Kumparan Logo
Konten Media Partner

Festival Sastra Anak di Yogya Angkat Pionir Sastra Anak Pra-Kemerdekaan

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi seorang anak sedang membaca buku. Foto: Canva.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang anak sedang membaca buku. Foto: Canva.

Banyak orang mungkin tidak mengenal nama Aman Datuk Madjoindo. Padahal, penulis kelahiran 1896 itu merupakan salah satu tokoh pionir sastra anak modern Indonesia.

Hal inilah yang mendorong Aliansi Mekar Pukul Empat untuk mengangkat sosok Aman Datuk Madjoindo sebagai tokoh utama dalam festival sastra anak Indonesia yang akan digelar di Yogyakarta.

“Titik tolak linimasa yang kami ambil adalah masa pra-kemerdekaan. Jika Jepang memiliki Ogawa Mimei (1882-1961) sebagai bapak sastra anak modern Jepang, siapakah yang dapat kita sebut demikian untuk Indonesia? Kami memilih Aman Datuk Madjoindo (1896-1969) sebagai tokoh dan fokus yang diangkat dalam pameran festival ini,” kata Ayenni, humas, Festival Mekar Pukul Empat, Kamis (18/6).

“Dalam usaha kami untuk menelusuri perjalanan sastra anak Indonesia, Aman dapat dikatakan merupakan sang pionir,” lanjutnya.

Poster Festival Mekar Pukul Empat. Foto: Dok.Istimewa

Bertajuk Festival Mekar Pukul Empat, festival ini akan berlangsung pada Kamis–Minggu, 25–28 Juni 2026 di Ruang Pana Kompleks Kampoeng Media, Jalan Sembada No. 176-D, Ngaglik, Sleman, pukul 10.00 hingga 21.00 WIB. Festival terbuka untuk umum dan gratis.

Mengusung tema "Mesin Waktu Penjelajah Buku", festival ini dirancang sebagai ruang perjumpaan bagi seluruh pihak dalam ekosistem perbukuan anak, mulai dari pembaca, orang tua, penulis, ilustrator, peneliti, penerbit, hingga pegiat literasi.

Penyelenggaraan festival berangkat dari kegelisahan atas minimnya dokumentasi dan kajian yang memetakan perjalanan perbukuan anak Indonesia secara menyeluruh.

"Hingga kini belum ada kajian maupun kegiatan yang mendokumentasikan perjalanan masa lalu hingga masa kini perbukuan anak Indonesia, beserta dengan state-of-the-art-nya, secara menyeluruh," ujar Ayenni.

Ilustrasi orang tua membacakan buku cerita untuk anak. Foto: Canva.

Festival ini digagas sebagai langkah awal untuk mengisi kekosongan tersebut, sekaligus mengundang seluruh pelaku perbukuan untuk bersama menemukan dan membangun identitas sastra anak Indonesia.

Beragam program disiapkan untuk menjangkau berbagai kalangan. Rangkaian kegiatan mencakup pameran, diskusi, lokakarya, pertunjukan, bazar buku anak, hingga program pitching and matching yang mempertemukan penulis dan ilustrator langsung dengan penerbit.

Ilustrasi bazar buku. Foto: Canva.

Tersedia pula program "Buku untuk Semua" dan penghargaan "Ilustrasi Terbaik Pilihan Anak".

Selain pameran utama, festival juga menghadirkan Pameran Tamu Buku Anak Indonesia dan Korea Selatan. Sejumlah narasumber dari berbagai lini perbukuan anak dijadwalkan hadir dalam sesi diskusi, di antaranya Hanie Maria sebagai representasi pembaca, Riris K. Toha Sarumpaet selaku peneliti sastra anak, serta ilustrator Ikku Nala dan Yoyok.

Informasi lengkap mengenai jadwal kegiatan dan pendaftaran dapat diakses melalui akun Instagram @aliansimekarpukulempat.