Indonesia Surga Tanaman Hias, Kenapa Selalu Ribut Ngomongin Padi?

Konten Media Partner
21 Januari 2022 14:08
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
ADVERTISEMENT
Ekspor tanaman hias dinilai bisa jadi jalan keluar bagi kemiskinan petani. Sebab Indonesia adalah surga kecil yang diberkahi Iklim yang sangat bersahabat bagi pertumbuhan tanaman hias.
Ilustrasi tanaman hias. Foto: Kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tanaman hias. Foto: Kumparan
Petani jadi kelompok masyarakat yang langganan masuk dalam kelompok masyarakat miskin di Indonesia. Rata-rata kepemilikan lahan yang hanya seluas 0,3 hektar, selalu disebut-sebut sebagai biang kemiskinan petani di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, bukan berarti petani hanya bisa diam dan meratapi kemiskinannya saja sembari menunggu kebijakan pemerintah untuk mengentaskan mereka keluar dari garis kemiskinan.
Wakil Ketua Perhimpunan Horti Ekspor Milenial Indonesia (Perhemi), Liling Watiyasita, mengatakan bahwa masih ada jalan bagi petani untuk keluar dari jurang kemiskinan. Salah satu yang paling masuk akal adalah dengan menambah variasi komoditas tanaman yang mereka tanam, tidak melulu menanam padi saja.
“Karena dengan lahan terbatas, hanya mengandalkan padi ya mustahil bisa untung,” kata Ita, panggilan akrab Liling Watiyasita, ketika dihubungi, Selasa (18/9).
Perhemi. Foto: Dok. Perhemi.
zoom-in-whitePerbesar
Perhemi. Foto: Dok. Perhemi.
Ada banyak jenis tanaman yang punya nilai ekonomi tinggi, sehingga bukan hanya bisa membantu perekonomian petani tapi juga bisa mengeluarkan mereka dari jurang kemiskinan. Salah satunya adalah tanaman hias.
ADVERTISEMENT
Ita bercerita pada tahun ini, 7 bulan berdiri Perhemi sukses mengekspor secara eceran senilai hampir Rp 600 juta dan menargetkan pada 2022 ini bisa melesat menjadi Rp 3 miliar.
Dan tak seperti padi yang membutuhkan lahan luas, bahkan sekadar untuk balik modal, tanaman hias hanya perlu lahan yang terbatas, sebutlah 100 meter persegi saja, petani bisa menghasilkan pendapatan hingga ratusan juta. Lalu, bagaimana jika sama sekali tak punya lahan karena tinggal di tengah permukiman padat misalnya?
“Selama masih ada dinding dan genting, masih bisa buat bertani tanaman hias yang menghasilkan. Dan pemerintah bisa fokus membuka jalan ekspor. Tanaman hias kita ini laku keras di luar negeri,” ujarnya.
Dengan kepemilikan lahan yang sempit, tanaman hias menurut dia bisa jadi pilihan yang tepat. Tentunya dibarengi dengan perawatan dan pemasaran yang baik. Peluang semakin besar karena semakin hari jumlah penghobi atau pecinta tanaman hias juga terus tumbuh dan bertambah.
ADVERTISEMENT
Apalagi Indonesia menurutnya adalah surga bagi para petani tanaman hias. Iklim yang hangat, matahari yang bersinar sepanjang tahun, sangat bersahabat dengan pertumbuhan tanaman hias. Tak hanya itu, Indonesia juga memiliki dataran tinggi dan rendah yang tidak terlalu jauh sehingga memudahkan proses distribusi.
Dari sisi masyarakatnya, Indonesia memiliki kultur pertanian yang sangat kuat. Bahkan sejak berabad-abad, masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat agraris, sehingga mentalnya sebagai petani tak diragukan lagi. Bukan petani kemarin sore yang mentalnya masih lembek. Semua itu menurut Ita mesti disyukuri dengan cara memanfaatkannya sebaik mungkin.
“Jangan bicaranya pangan saja, masa dari merdeka sampai sekarang sudah puluhan tahun masih ngomongin pangan, enggak beranjak-anjak,” kata Liling Watiyasita.