Kumparan Logo
Konten Media Partner

Jadi Pecundang saat Mendaki Gunung Kembang Wonosobo di Detik Terakhir 2021 (1)

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tanpa terasa, bersamaan dengan tawa itu mata saya mulai berkaca. Kami berdua di ujung putus asa.

Selepas jalur kebun teh memasuki jalur pendakian hutan Gunung Kembang yang berupa hutan semak belukar dan tanjakan curam. Foto diambil ketika turun, hari telah terang. Foto: Willy Andryan.
zoom-in-whitePerbesar
Selepas jalur kebun teh memasuki jalur pendakian hutan Gunung Kembang yang berupa hutan semak belukar dan tanjakan curam. Foto diambil ketika turun, hari telah terang. Foto: Willy Andryan.

Letupan kembang api mulai terdengar. Dari celah rimbunnya pohon di hutan Gunung Kembang, Wonosobo, terlihat pesta kembang api sudah dimulai di antara gemerlap lampu kota Wonosobo. Tanpa melihat jam, kami tahu bahwa tahun 2021 sudah berakhir, berganti menjadi 2022. Sementara itu, di tengah hutan ini, kami yang bahkan belum sampai di pos pertama, mulai putus asa dan mempertimbangkan opsi untuk turun.

Kami istirahat sejenak, sembari merenungi kegagalan masing-masing di tahun 2021. Renungan kami buyar, ketika hujan kembali turun tak sampai semenit setelah letupan kembang api pertama.

Belum sempat berdoa dan mengucapkan doa untuk tahun 2022, kami mesti bergegas sebelum hujan makin deras. Beban belasan kilogram di punggung, ditambah sepatu yang basah dan penuh lumpur membuat langkah kami makin berat. Apalagi sejak awal perjalanan, jalur pendakian langsung menanjak, terutama ketika memasuki kawasan hutan selepas perkebunan teh.

Kebun teh awal perjalanan menuju Gunung Kembang. Foto: Willy Andryan

Di bawah sana, pesta kembang api sudah usai. Yang tersisa kini hanya suara hujan, angin, katak, serta suara binatang-binatang malam lain yang menyatu menjadi orkestra alam yang menakutkan. Tapi sudah tak ada tempat untuk rasa takut itu dalam diri kami, karena satu-satunya yang ada di pikiran kami sekarang adalah bagaimana secepat mungkin sampai di pos Sabana 1, tempat pertama yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda.

Sebelum berangkat, petugas basecamp pendakian Gunung Kembang via Blembem memang sudah melarang kami untuk mendirikan tenda di dalam hutan, kecuali dalam keadaan darurat. Benar saja, jika pun dibolehkan, kami tetap tak bisa mendirikan tenda karena sama sekali tak ada tempat datar yang bisa dipakai untuk mendirikan tenda. Jangankan mendirikan tenda, untuk duduk saja sulit.

Semakin masuk ke dalam hutan, semak dan pepohonan semakin lebat. Jalur semakin menanjak. Entah berapa kali kami terjatuh karena tersandung akar-akar pohon yang melintang di tengah jalur atau terpeleset jalan yang licin. Yang membuat perjalanan makin berat, sama sekali tak ada tempat istirahat di sepanjang jalur. Kondisi jalan yang berlumpur, membuat kami tak mau ambil risiko untuk asal duduk, karena bisa saja di dalam lumpur itu ada pacet (sejenis lintah) atau binatang apapun yang bisa jadi mimpi buruk sepanjang malam. Di dalam gelap seperti ini, satu-satunya yang bisa dipercaya hanyalah akal.

“Bodo amat lah, pacet urusan belakang,” kata Willy Andryan, satu-satunya teman pendakian saya ketika menjatuhkan tubuhnya ke jalan yang berlumpur. Kakinya tak bisa diajak kompromi, beban di punggungnya seperti bertambah dua kali lipat.

Jalur pendakian di dalam hutan Gunung Kembang tampak di siang hari saat kami mulai turun. Foto: Widi Erha Pradana

Ya, pendakian kali ini kami hanya berdua. Sebelumnya, saya dan Willy juga sempat mendaki bersama awal 2020 sebelum pandemi. Saat itu, gunung yang kami daki adalah Ungaran, di Kabupaten Semarang, yang ketinggiannya tak jauh beda dengan Gunung Kembang yang sedang kami daki.

Saya masih berusaha sekuat tenaga untuk tidak duduk. Hanya mengambil sikap rukuk, sembari menarik napas panjang dan mengeluarkannya bersama teriakan yang hampir tak terdengar suaranya. Cukup lama kami terdiam, sama-sama mengatur napas yang makin tersengal sebelum melanjutkan perjalanan. Ya, sudah tak ada pilihan lain bagi kami selain melanjutkan perjalanan, sebab turun dalam kondisi seperti ini juga tak akan lebih baik.

“Parah, aku enggak akan balik ke sini lagi, jalurnya enggak logis,” kata Willy, ketika untuk kesekian kalinya tersungkur di jalur setapak berlumpur menjatuhkan semua beban yang dia bawa.

Mendengar perkataan Willy, saya hanya tertawa dengan tenaga yang tersisa sembari mengambil sikap ruku' supaya beban di punggung sedikit ringan. Ada benarnya yang dikatakan Willy, sejauh ini, pendakian paling berat yang pernah saya lalui adalah Lawu dan Sumbing, namun keduanya terasa berat karena jalurnya yang sangat panjang.

Di salah satu titik pendakian yang naik curam, kami harus menggunakan tali. Perjalanan yang sungguh menyiksa. Foto: Widi Erha Pradana

Sedangkan jalur pendakian Kembang sebenarnya pendek, namun nyaris tak ada jalan bonus (istilah kami untuk menyebut jalan landai). Apa lagi nyaris tak ada tempat yang layak untuk istirahat di sepanjang jalur pendakian. Tak ada shelter di tiap pos, seperti di gunung-gunung pada umumnya. Pos di Gunung Kembang, terutama di jalur hutan, hanya berupa papan nama yang terpasang di pohon, sebagai tanda bahwa tempat itu adalah pos. Satu-satunya shelter adalah Istana Katak, yang berada di tengah kebun teh.

“Niatnya healing, malah dibikin makin sinting,” jawab saya masih terus tertawa.

Tanpa terasa, bersamaan dengan tawa itu mata saya mulai berkaca. Tak hanya Willy, saya juga sudah berada di ujung putus asa.

Semangat saya untuk mencapai puncak makin redup, seperti sinar senter yang kami bawa, padahal kami tak tahu sepanjang apa lagi perjalanan yang harus kami lalui. (Bersambung)

*Ini adalah seri pertama dari 3 seri tulisan pendakian Gunung Kembang, Wonosobo. Simak seri 1 dan 2 di bawah ini:

kumparan post embed
kumparan post embed