Bocah SD di China Sudah Biasa Rancang Robot, di Indonesia SMA Baru Mulai Belajar
·waktu baca 3 menit

Seribu lebih pelajar dari China berkumpul di Jogja dalam Kejuaraan Robotika VEX Asia-Pasifik 2023 ke-16 di Jogja Expo Center (JEC). Kompetisi ini berlangsung selama tiga hari, dari 27 sampai 29 Januari 2024.
Selain dari China, beberapa peserta juga ada yang datang dari negara lain seperti Indonesia, Singapura, Thailand, Macau, Jepang, Korea, hingga Amerika. Namun, pelajar China adalah yang terbesar mengingat penyelenggara utama kompetisi itu adalah Asian Robotics League yang berbasis di China.
Tahun ini, mereka menggandeng Taman Pintar dan Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE) FMIPA UGM untuk menggelar kompetisi tersebut di Jogja untuk pertama kalinya.
Dalam kompetisi itu, para peserta bahkan yang dari kelompok TK dan SD terlihat sudah terbiasa merancang dan merakit robot. Banyak dari mereka terlihat berlatih secara mandiri tanpa didampingi oleh pelatihnya.
“Ini yang berbeda dengan kompetisi di Indonesia. Kalau di kita yang banyak berperan malah guru atau pelatihnya, kalau mereka sudah sangat mandiri,” kata panitia lokal dari Taman Pintar, Lukman Yoga Suryawan, Sabtu (27/1).
Hal ini menurutnya karena di China sudah ada kompetisi robotika untuk usia dini yang digelar rutin setiap tahun. Karena itu, sekolah-sekolah di sana juga memberikan perhatian yang lebih untuk mengembangkan kelas robotika.
“Di Jogja sebenarnya sudah ada beberapa sekolah dasar yang punya kelas robotika, tapi memang tidak banyak, baru beberapa sekolah swasta saja,” ujarnya.
Selain itu, di Indonesia, termasuk di Jogja, sampai saat ini memang masih minim kompetisi-kompetisi untuk usia dini. Padahal, minatnya menurutnya cukup bagus.
Sejauh ini, kontes-kontes robotika yang rutin digelar di Indonesia baru dapat mewadahi mahasiswa dan pelajar di tingkat SMA/SMK. Kontes Robot Indonesia (KRI) misalnya, yang digelar pemerintah tiap tahun baru mengakomodir peserta mahasiswa.
Beberapa kampus di Jogja sebenarnya juga kerap mengadakan kompetisi robot, namun pesertanya juga baru menjangkau mahasiswa dan pelajar di level SMA/SMK.
“Jadi untuk usia dininya ini belum ada yang mengakomodir, ini yang harus kita perbanyak, apalagi kita ini Kota Pelajar, sekolah-sekolah sangat banyak, minat dari pelajar kita juga cukup besar,” kata dia.
Paul Crowe, pelatih tim dari Surabaya Intercultural School (SIS), satu-satunya tim dari Indonesia yang jadi peserta di kompetisi ini juga melihat bidang robotika dari anak-anak SD di China sudah sangat pesat.
Di lomba tersebut, ia menyaksikan anak-anak SD dari China tersebut sudah terlihat sangat terbiasa merancang dan merakit robot. Mereka saling bekerja sama satu sama lain dan melakukannya secara mandiri.
“Kami belajar sangat banyak di sini. Indonesia harus mulai mengejar ketertinggalan ini,” kata Paul.
Kompetisi ini diikuti sekitar 1.500 peserta dari 440 tim. Mereka mayoritas berasal dari China, meski beberapa ada yang datang dari Indonesia, Singapura, Thailand, Macau, Korea Selatan, dan Jepang.
Pemenang dari kompetisi ini nantinya akan dikirim ke VEX Robotics World Championship pada April-Mei mendatang.
