Kumparan Logo
Konten Media Partner

Dirjen Dikti: Kampus Masih Jalan Sendiri, Kurang Mengerti Kebutuhan Pasar

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbud Ristek, Prof Nizam. Foto: Widi RH Pradana
zoom-in-whitePerbesar
Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbud Ristek, Prof Nizam. Foto: Widi RH Pradana

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbud Ristek, Nizam, mengatakan bahwa kampus-kampus di Indonesia masih memiliki kendala untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan dunia industri dan masyarakat.

Hal itu menurut Nizam karena seringkali perguruan tinggi masih bergerak di dalam ruang-ruang yang terlampau sempit dalam bidangnya masing-masing.

“Misalnya teknik mesin ya hanya mempelajari mesin, komputer hanya belajar komputer, dan sebagainya,” kata Nizam saat ditemui usai acara peresmian Badan Pengembangan Inovasi dan Hilirisasi Industri (BPIHI) di Fakultas Teknik UGM, Jumat (3/3).

kumparan post embed

Sekat-sekat yang membatasi tiap bidang itu menurut Nizam perlu dihilangkan, sehingga lulusan yang dihasilkan bisa memahami masalah lebih komprehensif. Dengan begitu, kampus dapat menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan dunia industri dan masyarakat luas.

“Itu yang harus kita jebol tembok-tembok antardepartemen, sehingga memungkinkan kolaborasi antardepartemen, antarfakultas, dan yang lebih penting lagi kolaborasi antara kampus dengan dunia kehidupan nyata, industri dan masyarakat,” ujarnya.

Dia berharap, kurikulum Kampus Merdeka yang ada saat ini mampu menghilangkan sekat-sekat tersebut dan memungkinkan kolaborasi lintas sektor. Pasalnya, melalui program Kampus Merdeka, kini mahasiswa punya kesempatan untuk mencari ilmu dan pengalaman yang lebih banyak di luar kelas.

“Jadi adik-adik mahasiswa keluar dari kampus, membawa bekal ilmunya sambil didampingi dosennya sehingga mereka bisa mengalami sendiri permasalahan nyata yang ada di lapangan,” kata Nizam.

kumparan post embed

Selain itu, melalui program Kampus Merdeka tersebut tenaga-tenaga profesional juga diundang ke dalam kampus sesuai dengan jurusannya.

“Supaya problem-problem dari dunia profesi itu bisa menjadi bahan diskusi di dalam kelas,” ujarnya.

Ada juga program Matching Fund Kedaireka, yang akan membiayai riset-riset di perguruan tinggi yang relevan dengan kebutuhan di dunia industri maupun masyarakat luas.

“Jadi tidak ada lagi riset-riset yang hanya sekadar canggih, tapi sebenarnya tidak menjawab permasalahan yang ada di masyarakat,” kata dia.