Mapala UGM Lakukan Penerbangan Paralayang Pertama dari Puncak Gunung Banda Neira

Konten Media Partner
17 November 2022 18:19
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Penerbangan paralayang pertama dari puncak Gunung Api Banda di Banda Neira. Foto: Dok. Mapagama
zoom-in-whitePerbesar
Penerbangan paralayang pertama dari puncak Gunung Api Banda di Banda Neira. Foto: Dok. Mapagama
ADVERTISEMENT
Tim Ekspedisi Paralayang dari Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Gadjah Mada (Mapagama) berhasil mencatatkan sejarah baru di Pulau Banda Naira, Maluku Utara.
ADVERTISEMENT
Empat mahasiswa dari tim ekspedisi tersebut berhasil melakukan penerbangan paralayang pertama dari puncak Gunung Api Banda yang memiliki ketinggian 640 mdpl pada 3 November 2022 silam. Mereka melakukan penerbangan tersebut bersama Pusat Pembinaan Potensi Kedirgantaraan (Puspotdirga) TNI AU.
“Kamis, 3 November 2022 menjadi capaian bersejarah bagi Mapagama. Cukup membanggakan tim Mapagama bisa terbang dengan paralayang pertama dari atas Puncak Gunung Api Banda," ujar Ketua Umum Mapagama, Bayu Nurrohman, di Kampus UGM, Kamis (17/11).
Bayu menjelaskan, total ada empat anggota Mapagama yang diberangkatkan ke Banda Neira untuk menjalankan ekspedisi ini. Mereka di antaranya Hanggara Tala Surya Sasmita dari Fakultas Filsafat dan Joanna Christie Tan dari Fakultas Hukum yang berperan sebagai pilot.
ADVERTISEMENT
Kemudian dua peneliti dan support teknis, Yusril Ihza Mahendra (Fakultas Ekonomi) dan Azarya Puruhita (Fakultas Kehutanan). Sedangkan Pustpotdirga TNI-AU memberangkatkan satu pilot, yaitu Serda Rajuu Andika.
Ekspedisi ini berlangsung selama 18 hari, dari 25 Oktober hingga 11 November 2022. Menurut Bayu, ekspedisi ini dilakukan bukan semata-mata untuk mencetak sejarah, tetapi sebagai wujud pengabdian tim Mapagama untuk membantu menggerakkan pariwisata minat khusus di Banda Naira.
“Dalam ekspedisi ini kami memang secara khusus mengangkat penelitian potensi pariwisata paralayang di Gunung Api Banda," ucapnya.
Dalam ekspedisi ini, tim Mapagama juga menggandeng Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) untuk bersama melakukan kerja sama dan pengabdian. Tim secara bersama melakukan identifikasi burung endemik di sekitar Gunung Api Banda.
ADVERTISEMENT
“Kami data dan kami melihat signifikansi dampaknya kepada spesies burung di sana, apabila ke depan sering ada aktivitas paralayang di sana," ujarnya.
Hanggara Tala selaku koordinator Tim Ekspedisi dan Penelitian menerangkan bahwa tim Mapagama kali ini mengusung tipe ekspedisi 'hike & fly'. Dimana percobaan terbang oleh tim hanya bisa dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan pendakian ke puncak gunung.
"Inilah yang menjadi tantangan terbesar yang dihadapi tim. Banyak aspek yang harus dipertimbangkan, aspek teknis penerbangan, penelitian, dan pendakian agar dapat dijalankan secara bersamaan," ungkap Hanggara.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020