Kumparan Logo
Konten Media Partner

Mahasiswa UGM, UNISA, dan UNU Yogya Paling Relate dengan Kampanye Lewat TikTok

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tangkap layar akun TikTok masing-masing capres. Foto: TikTok
zoom-in-whitePerbesar
Tangkap layar akun TikTok masing-masing capres. Foto: TikTok

Sejumlah mahasiswa di Yogya mengatakan mereka hanya relate dengan kampanye pasangan calon capres-cawapres melalui TikTok dan kampanye diskusi 2 arah. Sedangkan metode kampanye menggunakan baliho, spanduk, dan sejenisnya mereka anggap sudah ketinggalan zaman dan cuma mengganggu pemandangan saja.

Hal tersebut disampaikan oleh sebagian besar mahasiswa yang kami tanya secara acak dari tiga kampus, yakni Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogya, Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogya, dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Karena anak muda zaman sekarang kan bukanya TikTok. Kalau baliho kayaknya udah ketinggalan zaman,” kata salah satu mahasiswa UNU Yogya, Sofi, kepada Pandangan Jogja Rabu (17/1).

kumparan post embed

Mahasiswa UNU Yogya lain yang kami temui, seperti Hanum, Putri, Sidiq, Bahtiar, dan Fauzan juga mengakui hanya relate dengan kampanye lewat media sosial, terutama lewat TikTok. Apalagi kalau kontennya lucu dan santai.

Hal sama disampaikan banyak mahasiswa UNISA, seperti Bella,Yovinda, dan Rizky. Sedangkan mahasiswa lain, seperti Gian dan Abizar, lebih suka kampanye lewat forum-forum diskusi.

Mahasiswa UGM mengurus pindah memilih di posko yang disediakan di GOR Pancasila UGM, Kamis (11/1). Foto: Arif UT/Pandangan Jogja

Di UGM, juga ada dua jawaban terbesar. Ada yang suka kampanye lewat media sosial seperti Dita, Tasya, Mareta, Eni, dan Rafi, ada juga yang lebih relate dengan metode forum diskusi seperti Ratri, Yusril, Gazi, dan Aldrik.

“Misalnya hanya kampanye, pemaparan visi misi tanpa ada diskusi, saya rasa kurang terbuka aja, dan kita enggak tahu ke mana dia mau membawa masalah yang ada di Indonesia ke depan,” kata Ratri.

Forum diskusi menurut mereka membuka peluang untuk menggali lebih jauh tentang gagasan para calon, tak cuma komunikasi satu arah.

“Baliho buang-buang duit aja sih. Tapi mungkin masih diperlukan untuk mereka yang belum menggunakan sosial media,” ujarnya.