Gol Haaland di Derby Manchester Seharusnya Tidak Pernah Ada
Tulisan dari Muhammad Ilham Prakoso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tiga hari setelah Derby Manchester berakhir, Pro Ref, badan yang menaungi wasit Premier League, mengirim pesan kepada Manchester United. Isinya bukan selamat atas penampilan tim. Isinya adalah permintaan maaf.
Gol Erling Haaland di menit ke-60 yang membawa Manchester City menang 1-0 di Old Trafford, Minggu 13 September 2026, diakui seharusnya tidak pernah disahkan. VAR, sistem yang dirancang untuk menghilangkan kesalahan manusia dari sepak bola, justru melakukan kesalahan yang mengubah hasil Derby Manchester.
Dua ofisial VAR yang terlibat, Matthew Donohue dan Blake Antrobus, langsung ditarik dari penugasan dan diparkir hingga jeda internasional selesai.
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Menit ke-60.
Kronologinya penting untuk dipahami. Josko Gvardiol mengirim umpan silang dari sisi kiri. Bola membentur sesuatu sebelum mencapai Haaland di tiang jauh. Hakim garis mengangkat bendera offside. Wasit Michael Oliver pun sempat menganulir gol tersebut.
Tim VAR kemudian melakukan pemeriksaan. Mereka menyimpulkan Haaland berada dalam posisi onside berdasarkan posisi kaki bek Manchester United Patrick Dorgu. Gol disahkan. City menang 1-0.
Masalahnya terletak pada Enzo Fernandez. Gelandang Argentina itu berada dalam posisi offside di dalam kotak penalti saat serangan berlangsung. Berdasarkan Law 11.2 dalam Laws of the Game, pemain offside dapat dinyatakan melakukan pelanggaran jika pergerakan atau upayanya memainkan bola berdampak terhadap pemain lawan. VAR tidak mempertimbangkan dampak posisi Fernandez terhadap bek-bek United yang harus bereaksi terhadap ancamannya.
Pro Ref menegaskan bahwa dalam situasi itu VAR seharusnya merekomendasikan on-field review kepada wasit di lapangan, memberi Michael Oliver kesempatan melihat sendiri di monitor. Itu tidak dilakukan. Gol disahkan. Dan tiga hari kemudian, permintaan maaf itu datang.
Permintaan Maaf yang Tidak Mengubah Apapun.
Lisandro Martinez, bek Manchester United yang bermain di laga itu, bereaksi keras. Ia menyebut gol Haaland tidak dapat diterima dan bahwa keputusan itu merugikan timnya secara langsung.
Wayne Rooney, yang kini berkomentar sebagai analis, memilih sudut pandang berbeda. Alih-alih hanya menyalahkan VAR, ia justru mengkritik INEOS sebagai pemilik klub dan menyebut semua hal di Manchester United saat ini terasa tumpul, dari keputusan di atas lapangan hingga keputusan di luar lapangan.
Di sisi City, pelatih Enzo Maresca memberi respons yang tenang. Ia menyebut kartu merah Phil Foden di menit ke-22, yang membuat City bermain dengan sepuluh orang selama lebih dari sejam, juga merupakan keputusan yang perlu dievaluasi. Foden mendapat kartu merah langsung setelah menendang perut Bruno Fernandes, meski sebelumnya Fernandes melakukan pelanggaran terhadapnya terlebih dulu. Maresca tidak memprotes hasil akhir, tapi memberi konteks bahwa kontroversi di laga itu berjalan dua arah.
VAR dan Masalah yang Tidak Kunjung Selesai.
Kontroversi VAR di Derby Manchester bukan yang pertama, dan hampir pasti bukan yang terakhir. Perdebatan tentang efektivitas teknologi ini sudah berlangsung sejak diperkenalkan di Premier League pada 2019, dan setiap musim menghadirkan setidaknya satu insiden besar yang memperbarui pertanyaan mendasar: apakah VAR benar-benar membuat keputusan lebih adil, atau hanya memindahkan sumber kesalahan dari wasit di lapangan ke ruang kontrol yang tidak kelihatan?
Musim ini, Manchester United dan Arsenal sudah sama-sama merasa dirugikan oleh keputusan wasit, sebuah tekanan yang membuat Howard Webb, kepala wasit Premier League, berada dalam sorotan yang tidak nyaman.
Permintaan maaf Pro Ref adalah langkah yang baik secara prosedural. Dua wasit VAR yang diparkir adalah konsekuensi yang terlihat tegas. Tapi tiga poin yang sudah berpindah dari Old Trafford ke Etihad tidak bisa dikembalikan. Manchester United turun ke posisi ke-13 klasemen dengan empat poin. City naik ke posisi kedua dengan 12 poin. Permintaan maaf tidak mengubah papan skor.
Pro Ref mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memarkir dua wasit. Itulah yang bisa dilakukan sistem ketika sistem itu sendiri yang salah. Yang tidak bisa dilakukan adalah memutar kembali waktu ke menit ke-60 di Old Trafford dan memberi Michael Oliver kesempatan untuk melihat di monitor apa yang seharusnya sudah ia lihat. Derby Manchester berakhir 1-0, dan permintaan maaf, seberapapun seriusnya, tidak mengubah angka itu.

