Purbaya Tepis Isu Dana Panda Bond untuk Bayar Utang Whoosh

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menepis isu bahwa dana hasil penerbitan Panda Bond akan digunakan untuk membayar utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh.
Purbaya menegaskan Panda Bond merupakan salah satu opsi pembiayaan pemerintah demi menutup defisit anggaran, bukan dialokasikan untuk melunasi kewajiban proyek Whoosh.
"Ini (Panda Bond -red) untuk nutup defisit kita. Nanti ke depan apakah pakai itu, nanti kita lihat seperti apa," kata Purbaya ketika ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (23/7).
Menurut Purbaya, skema pembiayaan yang akan digunakan menangani utang Whoosh masih dalam tahap penyusunan. Ia belum dapat membeberkan detail mekanisme yang akan diterapkan.
"Walaupun di pemerintah, tapi akan kita kecilkan semaksimal mungkin dana APBN yang dipakai untuk bayar Whoosh," ucapnya.
Purbaya juga mengungkapkan bahwa pemerintah memiliki sejumlah opsi pembiayaan seperti Special Mission Vehicle (SMV), Badan Layanan Umum (BLU), maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dibentuk untuk menjalankan misi pembangunan nasional.
"Karena saya punya banyak SMV, Special Mission Vehicle. Potensial dana terbesar, nanti kita kasih tahu. Tapi kalau kita hitung untuk segera mengurangi beban APBN jadi anggaran APBN-nya tidak terganggu," kata Purbaya.
Panda Bond merupakan surat utang dalam mata uang yuan yang diterbitkan di pasar keuangan China. Pemerintah menargetkan penerbitan Panda Bond senilai USD 1 miliar sebagai bagian dari strategi memperluas sumber pembiayaan negara.
"Rencana issuance ini 23 Juli. Targetnya USD 1 miliar. Karena ini pasar baru, kita jajaki dulu. Walaupun mungkin offering-nya atau bid-nya besar sekali, kita batasi dulu USD 1 miliar," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di kantor Kementerian Keuangan, Selasa (22/7).
Menurutnya, penerbitan Panda Bond merupakan langkah strategis untuk mendiversifikasi sumber pembiayaan sekaligus memperluas basis investor global.
Selain itu, instrumen tersebut diharapkan dapat mempererat hubungan ekonomi Indonesia dan China, mendukung implementasi transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT), serta memperdalam kerja sama sektor keuangan kedua negara.
