Konten dari Pengguna

Keteguhan Dayak Lebo Menjaga Tradisi Panen di Tengah Modernisasi

Alif Fatahillah

Alif Fatahillah

Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alif Fatahillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tradisi ani-ani Suku Dayak Lebo, Kalimantan Timur. Foto: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Tradisi ani-ani Suku Dayak Lebo, Kalimantan Timur. Foto: Dokumentasi pribadi

Di tengah derasnya arus digitalisasi yang terus merambah berbagai aspek kehidupan, masyarakat Suku Dayak Lebo di Kampung Merabu, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur tetap teguh mempertahankan tradisi leluhur mereka. Salah satu yang masih dijaga hingga kini adalah cara memanen padi gunung yang sarat makna dan keunikan.

Saat musim panen tiba, hamparan ladang berubah menjadi ruang aktivitas yang penuh kesabaran dan ketelitian. Berbeda dengan kebanyakan petani yang telah menggunakan alat modern, masyarakat Dayak Lebo masih setia menggunakan alat tradisional bernama ani-ani.

Ani-ani merupakan alat kecil yang digenggam di tangan, digunakan untuk memotong bulir padi satu per satu. Proses panen dilakukan dengan sangat hati-hati: setiap tangkai padi dipetik secara perlahan, lalu dikumpulkan sedikit demi sedikit hingga menjadi satu ikatan. Cara ini membuat proses panen berlangsung lebih lama, tetapi penuh ketelatenan.

Gambar ani-ani alat tradisional untuk memanen padi. Foto: Dokumentasi pribadi

Bagi masyarakat Dayak Lebo, metode ini bukan sekadar teknik bertani, melainkan juga bagian dari penghormatan terhadap padi sebagai sumber kehidupan. Dengan memanen secara perlahan, mereka percaya bulir padi tetap terjaga kualitasnya dan tidak mudah rontok. Lebih dari itu, ada nilai kesabaran, ketekunan, dan kedekatan dengan alam yang terus diwariskan melalui tradisi ini.

“Dari dulu memang begini cara kami memanen padi. Tidak boleh terburu-buru,” ujar Nenek Santi, salah satu warga Kampung Merabu.

Ia menuturkan bahwa penggunaan ani-ani bukan hanya soal kebiasaan, melainkan juga bentuk menjaga warisan leluhur.

“Kalau pakai cara cepat, rasanya seperti tidak menghargai padi. Dengan ani-ani, kita lebih hati-hati dan bersyukur.”

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi pertanian yang menawarkan kecepatan dan efisiensi, pilihan untuk tetap menggunakan ani-ani menjadi bukti bahwa tidak semua hal harus berubah mengikuti zaman. Bagi Dayak Lebo, tradisi adalah identitas yang tidak bisa tergantikan.

Potret Nenek Santi, tokoh Suku Dayak Lebo, bersama penulis, merepresentasikan kedekatan generasi dalam menjaga tradisi panen dan nilai budaya yang diwariskan turun-temurun. Foto: Dokumentasi pribadi

Kampung Merabu menjadi saksi bagaimana budaya dan modernitas berjalan berdampingan. Di satu sisi, dunia luar terus berkembang dengan inovasi digital. Di sisi lain, masyarakat Dayak Lebo tetap setia menjaga cara hidup yang telah diwariskan turun-temurun.

Melalui ani-ani, mereka tidak hanya memanen padi, tetapi juga merawat nilai-nilai kehidupan. Dari pedalaman Berau, Dayak Lebo mengajarkan bahwa di tengah perubahan zaman, tradisi tetap bisa hidup selama ada yang memilih untuk menjaganya.