Berita Populer: Status Laik Taksi Green SM; Respons VinFast Indonesia

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kondisi taksi listrik yang rusak usai mengalami kecelakaan dengan KRL Commuter Line di Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi taksi listrik yang rusak usai mengalami kecelakaan dengan KRL Commuter Line di Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Status taksi Green SM yang tertemper kereta di Bekasi Timur merupakan salah satu berita populer pembaca kumparanOTO, Rabu (29/4).

Kemudian VinFast Indonesia buka suara soal kecelakaan taksi Green SM di Bekasi Timur, serta mengetahui penyebab mogoknya kendaraan di perlintasan sebidang.

Selengkapnya rangkuman berita populer kumparanOTO.

Status Taksi Listrik Green SM yang Tertemper Kereta di Bekasi Timur

Kecelakaan taksi listrik Green SM di perlintasan Bekasi Timur memicu desakan audit dan penyelidikan mendalam dari Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub. Armada berpelat B 2864 SBX ini terdaftar dengan kartu pengawasan hingga 2026 dan mengantongi sertifikat Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum (SMK PAU).

kumparan post embed

VinFast Indonesia Buka Suara Soal Insiden Taksi Green SM di Perlintasan Kereta

VinFast Indonesia, sebagai produsen mobil listrik yang digunakan oleh Green SM, tengah melakukan investigasi menyeluruh terkait insiden taksi yang tertemper kereta di Bekasi Timur. Dugaan awal dari Korlantas Polri menyebut adanya korsleting pada roda atau masalah elektrikal kendaraan, tepat di perlintasan, yang mengakibatkan taksi tidak bisa melaju.

kumparan post embed

Mitos atau Fakta, Perlintasan Sebidang Sebabkan Kendaraan Mogok?

Fenomena kendaraan mogok di perlintasan sebidang, seperti kasus taksi Green SM, sering dikaitkan dengan 'efek impedansi' atau medan elektromagnetik rel kereta. Namun, Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eka Rahman Priandana, membantah teori ini, menegaskan bahwa studi global tidak mendukung klaim tersebut dan medan elektromagnetik rel tidak cukup kuat untuk mengganggu sistem Electronic Control Unit (ECU) kendaraan.

kumparan post embed