Fakta 210 Ton Sampah Kota Yogya dalam Sehari: Rumah Tangga Sumbang 63,7 Persen

Sektor rumah tangga menjadi penyumbang sampah terbesar di Kota Yogyakarta. Berdasarkan survei timbulan sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta yang bekerja sama dengan LKFT UGM dan Bappeda Kota Yogya pada tahun 2021, ditemukan bahwa sumbangan sampah dari sektor permukiman rumah tangga mencapai 63,7 persen dari total produksi sampah Kota Yogyakarta.
Dalam survei tersebut, sektor rumah tangga menyumbang sampah sebesar 190,53 ton per hari. Sedangkan sektor non permukiman menyumbang sampah sebesar 108,34 ton per hari.
“Jadi produsen sampah terbesar memang dari permukiman atau dari rumah tangga,” kata Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan DLH Kota Yogya, Ahmad Haryoko, saat ditemui di kantornya pada Kamis (27/7).
Dengan jumlah penduduk Kota Yogya sebesar 373.589 (BPS 2020), maka rata-rata setiap hari satu warga Yogya menghasilkan sampah sebesar 0,51 kilogram.
Adapun sektor non permukiman penyumbang sampah yang dimaksud mulai dari perhotelan, restoran, hingga sektor pendidikan seperti sekolah dan kampus.
Karena menjadi penyumbang sampah terbesar, sektor permukiman mendapat perhatian khusus dari Pemkot Yogya. Salah satu upaya untuk menekan produksi sampah dari permukiman adalah dengan diberlakukannya kebijakan Gerakan Zero Sampah Anorganik oleh Pemkot Yogya sejak Januari tahun ini.
Dengan diterapkannya gerakan ini, setiap rumah tangga di Kota Yogya wajib memilah sampahnya sendiri-sendiri. Sampah anorganik yang dihasilkan kemudian disetorkan ke bank sampah yang tersedia, sedangkan sampah organiknya dibuang ke depo sampah sebelum dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA).
“Gerakan ini sudah berjalan sekitar 7 bulan, dan berhasil mengurangi sampah hingga 87 ton per hari,” ujarnya.
Capaian itu menurutnya cukup menggembirakan, karena membuktikan bahwa masyarakat sebenarnya bisa diajak bekerja sama untuk mengatasi masalah sampah di Yogya. Kini, sampah yang disetorkan Kota Yogya ke TPA rata-rata ada di angka 210 ton per hari dari yang sebelumnya sekitar 300 ton per hari.
“Kami rasa ini sudah sangat optimal, kami acungi dua jempol untuk warga Jogja. Yang masalah kan sekarang di hilir, di tempat pembuangan residunya yang terbatas,” kata Ahmad Haryoko.
