Jatuh Cinta pada Keris Gara-Gara Pakai Keris Jelek Sewaan di Acara Pernikahan
·waktu baca 3 menit

Rahadi Saptata Abra, seorang kolektor keris di Yogyakarta, justru mengenal keris dari keris-keris jelek yang biasa disewakan sebagai properti busana dalam acara pernikahan. Saat itu, pada tahun 90-an usianya baru 20-an tahun, Abra dan para saudara laki-lakinya menjadi pagar bagus di acara pernikahan kakak perempuannya.
Saat acara ijab kabul, beberapa busana yang dikenakan Abra dan saudara-saudara laki-lakinya berasal dari penyewaan, seperti kain jarik, blangkon, serta keris.
“Salah satu budhe saya melihat itu marah, gimana sih kok pakai keris jelek, kan keris warisan eyang banyak,” kata Rahadi Saptata Abra saat ditemui di Pagelaran Mahakarya Keris Kamarogan Nusantara di Ndalem Poenakawan, Yogyakarta, Sabtu (27/5).
Budenya yang merupakan salah satu istri Pangeran Keraton Yogyakarta, yakni Bendoro Raden Ayu Pudjo Kusumo, memang cukup kekeh agar keponakan-keponakannya menggunakan keris asli, bukan keris imitasi dari seng atau aluminium yang biasa disewakan untuk busana pernikahan.
“Jadi pakde dan om-om saya siangnya setelah ijab itu datang semua ngantar keris asli tinggalannya eyang saya untuk dipakai saat resepsi malam harinya,” jelasnya.
Dari situ, Abra baru tahu kalau ada keris yang dibuat dari emas, gading, juga berlian. Dia baru tahu ternyata keris bisa dibuat dengan sangat indah, tak seperti keris-keris yang dia kenal selama ini.
“Karena sebelumnya referensinya keris-keris sewaan itu yang jelek, dibuat pakai seng. Kalau enggak ada kejadian itu, mungkin sampai sekarang saya juga enggak ngerti keris,” kata dia.
Setelah kejadian itu, Abra yang pada tahun 91-an masih jadi mahasiswa tingkat awal mulai mengulik dunia perkerisan. Dia mulai belajar tentang keris kepada salah satu omnya yang memang sudah lebih dulu mempelajari tentang keris. Semakin tahu tentang keris, semakin dia jatuh cinta.
Dari satu keris jenis Majapahit luk 5 yang dibeli seharga Rp 150 ribu (Rp 3 juta dengan nilai sekarang), koleksinya terus bertambah sampai ratusan bilah.
“Dari enggak punya keris hingga saya punya keris sampai 400 buah, tapi sekarang sudah berkurang banyak, paling tinggal 100-an,” kata Rahadi Saptata Abra.
Melihat pameran keris-keris kamarogan, jenis keris bertatah emas dalam Pagelaran Mahakarya Keris Kamarogan Nusantara, dia berharap nantinya juga akan ada anak-anak muda yang jatuh cinta pada keris seperti kisahnya 30 tahun silam.
Sebab, dalam pameran tersebut koleksi-koleksi yang dipamerkan telah dikurasi dengan baik sehingga hanya keris-keris berkualitas yang ditampilkan.
Hal ini menjadi penting, sebab saat ini banyak keris-keris yang sebenarnya baru dibuat namun dinarasikan sebagai keris tua bersejarah.
“Generasi muda kan selama ini tahunya keris ya keris yang disewakan itu, buat acara mantenan, buat among tamu, atau pagar bagus. Itu kan keris-kerisnya cuma seng yang jelek, dengan adanya pameran ini harapannya bisa menumbuhkan rasa ingin tahu sampai mereka bisa jatuh cinta sama keindahan keris,” ujarnya.
