Kumparan Logo
Konten Media Partner

10.000 Pelaku Balap Liar di DIY Terjaring Razia, Kota Yogya Jadi Penopang

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi balap liar. Foto: Reuters/Randall Hill
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi balap liar. Foto: Reuters/Randall Hill

Ditlantas Polda DI Yogyakarta mencatat 10.017 pelaku balap liar terjaring sepanjang Januari–Oktober 2025. Selain itu, terdapat 21.806 pengendara di seluruh DIY yang ditindak karena menggunakan kendaraan yang tidak sesuai spesifikasi teknis.

Kasat Lantas Polresta Jogja, AKP Alvian Hidayat, mengatakan sebagian besar aktivitas balap liar terjadi pada periode sebelum Agustus.

“Banyak, terutama sebelum bulan Agustus. Kami rutin melakukan penjaringan setiap malam,” ujarnya saat dihubungi Pandangan Jogja, Jumat (14/11).

Ia menyebut Kota Yogyakarta bukan menjadi lokasi utama balap liar, tetapi menjadi wilayah pergerakan para pelaku sebelum menuju titik balapan.

“Kalau yang betul-betul balap liar, biasanya lebih banyak di daerah yang jalurnya memungkinkan, seperti Kulon Progo atau Bantul. Untuk kota, posisinya lebih sebagai penopang,” tambahnya.

Alvian menjelaskan sebagian besar motor yang digunakan dalam aksi balap liar adalah kendaraan tidak standar yang sudah dimodifikasi.

“Beberapa hari terakhir sudah ada penindakan melalui tilang karena ada arahan khusus soal balap liar. Knalpot tidak standar ini erat kaitannya dengan balap liar,” katanya.

Untuk saat ini, sebagian besar pelanggar masih diberi teguran, kecuali yang menimbulkan gangguan signifikan. Polresta Jogja menerapkan patroli intensif sebagai langkah pencegahan.

“Ada patroli istimewa khusus Satlantas tiap tiga jam dari pagi sampai jam 9 malam. Setelah itu, malamnya ada patroli gabungan Lantas dan Samapta,” jelasnya.

Selain knalpot brong, patroli juga menyasar potensi lain seperti anak muda yang membawa sajam. Menurut Alvian, sebagian besar pelaku balap liar merupakan pelajar.

Titik kumpul mereka sebelum bergerak ke lokasi balapan turut dipantau. Ia menegaskan bahwa pencegahan dilakukan melalui edukasi.

“Tindakan pre-emptive kami adalah sosialisasi ke sekolah-sekolah. Itu tidak hanya dilakukan Satlantas, tetapi juga fungsi lain termasuk Bhabinkamtibmas dan tokoh masyarakat. Karena pada akhirnya, orang tua tetap harus menjadi garda terdepan,” pungkasnya.