Era Ketika Semua Orang Terlihat Pintar

Dosen Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pattimura Ambon
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari El-Roi R Madubun tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sesuatu yang paradoksal dalam cara manusia memperoleh pengetahuan di zaman internet. Kita hidup pada masa ketika pengetahuan tidak pernah semudah ini ditemukan, tetapi pada saat yang sama tidak pernah semudah ini disalahpahami. Mesin pencari, media sosial, jurnal digital, buku elektronik, podcast, video edukasi, dan kecerdasan artifisial telah membuat informasi tersedia hampir tanpa batas.
Seseorang yang memiliki telepon pintar dapat dalam hitungan menit menemukan penjelasan mengenai teori sosial, membaca ringkasan penelitian psikologi, mengikuti kuliah filsafat, mencari data ekonomi, atau mengetahui perkembangan penelitian terbaru tentang perubahan iklim. Batas antara ruang akademik dan ruang publik semakin tipis. Pengetahuan yang dahulu tersimpan di perpustakaan, ruang seminar, dan jurnal ilmiah kini beredar di linimasa setiap orang. Namun kelimpahan tersebut melahirkan persoalan baru: ketika akses terhadap informasi menjadi semakin egaliter, otoritas untuk menjelaskan informasi tersebut justru semakin diperebutkan.
Orang yang paling banyak diketahui publik belum tentu orang yang paling mengetahui, sementara orang yang paling kompeten belum tentu orang yang paling banyak didengar. Di antara keduanya muncul figur baru yang menarik dalam masyarakat digital: thoughtfluencer, yaitu mereka yang membangun pengaruh melalui gagasan, pengetahuan, interpretasi, dan kemampuan berbicara tentang berbagai persoalan intelektual. Mereka dapat menjadi jembatan yang sangat berguna antara pengetahuan akademik dan masyarakat, tetapi sekaligus memperlihatkan bagaimana dalam ekonomi perhatian, kemampuan terlihat berpengetahuan dapat memperoleh nilai sosial yang hampir sama pentingnya dengan kemampuan benar-benar mengetahui.
Dari Kelangkaan Informasi ke Kelangkaan Perhatian
Perubahan ini dapat dipahami melalui gagasan Herbert Simon tentang kelangkaan perhatian. Persoalan masyarakat modern bukan lagi sekadar bagaimana memperoleh informasi, melainkan bagaimana memilih informasi yang layak mendapatkan perhatian ketika jumlahnya jauh melebihi kemampuan manusia untuk mengonsumsinya. Internet telah mengubah informasi menjadi sesuatu yang berlimpah, sementara perhatian tetap terbatas. Manusia tetap hanya memiliki waktu, konsentrasi, dan energi kognitif yang terbatas, sehingga informasi harus bersaing untuk mendapatkan perhatian.
Dari sinilah ekonomi perhatian bekerja. Dalam lingkungan digital, sebuah gagasan tidak hanya harus benar atau informatif; ia juga harus menarik, mudah dipahami, mudah dibagikan, dan mampu mempertahankan perhatian. Algoritma tidak mempunyai kepentingan epistemologis untuk menemukan siapa yang paling kompeten dalam menjelaskan suatu persoalan. Algoritma lebih berkepentingan terhadap apa yang membuat manusia berhenti menggulir layar, menonton lebih lama, memberi tanda suka, berkomentar, membagikan, atau kembali lagi. Akibatnya, terdapat pergeseran yang sangat penting yaitu visibilitas mulai berfungsi sebagai sumber legitimasi.
Orang yang sering terlihat menjelaskan sesuatu dapat perlahan-lahan dianggap sebagai orang yang memang mengetahui sesuatu. Popularitas tidak lagi hanya menjadi akibat dari kredibilitas. Dalam ekosistem media sosial, popularitas dapat berubah menjadi sumber kredibilitas itu sendiri. Jumlah pengikut, jutaan tayangan, komentar, dan viralitas kemudian menjadi semacam bukti sosial bahwa seseorang layak didengarkan, meskipun angka-angka tersebut pada dasarnya mengukur perhatian, bukan kebenaran.
Di sinilah ekonomi perhatian menciptakan kondisi sosial yang memungkinkan lahirnya otoritas baru: bukan semata-mata otoritas yang diperoleh melalui pendidikan, penelitian, dan kompetensi, tetapi otoritas yang terbentuk melalui kemampuan memenangkan kompetisi atas perhatian publik.
Ketika Membaca Tidak Lagi Hanya untuk Mengetahui
Menariknya, ekonomi perhatian tidak serta-merta membuat manusia berhenti membaca. Justru internet dapat meningkatkan dorongan untuk mencari referensi, membaca buku, menonton kuliah, membuka jurnal, dan mengumpulkan informasi. Seseorang menemukan sebuah gagasan di media sosial, merasa tertarik, kemudian mencari buku yang membahasnya; membaca sebuah buku dapat mendorongnya mencari penelitian lain; sebuah podcast dapat mengantarkan seseorang kepada karya seorang filsuf; sebuah video dapat menjadi pintu masuk menuju bidang pengetahuan yang sebelumnya tidak pernah disentuh.
Dalam pengertian ini, internet menciptakan sirkulasi pengetahuan yang jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Namun persoalannya terletak pada orientasi membaca. Ada perbedaan antara membaca untuk memahami dan membaca untuk memproduksi konten. Ketika pengetahuan masuk ke dalam ekonomi perhatian, buku, jurnal, dan penelitian dapat berubah menjadi bahan baku untuk produksi konten. Seseorang tidak hanya bertanya, "Apa yang sebenarnya dikatakan buku ini?," tetapi juga, "Apa yang menarik dari buku ini untuk saya ceritakan kepada orang lain?" Pergeseran tersebut tidak selalu buruk. Kemampuan menerjemahkan pengetahuan kompleks menjadi bahasa publik merupakan keterampilan intelektual yang penting.
Persoalannya muncul ketika proses membaca berubah menjadi pengumpulan potongan-potongan informasi yang dapat dipertontonkan. Seseorang mungkin membaca banyak buku, tetapi hanya mengingat kutipan-kutipan yang menarik; membaca penelitian, tetapi hanya mengambil satu angka; mengenal teori, tetapi tidak memahami perdebatan yang melatarbelakanginya. Inilah yang dapat disebut sebagai budaya knowledge snacking: masyarakat mengonsumsi potongan-potongan pengetahuan seperti camilan—sedikit filsafat, sedikit psikologi, sedikit ekonomi, sedikit sejarah, sedikit neuroscience—sehingga seseorang dapat memiliki kesan bahwa dirinya mengetahui banyak hal tanpa pernah benar-benar membangun pemahaman yang mendalam terhadap satu persoalan. Perbedaan antara information accumulation dan knowledge formation menjadi semakin penting. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik, tetapi pengetahuan membutuhkan proses yang jauh lebih lambat: membaca secara utuh, memahami konteks, membandingkan sumber, menguji argumen, mengenali kelemahan, dan mempertahankan kemampuan untuk meragukan kesimpulan sendiri.
Thoughtfluencer dan Industri Penampilan Intelektual
Di ruang inilah thoughtfluencer memperoleh kekuatan sosialnya. Mereka berada di antara dunia pengetahuan dan dunia popularitas, menjadi semacam mediator yang menerjemahkan buku, penelitian, teori, dan gagasan menjadi bahasa yang lebih mudah dikonsumsi masyarakat. Dalam bentuk terbaiknya, peran ini sangat berharga. Tidak semua orang memiliki waktu untuk membaca ratusan halaman buku filsafat atau puluhan halaman jurnal akademik, sehingga seseorang yang mampu menjelaskan gagasan kompleks dengan bahasa sederhana dapat memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan.
Namun persoalan muncul ketika kemampuan mengomunikasikan pengetahuan mulai disamakan dengan penguasaan pengetahuan itu sendiri. Di sinilah pemikiran Pierre Bourdieu mengenai cultural capital dan symbolic capital menjadi relevan. Pengetahuan, kemampuan membaca, kemampuan menggunakan istilah akademik, kemampuan mengutip buku, serta kemampuan berbicara tentang isu intelektual dapat dikonversikan menjadi modal simbolik. Media sosial memperluas kemungkinan konversi tersebut karena modal budaya dapat ditampilkan secara terbuka dan kemudian dikonversikan menjadi pengikut, reputasi, jaringan sosial, peluang ekonomi, bahkan otoritas.
Erving Goffman membantu menjelaskan dimensi lainnya melalui konsep impression management. Media sosial menyediakan panggung tempat seseorang dapat mengonstruksi citra tertentu tentang dirinya: seorang pembaca, pemikir, kritikus, pengamat sosial, atau intelektual publik. Rak buku, kutipan filsuf, potongan jurnal, ruang kerja, podcast, diskusi, dan cara berbicara tertentu menjadi bagian dari front stage yang membentuk kesan mengenai siapa seseorang.
Penonton tidak melihat seluruh proses di belakang panggung; mereka hanya melihat performa akhirnya. Karena itu, masyarakat digital menghadapi perbedaan yang semakin sulit dibedakan antara being knowledgeable dan looking knowledgeable. Seseorang dapat benar-benar berpengetahuan sekaligus pandai menampilkan pengetahuannya, tetapi seseorang juga dapat memiliki pengetahuan yang terbatas namun sangat mahir menciptakan kesan intelektual.
Ketika algoritma memberikan penghargaan kepada performa yang menarik, kemampuan membangun kesan tersebut menjadi semakin bernilai. Pada titik tertentu, kepakaran tidak lagi hanya diproduksi melalui penelitian, tetapi juga melalui pertunjukan sosial mengenai kepakaran.
Mengapa Kita Lebih Percaya Orang yang Terlihat Tahu?
Persoalan tersebut semakin kompleks karena manusia tidak selalu menilai informasi melalui pemeriksaan mendalam terhadap bukti. Dalam psikologi komunikasi, Elaboration Likelihood Model menunjukkan bahwa orang dapat memproses pesan melalui jalur yang lebih mendalam atau melalui berbagai petunjuk perifer. Ketika seseorang memiliki waktu, motivasi, dan pengetahuan yang cukup, ia dapat memeriksa kualitas argumen, bukti, metodologi, dan konsistensi logis sebuah klaim. Tetapi ketika berhadapan dengan arus informasi yang sangat besar, manusia cenderung menggunakan jalan pintas kognitif. Kita melihat siapa yang berbicara, bagaimana ia berbicara, seberapa terkenal dirinya, berapa banyak orang yang mengikutinya, dan apakah ia terlihat meyakinkan.
Di sinilah source credibility, social proof, dan hubungan parasosial bekerja. Seseorang dapat dipercaya bukan semata-mata karena argumennya telah diverifikasi, tetapi karena ia dianggap memiliki expertise dan trustworthiness. Jumlah pengikut kemudian menjadi semacam sinyal sosial; jika jutaan orang mengikuti seseorang, kita cenderung menganggap bahwa pasti ada alasan mengapa ia dipercaya. Hubungan parasosial memperkuatnya. Setelah mengikuti seseorang selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, penonton dapat merasa mengenal figur tersebut, memahami cara berpikirnya, dan akhirnya mempercayainya seperti mempercayai seseorang yang dikenal secara personal.
Kepercayaan terhadap figur kemudian ditransfer kepada gagasan yang ia sampaikan. Masalahnya, perceived expertise tidak selalu sama dengan actual expertise. Orang dapat terlihat ahli karena mampu menggunakan bahasa yang meyakinkan, mengutip banyak referensi, berbicara dengan percaya diri, atau memiliki popularitas tinggi. Sementara itu, kompetensi sebenarnya membutuhkan hal-hal yang tidak mudah terlihat di layar: pendidikan dan pengalaman yang relevan, pemahaman metodologis, kemampuan membaca sumber primer, pengetahuan mengenai perdebatan dalam suatu disiplin, serta kemampuan mengakui keterbatasan argumennya.
Bahkan teori Dunning–Kruger dapat membantu menjelaskan satu paradoks psikologis yang lebih luas: dalam bidang yang tidak dikuasai, seseorang dapat kesulitan menyadari sejauh mana sebenarnya batas pengetahuannya. Internet memperbesar masalah ini karena hampir setiap pertanyaan memiliki jawaban yang dapat ditemukan dalam hitungan detik. Kita kemudian dapat mengalami ilusi bahwa karena kita mampu menemukan jawaban, kita telah memahami persoalannya. Padahal kemampuan menemukan informasi bukanlah kemampuan memahami pengetahuan.
Krisis Otoritas atau Demokratisasi Pengetahuan?
Meskipun demikian, fenomena ini tidak seharusnya dibaca secara sederhana sebagai kehancuran otoritas akademik atau sebagai bukti bahwa masyarakat semakin bodoh karena mempercayai influencer. Yang sedang terjadi sebenarnya lebih kompleks yaitu monopoli institusi terhadap distribusi pengetahuan sedang melemah.
Universitas tetap memiliki peran penting dalam menghasilkan pengetahuan melalui penelitian, metodologi, peer review, dan tradisi akademik, tetapi tidak lagi memiliki monopoli terhadap perhatian publik. Seorang akademisi dapat memiliki kompetensi yang luar biasa namun gagal memperoleh perhatian, sementara seorang pembuat konten dapat memperoleh jutaan penonton karena memiliki kemampuan komunikasi yang jauh lebih efektif. Ini bukan semata-mata pertarungan antara akademisi dan influencer, melainkan perubahan dalam mekanisme pembentukan otoritas sosial.
Dulu legitimasi lebih banyak bergerak dari institusi kepada individu; sekarang legitimasi dapat bergerak dari publik kepada individu melalui popularitas, engagement, dan visibilitas. Tantangan yang muncul bukan bagaimana mengembalikan monopoli pengetahuan kepada para pakar, melainkan bagaimana membangun masyarakat yang mampu membedakan antara popularitas dan kompetensi, antara informasi dan pengetahuan, antara opini dan bukti, serta antara kemampuan menjelaskan dan kemampuan memahami.
Di sinilah kebutuhan terhadap literasi epistemik menjadi semakin penting. Literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan bagaimana mencari informasi; masyarakat perlu diajarkan bagaimana menilai dari mana informasi berasal, bagaimana bukti diperoleh, apa metodologinya, siapa yang mempunyai kompetensi untuk berbicara, apa batas pengetahuannya, dan apakah klaim yang disampaikan benar-benar didukung oleh sumber yang memadai.
Tantangan ini menjadi semakin besar ketika AI membuat produksi konten intelektual menjadi jauh lebih murah. Jika dahulu seseorang membutuhkan waktu untuk membaca, menulis, dan menyusun argumen agar terlihat berpengetahuan, sekarang mesin dapat membantu menghasilkan ringkasan, argumentasi, naskah video, presentasi, dan berbagai bentuk konten dalam waktu singkat. Masa depan karena itu bukan sekadar menghadapi banjir informasi, tetapi kemungkinan menghadapi banjir penampilan pengetahuan (performative knowledge).
Dalam situasi semacam itu, masyarakat membutuhkan bukan lebih banyak orang yang berbicara dengan percaya diri, melainkan lebih banyak orang yang mampu membedakan antara apa yang mereka ketahui, apa yang mereka yakini, dan apa yang sebenarnya belum mereka ketahui. Paradoks terbesar zaman digital akhirnya bukan bahwa manusia tidak lagi membaca, melainkan bahwa manusia membaca lebih banyak tetapi tidak selalu memiliki waktu untuk memahami lebih dalam.
Kita tidak kekurangan informasi; kita kekurangan perhatian yang cukup panjang untuk mengubah informasi menjadi pengetahuan. Dan mungkin di tengah ekonomi perhatian yang mengagungkan kecepatan, kepastian, dan visibilitas, bentuk intelektualitas yang semakin langka justru bukan kemampuan memberikan jawaban paling cepat, melainkan kemampuan untuk berhenti, memeriksa sumber, mengakui kompleksitas, mempertanyakan keyakinan sendiri, dan mengatakan dengan jujur: "Saya belum cukup tahu."
Sebab pada akhirnya, ukuran intelektualitas bukanlah seberapa meyakinkan seseorang terlihat ketika berbicara, tetapi seberapa serius ia memperlakukan kebenaran ketika tidak ada algoritma yang memaksanya untuk segera memberikan jawaban.
