Konten dari Pengguna

Resahkan Penduduk, Putri Singgulung, Seekor Harimau Sumatera Betina Dievakuasi

Pandangan Jogja Com

Pandangan Jogja Comverified-green

email: pandanganjogja@gmail.com

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pandangan Jogja Com tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Dokumen PR-HSD
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Dokumen PR-HSD

Karena terlibat konflik dengan penduduk, Putri Singgulung, seekor harimau sumatera betina remaja harus dievakuasi dari wilayah teritorinya di Bukit Singgulung, Nagari Gantung Ciri, Kubung, Solok, Sumatera Barat. Usia Putri baru setahun, ketika dia masuk ke kandang jebak yang terpaksa dipasang oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar.

Penangkapan ini dilakukan pada Sabtu (13/6) kemarin untuk menenangkan warga setempat yang dibuat resah sejak kemunculannya bersama induk dan saudaranya sejak sebulan silam. Setelah terperangkap dan terpisah dari keluarganya, Putri kemudian diselamatkan BKSDA Sumbar dan segera ditranslokasi ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PR-HSD).

Awal-awal ditranslokasi ke PR-HSD, kondisi Putri sempat tidak stabil. Raut mukanya juga menunjukkan kesedihan yang mendalam karena terpisah dengan keluarganya. Setelah dilakukan rekam medis oleh Tim Medis PR-HSD pada Selasa (16/6), secara keseluruhan kondisi Putri sangat baik tanpa ada kelainan fisik.

“Kondisinya sangat baik, berat badannya 49,3 kilogram, panjang kepala sampai ujung ekor 175 cm, panjang kepala sampai pangkal ekor 101 cm dengan tinggi badan 73 cm,” kata Saruedi Simammora, dokter hewan di PR-HSD saat dihubungi, Selasa (23/6).

Foto: Dokumen PR-HSD

Selain itu, sudah dilakukan pengambilan sampel darah dan feses juga oleh Tim Medis PR-HSD, dan hasilnya tidak ada masalah sama sekali. Kondisi Putri sangat sehat, hanya mengalami luka lecet di bagian hidung dan sudah diobati.

Namun sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya, Putri harus menjalani masa rehabilitasi selama 14 hari sejak 14 Juni kemarin. Setiap hari, Putri juga menunjukkan perkembangan yang sangat baik.

“Kondisinya saat ini sangat baik dan sehat, nafsu makannya juga bagus. Putri sedang kita karantina sejak kedatangannya tanggal 14 Juni hingga 14 hari,” lanjut Saruedi.

Masa karantina menurut Saruedi bertujuan untuk melakukan observasi kesehatan dan perilakunya sebelum dilepasliarkan. Untuk menjaga kondisinya selama karantina, Putri diberi pakan berupa daging babi hutan, sapi, atau kerbau. Sesekali, dia juga diberi multivitamin untuk menjaga kondisinya tetap prima.

PR-HSD juga tengah melakukan survei lokasi lepas liar, untuk memastikan lokasinya aman baik untuk Putri maupun untuk warga. Dengan begitu, konflik antara harimau dengan warga tidak terjadi lagi.

“Karena lokasi pelepasliaran harus dipastikan aman baik bagi satwa maupun manusia,” lanjutnya.

Konflik antara harimau dengan warga kata Saruedi memang masih kerap terjadi. Konflik ini terutama terjadi antara harimau dengan petani. Seperti yang terjadi di Solok, beberapa kali Putri sering muncul di sekitar perkebunan warga yang sedang melakukan pembukaan lahan di dekat hutan lindung yang merupakan wilayah teritori Putri.

“Kebetulan akhir-akhir ini ada konflik dengan masyarakat yang membuka lahan di dekat hutan lindung, sehingga harimau sering muncul di ladang masyarakat,” ujar Saruedi. (Widi Erha Pradana / YK-1)