Imbas Tabrakan KRL di Bekasi, Menteri PPPA Usul Gerbong Perempuan Jadi di Tengah

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gerbong perempuan. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gerbong perempuan. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengusulkan perubahan posisi gerbong khusus perempuan pada rangkaian KRL menjadi di tengah.

Hal ini menyusul kecelakaan hebat yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Cikarang Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam. Dalam insiden ini, gerbong perempuan di bagian paling belakang KRL ditabrak KA Argo Bromo Anggrek yang melaju kencang.

Arifah menilai, penempatan gerbong perempuan di ujung depan dan belakang rangkaian kereta perlu dievaluasi kembali untuk meningkatkan aspek keamanan penumpang perempuan.

"Kalau tadi kita ngobrol dengan KAI kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang supaya tidak terjadi rebutan tapi dengan peristiwa ini kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah jadi yang laki-laki di ujung yang depan belakang itu laki-laki jadi yang perempuan di tengah," ujar Arifah usai mengunjungi korban di RSUD Kota Bekasi, Selasa (28/4).

Menteri PPPA Arifah Fauzi (tengah) didampingi Direktur SDM dan Kelembagaan PT KAI Atih Nurhayati (kanan) menjawab pertanyaan wartawan saat menjenguk korban kecelakaan kereta api di RSUD Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Rakha Raditya Yahya/ANTARA FOTO

Arifah memaparkan data terkini jumlah korban. Dari informasi yang diterima, terdapat 55 orang yang dirujuk ke RSUD Kota Bekasi dengan 3 orang dinyatakan meninggal dunia. Dari total korban luka, 15 orang sudah kembali ke rumah, dan sisanya masih menjalani perawatan karena mengalami luka memar hingga patah tulang.

Ia menyatakan bahwa pemerintah akan mengawal proses pemulihan para korban secara menyeluruh, termasuk aspek psikologis.

"Pendampingan yang kami lakukan bukan hanya dalam hal medis tetapi pemulihannya baik secara fisik maupun psikologis karena kami lihat ada yang mengalami trauma dan ini perlu pendampingan lebih khusus," jelasnya.

Selain jaminan medis dari PT KAI, Arifah juga menaruh perhatian pada status para korban yang merupakan pekerja. Ia meminta perusahaan tempat korban bekerja untuk memberikan hak-haknya selama masa penyembuhan.

"Kami berupaya agar perusahaan di mana mereka bekerja bisa memberikan keringanan sampai mereka pulih baru bisa masuk lagi ke tempat kerja ini yang akan kita upayakan bersama," tambahnya.

Insiden ini bermula ketika ada sebuah taksi yang mogok di perlintasan sebidang daerah Ampera, Bekasi Timur. Taksi tersebut mengalami permasalahan listrik. Taksi tersebut kemudian tertabrak KRL arah Jakarta.

Imbas kecelakaan itu membuat satu rangkaian KRL arah Cikarang menjadi terhenti di Stasiun Bekasi Timur. KRL ini yang kemudian ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek.

Pada Selasa siang, RS Polri mencatat ada 15 korban meninggal dunia dalam insiden tersebut.