Gerak Cepat BGN Suspend SPPG Usai Ratusan Santri-Siswa Keracunan MBG

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam yang diduga mengalami keracunan makanan mendapatkan perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (2/9/2026) dini hari. Foto: Umarul Faruq/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam yang diduga mengalami keracunan makanan mendapatkan perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (2/9/2026) dini hari. Foto: Umarul Faruq/ANTARA FOTO

Badan Gizi Nasional (BGN) bergerak cepat menyikapi dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami ratusan siswa dan santri di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. BGN langsung menghentikan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, yang memasok makanan kepada para korban.

Dugaan keracunan tersebut terjadi setelah siswa dan santri mengonsumsi MBG pada Selasa (1/9). Mereka mengalami sejumlah gejala, mulai dari mual, muntah, pusing hingga diare.

Menu MBG 1 September 2026 yang disediakan SPPG Kalitengah, Kec Tanggulangin, Sidoarjo, Jatim. Foto: IG/@sppgkalitengahtanggulangin

Jumlah korban terus bertambah berdasarkan pembaruan data dari sejumlah pihak. Awalnya terdapat 344 siswa dan santri dari 19 sekolah yang dilaporkan mengalami keluhan. Kemudian, 431 santri dari Pondok Pesantren Manbaul Hikam dievakuasi ke rumah sakit.

Hingga Rabu (2/9), Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo mencatat total 566 orang diduga mengalami keracunan.

Berikut rangkuman perkembangan dugaan keracunan MBG di Sidoarjo:

BGN Suspend SPPG Kalitengah

Wakil Koordinator Regional BGN Jatim Teguh Bayu Wibowo di SPPG Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan, Surabaya, Senin (11/5/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, mengatakan pihaknya langsung mendatangi SPPG Kalitengah setelah mendapat informasi mengenai dugaan keracunan.

"Kami juga tadi sudah mendapatkan informasi langsung dan kami bergerak ke SPPG. Untuk saat ini, SPPG kita berhenti operasional," ujar dia.

BGN kemudian menerbitkan surat suspend terhadap SPPG tersebut. Penghentian operasional dilakukan sambil menunggu hasil investigasi lebih lanjut.

"Ya, per kemarin tadi malam kami mendapatkan informasi, kami dari BGN Provinsi serta Korwil Sidoarjo langsung turun ke lapangan. Kami investigasi dan melaporkan ke pimpinan pusat, Bapak Kepala Badan langsung, Pak Sudaryono," kata Teguh.

"Sementara, awalnya di malam hari itu sudah kita hentikan. Tapi per tadi pagi sudah ada surat suspend untuk dapur ini. Sambil di awal, jadi untuk tim pusat pun akan datang di hari ini juga untuk investigasi lebih lanjut apakah suspend ini ringan atau berat. Ya, sudah tidak beroperasi untuk saat ini," tambah dia.

SPPG Kalitengah diketahui menjadi dapur yang memasok MBG kepada 19 lembaga pendidikan yang kemudian melaporkan adanya siswa dan santri dengan keluhan kesehatan.

kumparan post embed

566 Orang Diduga Keracunan

Santri yang diduga mengalami keracunan makanan mendapatkan perawatan medis di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (2/9/2026). Foto: Umarul Faruq/ANTARA FOTO

Dinkes Kabupaten Sidoarjo mencatat jumlah korban dugaan keracunan MBG mencapai 566 orang hingga Rabu (2/9).

Kepala Dinkes Kabupaten Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwanita mengatakan 88 korban masih menjalani perawatan.

"566 ya kurang lebih, saat ini yang opname 88 (korban)," kata Lakhsmie di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Sidoarjo, Rabu (2/9).

Pada hari yang sama, terdapat 35 korban tambahan yang dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

"(Hari ini) 35 (pasien), semuanya sudah dievakuasi ke luar. Kemarin kami pertahankan di masjid ternyata memang harus kami evakuasi ke rumah sakit," ujarnya.

Lakhsmie mengatakan para korban mengalami sejumlah gejala, seperti mual, muntah, pusing, dan diare. Kondisi korban yang menjalani rawat inap disebut stabil.

"Secara umum yang opname stabil, tidak ada yang perlu dikhawatirkan sampai ke perawatan khusus, enggak ada, dirawat inap biasa. Tampaknya mual, muntah, pusing," kata dia.

kumparan post embed

431 Santri Dievakuasi ke Rumah Sakit

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak (ketiga kanan) menjenguk santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam yang diduga mengalami keracunan makanan sedang menjalani perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (2/9/2026) dini hari. Foto: Umarul Faruq/ANTARA FOTO

Sebelumnya, sebanyak 431 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam dievakuasi ke rumah sakit setelah mengalami keluhan kesehatan usai mengonsumsi MBG.

Pengasuh Ponpes Manbaul Hikam menyebut sekitar 1.000 santri mengonsumsi MBG pada saat itu.

"Hari ini yang dievakuasi ke rumah sakit 431. Ya, kondisi kekuatan fisik masing-masing santri beda-beda," ujar dia.

instagram embed

Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jatim, Emil Elestianto Dardak, mengatakan dugaan keracunan tidak hanya dialami santri dari Ponpes Manbaul Hikam.

"Memang juga ada data yang menunjukkan selain dari pondok pesantren beliau, Manbaul Hikam, ada juga dari sekolah-sekolah lain itu juga mengalami keluhan. Jadi, kesamaannya adalah konsumsi dari SPPG yang sama, SPPG Tanggulangin Kali Tengah," ucap Emil.

Kasus tersebut sebelumnya dilaporkan melibatkan 344 siswa dan santri dari 19 sekolah di Sidoarjo. Para korban kemudian mendapat penanganan di sejumlah rumah sakit, di antaranya RSUD R.T. Notopuro, RS Siti Hajar, dan RS Delta Surya.

Emil mengatakan penanganan terhadap para korban dilakukan secara cepat.

"Kami ingin mengapresiasi Rumah Sakit Notopuro, Ibu Kadinkes, yang sudah bersama BPBD Sidoarjo dan Pemkab Sidoarjo, tentunya Pak Bupati, yang sudah melakukan penanganan secara sigap, sehingga jumlah yang ratusan datang ke rumah sakit ini semua bisa ditangani," ujar Emil di Sidoarjo, Rabu (2/9).

Emil juga membantah kabar mengenai adanya korban meninggal dunia.

"Tolong juga, tadi ada kabar mohon maaf meninggal, itu tidak betul. Tidak ada yang meninggal. Kita doakan semua bisa bukan hanya doakan, tapi diikhtiarkan oleh tenaga medis. InsyaAllah sudah ada yang bisa dipulangkan. Banyak yang bisa dipulangkan," ucapnya.

kumparan post embed

Satgas Siapkan Penanganan Siswa yang Absen

Sejumlah santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam yang diduga mengalami keracunan makanan mendapatkan perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (1/9/2026). Foto: Umarul Faruq/ANTARA FOTO

Satgas MBG Jatim juga menyiapkan penanganan bagi siswa yang tidak masuk sekolah setelah mengalami keluhan kesehatan.

Emil mengatakan pihaknya akan melakukan pendekatan langsung apabila terdapat siswa yang tidak masuk sekolah.

"Posko di sini, justru di sana sudah ada paramedis yang bisa menangani," katanya.

Ia kembali memastikan tidak ada korban meninggal dunia dalam kejadian tersebut. Sejumlah korban juga telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan perawatan.

"Tolong juga, tadi ada kabar mohon maaf meninggal, itu tidak betul. Tidak ada yang meninggal. Kita doakan semua bisa bukan hanya doakan, tapi diikhtiarkan oleh tenaga medis. InsyaAllah sudah ada yang bisa dipulangkan. Banyak yang bisa dipulangkan," ucapnya.

kumparan post embed

Kepala SPPG Minta Maaf

Santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam yang diduga mengalami keracunan makanan mendapatkan perawatan saat tiba di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (1/9/2026). Foto: Umarul Faruq/ANTARA FOTO

Kepala SPPG Kalitengah, Rafli Ridho, menyampaikan permintaan maaf setelah ratusan siswa dan santri diduga mengalami keracunan.

"Mohon maaf ya, saya menyesal," ujar Rafli di SPPG Kalitengah, Sidoarjo, Rabu (2/9).

Rafli mengatakan laporan korban berasal dari Ponpes Manbaul Hikam serta dua sekolah dasar, yakni SD Kalianget 1 dan SD Kalianget 2.

"1 ponpes 2 sekolah. Terakhir ada lima orang dari selain ponpes. Ya laporannya masuknya tadi malam. Setelah konfirmasi pada keracunan," ucapnya.

Kepala SPPG Kalitengah, Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Rabu (2/9/2026). Foto: Dok. Istimewa

Menurut Rafli, dapur SPPG Kalitengah mulai mengolah makanan sekitar pukul 00.00 WIB. Makanan kemudian disalurkan ke sekolah-sekolah sekitar pukul 11.00 WIB.

"Seperti biasa, ya jam 00.00 WIB mulai ngolah. (Dikirim) jam 11.00 WIB," ujarnya.

Ia menyebut makanan tersebut mampu bertahan selama empat jam setelah pengiriman.

"(Mampu bertahan) empat (jam)," imbuh dia.

Rafli juga mengatakan makanan telah melalui pemeriksaan sebelum dikonsumsi siswa. Ia membantah isu yang menyebut terdapat belatung dalam menu MBG.

"Ya itu, masalahnya kita kan ada berita acara. Di situ kan ada organoleptik. Jadi setiap ke sekolahan itu ada uji yang nantinya itu diicipi oleh PIC pihak sekolah. Nah, setelah saya tanyai, katanya aman, enggak ada masalah di makanan itu. Tapi kenapa kok keracunan lah itu yang saya (bingung)," kata dia.

Menu MBG yang dibagikan pada 1 September terdiri atas nasi, telur orak-arik, tumis sayur buncis, dan tempe bumbu Bali.

"Kemarin ada telur orak-arik, nasi, terus tumis sayur buncis, tempe bumbu bali," ucapnya.

Teguh membantah isu mengenai adanya belatung dalam makanan tersebut.

"Itu tidak ada. Tidak benar. Tidak benar yang itu," kata dia.

Penyebab Keracunan Masih Diselidiki

Ilustrasi keracunan makanan. Foto: Getty Images/kumparan

Dinkes Sidoarjo masih menyelidiki penyebab dugaan keracunan tersebut. Sampel muntahan korban dan bahan makanan telah diambil untuk diperiksa di Laboratorium Kesehatan Surabaya.

Lakhsmie mengatakan hasil pemeriksaan belum keluar.

"Belum ada hasil. Muntahan dengan bahan makanan di Labkes Surabaya. Sebetulnya yang paling penting adalah bukan hasilnya itu. Yang paling penting adalah sikap kita bagaimana terkait kalau misalnya memang ini terbukti dari karena permasalahan produk olahannya atau bahannya SOP-nya dijalankan atau tidak," ujar dia.

Bupati Sidoarjo Subandi juga mengungkapkan dari 170 unit SPPG di wilayahnya, terdapat 31 unit yang belum mengantongi izin operasional lengkap. Ia meminta SPPG yang belum memiliki izin lengkap untuk sementara berhenti beroperasi.

"Apabila yang 31 belum izin, sementara tak suruh berhenti dulu ya. Yang sudah ada izinnya seperti ini lagi, apalagi yang enggak ada perizinannya. Jangan mengganggu program Presiden. Program yang baik ini mari kita support. Kalau ada tata kelola yang kurang baik ya kita benahi," ujar Subandi.

Cerita Siswa Korban Dugaan Keracunan

Santri yang diduga mengalami keracunan makanan mendapatkan perawatan medis di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (2/9/2026). Foto: Umarul Faruq/ANTARA FOTO

Salah satu korban, Muhammad Reyhan, siswa kelas 7 Ponpes Manbaul Hikam, menceritakan pengalamannya setelah menyantap MBG.

Reyhan mengonsumsi MBG bersama teman-teman se-asramanya pada Selasa (1/9) sekitar pukul 13.00 WIB. Paket makanan yang diterimanya berisi nasi, telur, orak-arik tempe, sayur, dan buah apel.

Reyhan tidak langsung merasakan gejala setelah makan. Ia mulai mengalami pusing dan mual sekitar pukul 06.00 WIB pada Rabu (2/9).

"Kira-kira jam 13.00 WIB siang kemarin (menyantap MBG). Tapi baru terasanya jam 06.00 WIB pagi. Mulai terasa pusing dan mual itu jam 06.00 pagi tadi," kata ayah Reyhan, Syafaat, saat ditemui di IGD RSUD Notopuro.

Kondisi Reyhan kemudian memburuk hingga akhirnya dibawa ke RSUD Notopuro sekitar pukul 14.00 WIB.

"Jam 14.00 WIB siang tadi (dibawa ke RSUD Notopuro)," ucapnya.

Suasana SPPG Kalitengah, Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Rabu (2/9/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Reyhan mengatakan masih merasakan pusing dan mual setelah mendapatkan perawatan.

"(Pusingnya kayak muter-muter begitu) iya. (Mau muntah tapi enggak bisa, mual, lemes banget kayak masuk angin) iya," ungkap Reyhan.

Hingga Rabu (2/9), penyebab pasti dugaan keracunan tersebut masih dalam penyelidikan. Hasil pemeriksaan sampel makanan dan muntahan korban menjadi salah satu hal yang ditunggu untuk mengetahui penyebab kejadian tersebut.

kumparan post embed