Kumparan Logo
Konten Media Partner

ASITA DIY: Heboh Tiket Borobudur Cermin Mismanajemen World Destination Heritage

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Jangan sampai tiket Rp 750 ribu ini hanya upaya menambah pemasukan di tengah menurunnya jumlah kunjungan. Ini akan jadi mismanajemen World Destination Heritage.

Seorang Bikhu sedang sembahyang di Candi Borobudur. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Seorang Bikhu sedang sembahyang di Candi Borobudur. Foto: Istimewa

Ketua Asosisiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (ASITA) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Hery Setyawan menilai bahwa heboh tiket naik Candi Borobudur Rp 750 ribu dari yang sebelumnya gratis adalah cermin mismanajemen World Destination Heritage.

“Sekitar 70 persen paket perjalanan wisata yang kita jual ke luar negeri maupun domestik pasti menyertakan destinasi Borobudur. Dan kita jualannya sudah sejak setahun lalu, kalau tiba-tiba naik bagaimana menjelaskan ke semua partner bisnis kita di dalam dan di luar negeri dan tentu klien kecewa,” kata Hery saat dihubungi Senin (6/6).

Hery membandingkan dengan kebijakan umrah dan haji di Arab Saudi yang juga tidak bisa memberlakukan perubahan kebijakan tiba-tiba dan terkesan seenaknya.

kumparan post embed
kumparan post embed

Harga paket perjalanan wisata yang berubah sewaktu-waktu jelas akan mempengaruhi wajah industri wisata Indonesia di mata dunia. Padahal, menurut Hey, jika dilakukan dengan terstruktur pasti turis domestik maupun stakeholder wisata dunia akan menghargainya. Lebih dari itu, Candi Borobudur sebenarnya sudah bukan hanya milik Indonesia tapi sudah World Destination Heritage.

“Jangan sampai justru tiket Rp 750 ribu ini hanya upaya menambah pemasukan di tengah menurunnya jumlah kunjungan? Mau tidak repot jualan tapi tidak mau kehilangan duit pemasukan. Ini akan jadi mismanajemen Indonesia dalam menangani sekelas World Destination Heritage,” tandas Hery seraya menambahkan tekanan pada penanganan Candi Borobudur yang menurutnya,”menangani World Heritage kok seperti itu.”

Candi Borobudur. Foto: Kemenparekraf

Menurut Hery, pariwisata adalah sektor yang paling pertama terpuruk saat pandemi datang dan paling akhir saat pandemi mulai berangsur pergi. Saat ini pariwisata pelan-pelan bangkit, pemerintah semestinya mengambil kebijakan yang berpandangan ke depan dengan perencanaan yang jelas.

“Paket wisata Rp 1 juta sampai puluhan juta, dalam dan luar negeri, pasti menyratakan Borobudur sebagai itenary. Kalau tiba-tiba heboh tarif begini, repot semua. Ingat wisata penyumbang devisa dan 60 persen ekonomi Yogya itu tergantung pada wisata, pada Borobudur,” jelas Hery.

kumparan post embed

Untuk itu ASITA DIY meminta pemerintah untuk menunda kebijakan ini setidaknya setahun ke depan. Di masa transisi ini pemerintah bisa menerapkan visiting manajemen di mana alasan kenaikan itu bisa dipahami publik dalam dan luar negeri. Selain itu Asosiasi Perjalanan Wisata juga bisa menambah itenary-itenary lain sebagai alternatif niket naik Candi Borobudur Rp 750 ribu.

“Siapa yang tidak mau Candi Borobudur jadi lebih bagus? Kita perlu dukungan dengan pengambilan kebijakan yang terstruktur dengan baik,” pungkas Ketua Asosisiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (ASITA) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Hery Setyawan.