Kumparan Logo
Konten Media Partner

Materi Uji Praktik SIM Baru Usulan Polres Bantul Adopsi Konsep Taiwan-Jepang

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Salah seorang personel polisi tengah melakukan simulasi konsep uji praktik SIM baru yang disusun oleh Polres Bantul di Satpas Polres Bantul, Senin (26/6). Foto: Widi RH Pradana
zoom-in-whitePerbesar
Salah seorang personel polisi tengah melakukan simulasi konsep uji praktik SIM baru yang disusun oleh Polres Bantul di Satpas Polres Bantul, Senin (26/6). Foto: Widi RH Pradana

Di tengah rencana Korlantas Polri melakukan studi banding ke luar negeri untuk mengevaluasi materi uji praktik SIM di Indonesia, Satuan Penyelenggara Administrasi SIM (Satpas) Polres Bantul justru telah menyusun konsep uji praktik SIM baru. Konsep itu telah disimulasikan di Satpas Polres Bantul pada Senin (26/4).

Ada beberapa perbedaan antara konsep uji praktik SIM yang diusulkan oleh Polres Bantul dengan materi uji praktik SIM yang berlaku sekarang, di antaranya adalah dihilangkannya tes berkendara zig-zag dan membentuk angka 8.

kumparan post embed

Anggota Tim Ahli penyusunan konsep uji praktik SIM di Satpas Polres Bantul yang merupakan peneliti di Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, Pangesti Wiedarti, mengatakan bahwa uji praktik SIM yang berlaku saat ini memang perlu diperbaiki karena tidak linier dengan uji teori dan kebutuhan di jalan raya.

Konsep yang disusun ini menurut dia juga telah mengadopsi konsep di beberapa negara lain seperti Taiwan, Jepang, hingga Australia.

“Kami juga membandingkan dengan (konsep) dari Taiwan, dari Jepang, lalu dari Australia, kebetulan saya pernah ke tiga negara ini, mudah-mudahan bisa diserap dengan baik untuk diusulkan secara nasional,” kata Pangesti Wiedarti di Satpas Polres Bantul, Senin (26/6).

Anggota Tim Ahli penyusunan konsep uji praktik SIM di Satpas Polres Bantul, Pangesti Wiedarti. Foto: Widi RH Pradana

Pangesti berharap konsep baru ini nantinya bisa diterapkan secara nasional sehingga bisa membuat masyarakat lebih tertib dalam berkendara. Pasalnya, konsep baru ini juga tidak hanya menonjolkan sisi keterampilan berkendara seperti konsep yang berlaku sekarang, tapi juga mengedepankan pengetahuan dan perilaku berkendara yang baik.

“Jadi mudah-mudahan bisa seperti negara maju yang tertib dalam berlalu lintas,” ujarnya.

Wakapolda DIY, Brigjen Pol R Slamet Santoso mengatakan bahwa nantinya konsep materi baru yang telah disusun oleh Polres Bantul ini akan dikembangkan di tingkat Polda sebelum diusulkan ke Mabes Polri.

“Mudah-mudahan kalau cocok bisa diberlakukan secara nasional,” kata Brigjen Pol R Slamet Santoso, Senin (26/6).

Salah satu lintasan u-turn yang ada dalam konsep uji praktik pembuatan SIM yang disusun Satpas Polres Bantul. Foto: Widi RH Pradana

Slamet menjelaskan bahwa ada beberapa perbedaan materi dalam konsep baru ini dibandingkan dengan konsep yang ada sekarang, terutama untuk ujian praktik. Pasalnya, sejak beberapa tahun lalu pelaksanaan ujian teori SIM sudah berubah dari yang sebelumnya textbook menjadi Audio Visual Integrated System (AVIS).

Namun, dalam pelaksanaannya materi ujian praktik sampai sekarang belum berubah. Konsep yang dibuat oleh Polres Bantul ini menurutnya telah menyelaraskan antara ujian praktik dengan ujian teori berbasis AVIS tersebut.

Misalnya, terkait dengan tes berkendara zig-zag dan membentuk angka 8 yang selama ini sering diprotes oleh masyarakat. Dalam konsep yang dibuat Polres Bantul, dua jenis tes praktik itu dihilangkan karena dinilai tidak relevan dengan ujian teori berbasis AVIS dan kebutuhan berkendara di jalan raya.

“Di konsep kita ini (berkendara zig-zag dan membentuk angka 8) kita skip, kita ubah dengan yang lain dan itu sudah mewakili dari uji keseimbangan, reaksi, kemudian perilaku pengendara,” ujarnya.

Wakapolda DIY, Brigjen Pol R Slamet Santoso. Foto: Widi RH Pradana

Adapun ujian praktik yang disusun berupa satu rangkaian berkendara dimana di dalamnya memuat aspek keseimbangan, reaksi, dan perilaku pengendara, dari mulai bagaimana memakai helm dengan benar, berkendara di jalur yang sempit, melewati lampu merah, melewati tikungan tajam, cara belok, mengerem, sampai praktik reaksi ketika harus belok mendadak.

“Usulan konsep ini baru pertama kali ada di Indonesia, dan dari Bantul. Jadi kalau ini sampai diterapkan secara nasional, tentu akan sangat membanggakan juga bagi masyarakat DIY,” ujar Slamet Santoso.