Konten dari Pengguna

Otak Manusia Itu Mesin Prediksi Nada Super Canggih?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pandu Watu Alam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hubungan Musik, Otak, dan Sains. Image Generated By Magnific
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hubungan Musik, Otak, dan Sains. Image Generated By Magnific

Pernahkah anda menonton konser musik yang megah? Coba bayangkan, Anda berada di tengah lautan manusia di sebuah stadion megah. Di atas panggung, seorang pemuda jenius berpenampilan super santai bernama Jacob Collier berdiri. Tanpa partitur musik, tanpa latihan sebelumnya, ia membagi ribuan penonton menjadi tiga kelompok suara yang berbeda.

Hanya dengan memberikan satu nada jangkar awal (anchor note) sebagai kompas frekuensi, Jacob mulai menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah seperti seorang conductor. Ajaibnya, ribuan orang asing yang tidak saling kenal tiba-tiba bernyanyi bersama, menciptakan harmoni akor yang megah, bahkan melakukan perpindahan kunci nada (modulasi) yang kompleks secara tiba-tiba.

Fenomena audience choir yang dibawa Jacob Collier ke berbagai panggung dunia akhir-akhir ini bukan sekadar trik hiburan interaktif. Ini adalah demonstrasi neurosains skala besar yang membuktikan satu hal bahwa didalam tempurung kepala setiap manusia, sudah tertanam sebuah superkomputer musik yang siap dinyalakan kapan saja. Otak manusia bisa dikatakan sebagai mesin prediksi nada super canggih.

Apa yang dilakukan Jacob Collier sebenarnya adalah evolusi tingkat lanjut dari eksperimen ikonik yang dilakukan oleh musisi legendaris Bobby McFerrin pada tahun 2009 dalam acara Notes & Neurons.Jika Collier bermain secara vertikal (harmoni), McFerrin membuktikannya secara horizontal (melodi). McFerrin melompat bolak-balik di atas panggung untuk memetakan nada rendah di sebelah kiri dan nada tinggi di sebelah kanan. Ketika ia melompat ke area baru yang kosong tanpa bersuara, penonton secara serempak langsung menyanyikan nada kelanjutan yang tepat.

Ilustrasi Audience Choir. Image generated By Magnific

Secara ilmiah, kedua musisi ini berhasil mengaktifkan dua fitur canggih di otak kita yaitu Pemrosesan Prediktif (Predictive Processing). Otak manusia adalah mesin pembaca pola yang luar biasa canggih. Ia mengambil pola kecil (dua atau tiga nada pertama dari musisi), lalu secara instan melakukan lompatan induktif untuk membangun ekspektasi yang jauh lebih lebar.

Otak kita tidak menunggu informasi suara datang, melainkan aktif "meramal" dan mengisi kekosongan nada tersebut berdasarkan rumus matematika yang logis. Hal kedua yang berhasil dibuktikan adalah Pemetaan Ruang Nada (Spatial Pitch Mapping). Ternyata ada hubungan saraf yang unik di otak yang mengasosiasikan ruang fisik dengan tinggi rendah nada. Gerakan tubuh McFerrin dan lambaian tangan Collier menjadi stimulasi visual yang langsung diterjemahkan oleh korteks auditori penonton menjadi frekuensi suara yang tepat.

Namun, ada satu detail yang paling mencengangkan. Bobby McFerrin melakukan eksperimen itu di berbagai belahan dunia, tapi kenapa kelanjutan nada yang dinyanyikan ribuan penonton awam di berbagai belahan dunia itu hampir selalu menghasilkan skala yang sama? Mengapa mereka selalu memilih skala pentatonik?

Fenomena bunyi di alam semesta ini, ketika sebuah benda bergetar baik disengaja atau tidak, ia menghasilkan getaran sekunder yang disebut overtones yang memiliki beberapa tingkatan. Kemudian yang terjadi adalah sirkuit organ rumah siput (koklea) di dalam telinga manusia dirancang untuk memproses hubungan frekuensi alami ini dengan sangat nyaman tanpa distorsi. Jika nada-nada alami yang paling ramah bagi otak ini dirangkai, ia akan membentuk skala pentatonik. Fenomena ini bisa jadi menguatkan bahwa musik pentatonik adalah hukum fisika alam semesta yang klop dengan biologi manusia.

Musik pentatonik adalah "bahasa pertama" umat manusia. Jauh sebelum nenek moyang kita menciptakan kata-kata untuk berbicara, otak mereka sudah menggunakan sirkuit alamiah ini untuk mengekspresikan emosi dan bahaya.

Mungkinkah Asia adalah Rahim Peradaban Musik?

Ilustrasi alat musik pentatonic. Image generated By Magnific

Jika skala pentatonik adalah sebuah keajaiban berupa cetak biru universal yang dimiliki semua manusia sejak lahir, sebuah pertanyaan antropologis yang radikal pun muncul: Di manakah pusat kebudayaan bunyi ini pertama kali dijinakkan dan disusun menjadi sebuah sistem peradaban?

Secara arkeologis, instrumen musik tertua berupa suling tulang primitif memang ditemukan di daratan Eropa. Namun, instrumen tersebut masih sangat sederhana, mirip peluit pemburu. Jika kita mencari tempat di mana manusia pertama kali berhasil membuat sistem skala pentatonik dengan akurasi yang presisi untuk kebutuhan berkesenian, sejarah akan membawa kita ke tanah Asia.

Penemuan Suling Tulang Jiahu di Henan, Tiongkok, yang berusia 9.000 tahun menjadi bukti penting. Berbeda dengan suling purba di belahan dunia lain, suling Jiahu dirancang dengan perhitungan lubang yang sangat matang untuk memproduksi skala pentatonik yang akurat, meskipun pada saat itu tidak ada alat pengukur yang presisi untuk mengukur akurasi frekuensi dan hanya bertumpu pada "rasa".

Ketika kebudayaan Barat kemudian berevolusi ke arah "Harmoni kaku" dengan membagi tangga nada menjadi 12 nada (skala diatonis /kromatis) demi permainan chord, peradaban di Asia justru memilih jalan yang berbeda. Bangsa-bangsa di Asia mulai dari musik tradisional Tiongkok, Jepang, hingga keindahan yang kita miliki yaitu skala Slendro dan Pelog di Indonesia memilih untuk setia merawat, memperdalam, dan memperkaya dimensi emosional serta spiritual dari skala pentatonic ini. Kita tidak merumitkan tumpukan akor, melainkan memperluas estetika melodi, ritme, dan "rasa".

Aksi panggung Jacob Collier dan Bobby McFerrin adalah pengingat visual yang indah bahwa kita semua lahir sebagai makhluk musikal. Musik tidak pernah menjadi sesuatu yang asing bagi sirkuit saraf kita, kita membawa kodenya di dalam otak di kepala kita.

Namun, sejarah memberikan catatan kaki yang membanggakan bagi belahan bumi bagian timur. Ketika peradaban lain di masa purba mungkin masih memperlakukan bunyi sebagai alat komunikasi instingtif, peradaban di tanah Asia lah yang pertama kali menjinakkan keajaiban pentatonik ini. Kita mengkodifikasikannya ke dalam instrumen presisi, merawat ragamnya selama ribuan tahun, dan menjadikannya sebuah rahim bagi kebudayaan bunyi yang memiliki jiwa.