan yang mapan, melainkan justru dalam sebuah episode yang tak terduga: sebuah perdebatan di istana penguasa Mongol di Persia abad ke-14M, yang berawal dari kisah pribadi seorang Raja Mongol yang sedang galau berat karena asmara.

Debat Teologi yang Mengubah Segalanya

Sejarah suatu peradaban sering berjalan dengan cara yang unik. Kadang sebuah perubahan besar justru lahir dari peristiwa yang tak terduga: kisah seorang raja yang gelisah, galau, dan merana.

Syahdan kisah ini bermula di awal abad ke-14, ketika Persia diperintah oleh Dinasti Ilkhanate, cabang kekaisaran Mongol yang menguasai wilayah Iran, Irak, dan sekitarnya. Salah satu penguasa penting dan berpengaruh dalam sejarah Dinasti Ilkhanate adalah Öljaitü, yang setelah masuk Islam dikenal dengan nama Mohammad Khodabandeh.

Khodabandeh adalah sosok yang unik. Ia bukan hanya seorang raja, tetapi juga seorang pencari kebenaran. Dalam hidupnya ia berpindah-pindah keyakinan: pernah menjadi Buddha, lalu Kristen Nestorian (aliran yang kini telah punah), kemudian memeluk Islam Sunni, dan pada akhirnya tertarik pada Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah).

Menurut berbagai riwayat klasik, perubahan besar dalam hidupnya bermula dari sebuah masalah rumah tangga: perceraian. Dikisahkan bahwa Khodabandeh pernah murka kepada istrinya dan menjatuhkan talak tiga dalam satu waktu secara sepihak. Dalam fiqih Sunni yang dominan pada masa itu, talak tiga sekaligus dianggap sah dan final. Artinya, pasangan tersebut tidak bisa rujuk kembali kecuali sang istri menikah dengan laki-laki lain terlebih dahulu.

Keputusan ini membuat Syah Khodabandeh sangat menyesal. Ia ingin kembali kepada istrinya, tetapi para ulama Sunni di istana menegaskan bahwa hukum talak tersebut tidak dapat dibatalkan.

Di tengah kegalauannya, seorang pembesar istana menyampaikan informasi bahwa ada ulama yang memiliki pendapat berbeda dengan para ulama empat mazhab Sunni. Ia adalah Jamaluddin al-Hasan ibnu Yusuf ibnu Ali ibnu al-Muthahhar al-Hilli, atau dikenal sebagai "Allamah Al-Hilli." Pada masa itu, gelar Allamah disematkan kepada ulama besar dengan kapasitas keilmuan yang mumpuni. Al-Hilli saat itu sudah dikenal sebagai ulama besar mazhab Syiah 12 Imam.

Khodabandeh yang tidak puas dengan pendapat para ulama Sunni dan mendengar reputasi Al-Hilli kemudian tertarik mengundangnya untuk debat fiqih di istana. Maka, nama Allamah Al-Hilli pun muncul dalam lembaran sejarah Persia.

Kisah Sepatu dan Sindiran Jenaka di Istana

Ilustrasi Allamah Al-Hilli di Istana Ilkhanate sambil memegang Kitab dan menjepit sepatu di ketiaknya di depan para ulama dari 4 mazhab fiqih Sunni dan depan Shah Khodabandeh. Sumber gambar: gambar buatan AI.

Ketika undangan itu tiba, Allamah Al-Hilli berangkat menuju Istana Ilkhanate di Kota Sultaniyah, dekat Tabriz di Iran barat laut. Namun sebelum memasuki majelis debat yang megah itu, terjadilah sebuah insiden kecil yang kemudian menjadi cerita terkenal dalam tradisi lisan dan historiografi para ulama Syiah.

Al-Hilli masuk ke aula istana dengan membawa sepatunya di tangan, bukan meninggalkannya di luar seperti kebiasaan para tamu kehormatan.

Sang raja yang duduk di singgasana merasa heran melihat kelakuan ulama itu. Ia lalu bertanya, “Wahai syekh, mengapa engkau membawa sepatu ke dalam majelis kami? Apakah tidak ada tempat yang layak untuk meninggalkannya di luar?”

Al-Hilli tersenyum dan menjawab dengan nada tenang namun tajam, "Aku khawatir, Paduka, sepatu ini akan dicuri oleh pengikut Abu Hanifah. Sebagaimana dulu mereka mencuri sepatu Rasulullah."

Para ulama mazhab Hanafi yang hadir di majelis itu langsung berang, terkejut, dan protes. Salah seorang dari mereka berdiri dan berkata, "Itu tuduhan yang mustahil! Abu Hanifah hidup pada abad kedua Hijriah, jauh setelah masa Nabi. Bagaimana mungkin pengikutnya mencuri sepatumu sekarang?"

Al-Hilli berpaling kepada mereka dan berkata, "Kalau begitu, mungkin pengikut Malik bin Anas yang akan mencurinya."

Para ulama mazhab Maliki pun ikut membantah, "Imam Malik juga hidup setelah masa Nabi, tidak mungkin pengikutnya melakukan itu!"

Al-Hilli kembali berkata, "Kalau begitu, mungkin pengikut Syafi'i."

Sekali lagi para ulama mazhab Syafi'i membantah dengan alasan yang sama bahwa imam mereka hidup belakangan.

Akhirnya Al-Hilli berkata, "Mungkin pengikut Ahmad bin Hanbal."

Kemudian para ulama mazhab Hanbali membantah dengan alasan yang sama bahwa imam mereka hidup belakangan.

Setelah semua ulama dari empat mazhab membantah dan menyatakan bahwa para imam mereka hidup lama setelah Nabi Muhammad SAW, Al-Hilli kemudian berdiri dan berkata kepada raja:

"Paduka, dengarlah. Mereka semua mengakui bahwa imam-imam mazhab mereka hidup jauh setelah masa Rasulullah SAW. Mereka tidak pernah bertemu Rasulullah SAW, tidak pernah menerima wahyu, dan ijtihad mereka adalah hasil pemikiran manusia biasa yang lahir berabad-abad setelah Islam muncul. Lalu mengapa kalian mengikuti mereka?"

Lantas ruangan pun menjadi sunyi.

Al-Hilli melanjutkan, "Sedangkan kami, pengikut Ahlul Bait, meyakini bahwa ajaran yang kami pegang berasal dari keluarga Nabi Muhammad SAW sendiri–dari Sayyidina Ali, Sayyidah Fatimah, Hasan, Husain, dan para imam yang mewarisi ilmu Nabi secara langsung. Merekalah yang hidup bersama Nabi, mendengar sabdanya, dan memahami maksud Al-Qur'an dengan bimbingan wahyu."

Para ulama Sunni terdiam. Sang raja mulai termenung memikirkan logika yang baru saja didengarnya. Satire Al-Hilli mengandung pesan teologis penting yang ditangkap Syah Khodabandeh: klaim Syiah bahwa mereka mengikuti ajaran langsung dari Ahlul Bait yang dekat dengan Nabi, berbeda dengan mazhab Sunni yang dinilai sebagai hasil ijtihad ulama di kemudian hari.

Perdebatan di Istana Ilkhanate

Usai prolog jenaka yang membekas di hati sang raja, tibalah pada perdebatan inti yang sesungguhnya. Allamah Al-Hilli berhadapan dengan para ulama dari empat mazhab Sunni: Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali. Perdebatan ini bukan sekadar diskusi ilmiah biasa, melainkan berlangsung di hadapan seorang raja Mongol yang memiliki kekuasaan atas seluruh Persia.

Dalam tradisi Syiah, perdebatan ini sering diceritakan dengan nuansa dramatis. Ketika para ulama Sunni datang dengan membawa berbagai kitab tebal mereka, Allamah Al-Hilli datang hanya dengan membawa Al-Qur'an dan karya-karya Hadits Ahlul Bait. Ia kemudian mulai membahas persoalan talak yang menjadi kegelisahan sang raja.

Menurut fiqih Syiah I2 Imam, talak tiga sekaligus yang dinyatakan secara sepihak dalam keadaan emosi tidak dianggap sebagai talak tiga yang sah. Talak harus dilakukan secara bertahap dengan prosedur tertentu, termasuk adanya dua saksi yang adil, dan tidak boleh dijatuhkan dalam keadaan marah. Oleh karena itu, talak yang dijatuhkan Khodabandeh dianggap tidak sah menurut hukum Syiah.

Al-Hilli kemudian mengemukakan argumentasi dari Al-Qur'an dan Hadits untuk mendukung pandangannya. Ia mengutip firman Allah dalam surat Al-Baqarah:

“Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan (rujuk) dengan cara yang patut atau melepaskan (menceraikan) dengan baik.” (QS. Al-Baqarah: 229).

Ayat ini, menurut Al-Hilli, menunjukkan bahwa talak dilakukan secara bertahap—bukan sekaligus tiga kali. Tafsir ini menekankan adanya jeda dan kesempatan berdamai di antara setiap tahapan talak.

Ia juga mengkritik berbagai kontradiksi dalam pendapat ulama Sunni tentang talak. Perdebatan ini berlangsung panjang, mungkin berhari-hari. Menurut berbagai sumber Syiah, argumentasi Al-Hilli akhirnya dianggap lebih kuat oleh Syah Khodabandeh. Sang raja Mongol itu pun terkesan.

Kemenangan Al-Hilli dalam debat dan kecerdasannya membuat banyak orang berdecak kagum. Ia kemudian dijuluki "Ayatullah" yang berarti tanda-tanda Allah di antara makhluk-Nya. Tanda yang dimaksud di sini berupa tanda keluasan pengetahuan dalam ilmu dan agama yang Allah SWT berikan kepada ciptaan-Nya. Mereka yang menjuluki Al-Hilli dengan sebutan ini mengambil landasan dari QS. Al-Fushilat: 53, tentang tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di segala penjuru.

Kendati demikian, para sejarawan modern mencatat bahwa gelar "Ayatullah" baru populer dan digunakan secara luas pada abad ke-20, terutama pasca Revolusi Islam Iran 1979. Gelar ini kemudian disematkan pula kepada Al-Hilli oleh ulama-ulama masa sesudahnya sebagai bentuk penghormatan, karena ia dianggap sebagai figur pertama yang mencerminkan makna "tanda-tanda Tuhan" berkat keluasan pengetahuannya dalam ilmu-ilmu agama dan hikmah. Namun tradisi historiografi Syiah tetap meyakini bahwa cikal-bakal gelar ini lahir dari peristiwa di Istana Ilkhanate tersebut.

Dari sinilah sebagian sejarawan menelusuri penggunaan awal gelar Ayatullah sebagai penghormatan bagi ulama besar; meski saat itu belum menjadi gelar formal seperti sekarang, melainkan lebih merupakan pujian intelektual atas kapasitas seseorang sebagai “tanda kebesaran Tuhan dalam ilmu dan hikmah.” Namun dari titik inilah gelar tersebut perlahan berkembang. Berabad-abad kemudian, ia menjadi salah satu jenjang tertinggi dalam hierarki keulamaan Syiah, disandang tokoh-tokoh seperti Ayatullah Khomeini, Ali Khamenei, Mojtaba Khmanenei, Murtadha Muthahhari, Ali Sistani, dan Baqir Sadr.

Kemenangan Debat dan Dampaknya

Syah Khodabandeh kemudian pindah mazhab menjadi Syiah Dua Belas Imam. Perpindahannya membawa dampak besar bagi kehidupan umat Syiah di Persia, karena mengawali legitimasi negara atas penyebaran paham Syiah pada abad ke-14 Masehi.

Beberapa kota mulai menjadi pusat pembelajaran Syiah, dan karya-karya ulama seperti Al-Hilli tersebar luas. Bahkan Syah Khodabandeh memerintahkan Al-Hilli untuk menulis sebuah buku membela doktrin imamah Syiah. Maka Al-Hilli menuliskan Minhaj al-Karamah fi Ma'rifat al-Imamah (Jalan Kemuliaan dalam Memahami Imamah)—sebuah kitab yang menjadi karya besar (magnum opus) Al-Hilli.

Karya ini sangat berpengaruh dan kontroversial di masanya, hingga Ibnu Taimiyah membuat bantahan atas kitab ini dengan menulis Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah (Jalan Sunnah Kenabian) untuk membela doktrin Sunni dan menyerang paham Syiah. Kitab Ibnu Taimiyah ini besar pengaruhnya dan hingga kini menjadi rujukan utama bagi kalangan Salafi dalam memahami dan pada umumnya menolak doktrin Syiah.

Selain itu, disebutkan bahwa Khodabandeh memerintahkan agar nama dua belas Imam dicetak pada koin-koin kerajaan dan dikumandangkan dalam khutbah Jumat di beberapa wilayah. Ini adalah langkah politik yang cukup berani di tengah masyarakat yang mayoritas masih Sunni.

Namun penting dicatat bahwa Iran pada masa itu belum sepenuhnya menjadi negara Syiah. Mayoritas masyarakatnya masih Sunni, dan proses perubahan ini berlangsung perlahan selama beberapa abad. Baru pada abad ke-16, ketika Dinasti Safawi berkuasa di Iran, mazhab Syiah 12 Imam dijadikan sebagai agama resmi negara. Di bawah pemerintahan Shah Ismail I, Iran secara resmi berubah menjadi kerajaan Syiah.

Meski demikian, banyak sejarawan melihat bahwa fondasi intelektual bagi perubahan ini sudah diletakkan jauh sebelumnya, termasuk oleh tokoh seperti Allamah Al-Hilli dan momen perdebatan di istana Ilkhanate ini.

Warisan Seorang Ulama

Allamah Al-Hilli wafat pada tahun 1325 di kota Hillah, Irak. Ia meninggalkan ratusan karya ilmiah dalam bidang fiqih, teologi, dan filsafat. Banyak konsep penting dalam fiqih Syiah yang dibakukan melalui tulisannya. Ia juga yang pertama kali menyusun sistematika fiqih Syiah secara komprehensif, yang kemudian menjadi rujukan hingga kini.

Putranya, Fakhrul Muhaqqiqin, juga menjadi ulama besar. Demikian pula murid-muridnya yang tersebar di berbagai wilayah, menyebarkan ajaran Syiah ke seluruh Persia dan Irak. Memang, Iran baru resmi menjadi negara Syiah dua abad kemudian, ketika Syah Ismail I dari Dinasti Safawi menetapkan mazhab Syiah 12 Imam sebagai agama resmi pada abad ke-16. Namun fondasi bagi perubahan itu sudah diletakkan Al-Hilli jauh sebelumnya.

Tetapi mungkin warisan yang paling menarik dari kisah hidupnya adalah bagaimana seorang ulama dari kota kecil di Irak bisa mempengaruhi arah sejarah Persia. Sebuah sindiran jenaka tentang sepatu, sebuah perdebatan di istana Mongol, sebuah gelar kehormatan yang lahir dari kekaguman, dan sebuah perubahan keyakinan pribadi, semua itu perlahan ikut membentuk perjalanan panjang Syiah di Iran.

Sejarah sering menunjukkan bahwa perubahan besar, terutama dalam kehidupan beragama suatu bangsa, tidak selalu dimulai dari perang atau revolusi. Kadang ia dimulai dari kisah asmara seorang raja yang tengah galau.

Dari kisah sejarah yang unik ini, kemudian muncul sebuah gelar yang menjadi simbol otoritas ulama Syiah hingga hari ini: Ayatullah.