Mengenal Mafia Sholawat, Para Mantan 'Sampah Masyarakat' yang Rindu Rasulullah
·waktu baca 3 menit

Mafia Sholawat akan menjadi salah satu pengisi acara dalam puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Minggir di Sleman yang diasuh oleh KH Muwafiq atau Gus Muwafiq pada Minggu (15/10) mendatang.
Mafia Sholawat adalah grup selawat yang didirikan oleh KH Muhammad Ali Shadiqin atau Gus Ali Gondrong. Sejak pertama didirikan di Ponorogo, Jawa Timur pada 9 November 2013, saat ini Mafia Sholawat telah memiliki jutaan jemaah lintas negara, mulai dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Taiwan, Hongkong, China, Korea Selatan, dan sebagainya.
Mengutip penelitian Muhammad Syaifuddin tahun 2017 yang berjudul ‘Materi Dakwah KH. Muhammad Ali Shadiqin (Studi Kasus Mafia Sholawat di Ponorogo)’, nama Mafia Sholawat sebenarnya merupakan singkatan dari Manunggaling Fikiran lan Ati Ing Dalem Shalawat, artinya menyatunya pikiran dan hati di dalam selawat.
Yang menarik adalah, jemaah kelompok Mafia Sholawat merupakan orang-orang yang terpinggirkan, orang-orang yang dipandang sebelah mata, orang-orang yang dicap sebagai sampah masyarakat.
Jemaah Mafia Sholawat banyak yang berasal dari anak jalanan, mantan preman, penjudi, pecandu narkoba, pemabuk, hingga para mantan pekerja seks.
Gus Ali meyakini, orang-orang pinggiran seperti mereka pada dasarnya juga ingin berubah menjadi lebih baik. Namun, mereka tak pernah menemukan media yang tepat. Karena itulah dibuatlah majelis Mafia Sholawat yang terbuka untuk semua orang, termasuk para sampah masyarakat yang ingin taubat dan merindukan syafaat Nabi Muhammad SAW.
Sebelum mendirikan Mafia Sholawat, Gus Ali Gondrong juga sudah memiliki kedekatan dengan orang-orang marjinal di jalanan.
Mengutip penelitian Dadi Bagaskara tahun 2019, diceritakan bahwa sejak akhir 90-an setelah mendirikan Pesantren Roudhotun Ni’mah di Semarang, Gus Ali Gondrong sudah aktif keliling ke kafe-kafe, diskotik, bahkan tempat prostitusi untuk membimbing orang-orang yang ingin tobat.
Dia juga sangat akrab dengan kehidupan di jalanan pada waktu itu. Kesehariannya bertemu dengan para preman, anak jalanan, pengemis, menjadikannya semakin memahami dan mengerti kehidupan yang mereka jalani. Ia juga kerap memberi makan, minum, atau sekadar rokok kepada mereka.
Maka tak heran banyak santrinya yang berasal dari latar belakang anak jalanan, mantan peminum, mantan pecandu narkoba, berandalan, mantan penjudi, mantan preman, sampai mantan pekerja seks.
Itulah yang menjadikan Mafia Sholawat yang dia dirikan pun banyak beranggotakan orang-orang marjinal yang kerap dipandang sebelah mata, bahkan dicap sebagai sampah masyarakat.
Kembali ke peringatan Maulid Nabi di Pondok Pesantren Minggir, Gus Muwafiq menyampaikan bahwa rencana mengundang Mafia Sholawat ke Pondok Pesantrennya sudah dilakukan sejak lama. Ia sendiri tak mempersoalkan latar belakang jemaah Mafia Sholawat yang banyak diisi oleh orang-orang marjinal.
Baginya, orang-orang marjinal tersebut juga bagian dari umat Muhammad SAW yang butuh perhatian.
“Orang-orang kayak gitu (marginal) kan juga umat Rasulullah yang butuh perhatian. Umat Rasulullah kan tidak harus satu warna,” kata Gus Muwafiq saat dihubungi Pandangan Jogja pada Kamis (12/10).
Apalagi Pondok Pesantrennya berada di Kecamatan Minggir, Sleman. Sesuai namanya yang ada di Kecamatan Minggir yang berarti pinggir atau marginal, Pondok Pesantren Minggir mestinya juga bisa menjadi wadah bagi orang-orang yang terpinggirkan.
“Pondok Pesantren Minggir itu kan pondok marjinal. Kita kan ada di Kecamatan Minggir, Bahasa Inggrisnya minggir kan marginal,” ujarnya setengah bercanda.
