Ekspor Tanaman Hias dari Jogja Melesat, Kuping Gajah Rp 30 Ribu Laku 430 Ribu

Konten Media Partner
21 Januari 2022 12:55
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi kuping gajah. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kuping gajah. Foto: Istimewa
ADVERTISEMENT
Tanaman hias dari para petani di Jogja laku keras di pasar ekspor. Tanaman-tanaman yang di pasar lokal hanya dihargai puluhan ribu, oleh pasar ekspor bisa laku hingga 10 kali lipat lebih. Hanya 7 bulan mulai diekspor pada tahun lalu, tanaman hias Jogja mampu membukukan penjualan Rp 590 juta dan di tahun depan ditargetkan bisa melonjak sampai Rp 3 miliar.
ADVERTISEMENT
Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua Perhimpunan Horti Ekspor Milenial Indonesia (Perhemi), Liling Watiyasita. Salah satu komoditas tanaman yang peningkatan harganya fantastis adalah tanaman kuping gajah. Di pasar domestik, kuping gajah hanya dihargai sekitar Rp 30 ribu, tapi ketika diekspor ke AS, harganya naik berkali-kali lipat jadi 30 dolar AS atau sekitar Rp 430 ribu (kurs Rp 14.356).
“Masih banyak lagi, terutama keluarga philodendron, monstera, janda bolong, dan anthurium,” ujar Ita, panggilan Liling Watiyasita, Selasa (18/1).
Tanaman hias koleksi Liling Watiyasita. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Tanaman hias koleksi Liling Watiyasita. Foto: Istimewa
Monstera hijau, salah satu jenis monstera paling murah yang di Indonesia dijual dengan harga Rp 50 ribuan saja, dijual ke pasar ekspor bisa mencapai Rp 500 ribu per batang. Untuk monstera yang memiliki corak atau monstera varigata, tentu harganya jauh lebih tinggi.
ADVERTISEMENT
Bahkan tanaman yang di Indonesia harganya hanya sekitar Rp 5 ribu seperti krokot di pasar ekspor harganya mencapai Rp 150 ribu.
“Itu kan sudah 30 kali lipatnya,” ujarnya.
Ketua Umum Perhemi, Triadi Nugroho, mengatakan bahwa bukan hanya tanaman hias yang laris manis di pasar ekspor. Bibit tanaman buah dan sayur dari para petani Jogja juga laku di pasar ekspor dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Misalnya bibit tanaman tin yang selama ini sangat digemari oleh negara-negara Timur Tengah. Satu batang bibit tin tanpa akar dan daun, bisa dihargai antara 30 sampai 100 dolar, tergantung jenisnya. Sejak pertama beroperasi tahun lalu, selama tujuh bulan Perhemi telah mengekspor bibit tin ke Timur Tengah lebih dari 12 kali dengan nilai rata-rata Rp 40 juta sampai Rp 60 juta.
ADVERTISEMENT
“Itu hanya skala sedikit, cuman satu kotak kecil isi 60 batang,” ujar Triadi.
Bahkan bibit kangkung dan bayam, yang di Indonesia harganya satu plastik berisi 100 biji bibit diharga Rp 2.500, ketika mereka ekspor ke Cayman Island harganya jadi 5 dolar.
Tahun kemarin, para petani di Jogja telah mengekspor tanaman-tanamannya ke 14 negara melalui Perhemi, mulai dari pasar Amerika, Eropa, Timur Tengah, hingga Australia. Sejauh ini, Amerika jadi pasar paling besar, dengan prosentasi sekitar 50 persen dari total pembeli. Hal ini salah satunya karena regulasi di Amerika tidak sesulit di negara-negara lain. Apalagi saat ini mereka sedang menutup pintu untuk tanaman-tanaman dari Thailand yang merupakan salah satu pesaing terbesar Indonesia.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, Australia jadi negara dengan peraturan yang paling ketat. Namun, nilai satu kali transaksi mereka termasuk salah satu yang paling besar. Hal ini karena tanaman yang mereka datangkan memang tanaman-tanaman dengan nilai yang cukup tinggi, mulai dari Rp 3 juta sampai Rp 30 juta per batangnya.
Sampai saat ini, ada sekitar 25 petani yang telah bergabung dengan Perhemi, meskipun baru 13 petani yang sudah bisa mengekpor produknya. Meski begitu, dalam waktu tujuh bulan kemarin, nilai ekspor yang didapatkan hampir Rp 600 juta. Dan tahun ini, dengan persiapan dan strategi yang makin matang, Perhemi menargetkan nilai ekspor akan meningkat sekitar lima kali lipat.
“Jadi targetnya tahun ini nilai ekspor kita bisa mencapai Rp 3 miliar,” kata Triadi Nugroho.
ADVERTISEMENT