Menyelamatkan Harimau Terakhir di Hutan Sumatra
·waktu baca 4 menit

Harimau Sumatra menjadi satu-satunya spesies harimau yang tersisa di Indonesia setelah Harimau Jawa dinyatakan punah pada 1980-an akibat perburuan dan perkembangan lahan pertanian. Satu-satunya harimau yang tersisa itu, sekarang berstatus kritis dengan jumlah individu harimau sumatra hanya tersisa 600 ekor saja di habitatnya.
Situasi ini makin memburuk dengan terus terjadinya konflik antara harimau sumatra dengan manusia. Catatan Sumatran Tiger, sejak 2001 sampai 2016 telah tercatat 1.065 kasus konflik antara harimau dan manusia di seluruh wilayah pulau Sumatra. Mayoritas konflik berupa adanya harimau yang memangsa ternak sebanyak 376 kasus, diikuti munculnya harimau liar di sekitar pemukiman penduduk sebanyak 375 kasus.
Kasus manusia diserang oleh harimau sehingga membuat manusia terluka dan terbunuh berjumlah 184 kasus,dan kasus harimau mati akibat jerat, racun, tembakan senapan, dan alat-alat lainnya mencapai 130 kasus. Situasi konflik yang terus terjadi ini membuat harimau yang populasinya kini kritis menjadi semakin terancam.
Padahal, menurut Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Lampung BKSDA Bengkulu Hifzon Zawahiri, meskipun harimau termasuk satwa yang ganas, mereka cenderung akan menghindari bertemu dengan manusia. Sehingga banyaknya konflik yang terjadi antara manusia dengan harimau, mengindikasikan bahwa telah terjadi kerusakan habitat harimau yang serius.
“Karena selama habitatnya tidak terganggu dan membuatnya nyaman, dia tidak akan keluar dari kawasan itu,” kata Hifzon Zawahiri dalam Webinar Konservasi Harimau Sumatra yang diadakan oleh Harimau Kita, Jumat (23/7).
Konflik harimau dan manusia bermula dari aktivitas manusia, terutama konversi kawasan hutan untuk tujuan pembangunan seperti perkebunan, pertambangan, perluasan pemukiman,transmigrasi, dan pembangunan infrastruktur lainnya. Selain mengakibatkan fragmentasi habitat, berbagai aktivitas tersebut kemudian memicu konflik antara manusia dan harimau yang kerap menyebabkan korban dari kedua belah pihak.
Bahkan, sering berakhir dengan tersingkirnya harimau dari habitatnya. Karena harimau termasuk satwa teritorial, ketika dia kalah dia akan mencari lokasi kekuasaan yang lain hingga terkadang sampai pada perkampungan warga sehingga terjadilah konflik antara keduanya.
Harimau sumatra juga dihadapkan pada ancaman lain berupa perburuan serta perdagangan ilegal harimau sumatra dan produk turunannya. Kemiskinan masyarakat di sekitar hutan dan tingginya permintaan komersial produk-produk ilegal harimau mulai dari kulit, tulang, taring, serta daging mendorong meningkatnya perburuan harimau.
“Bahkan kumisnya pun laku dijual,” lanjutnya.
Berperang Melawan Jerat
Sejumlah upaya untuk mempertahankan keberadaan harimau terakhir ini sebenarnya telah dilakukan, baik oleh pemerintah, LSM, perguruan tinggi, maupun masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah patroli perlindungan kawasan hutan yang menjadi habitat harimau.
Di Lampung saja, total jarak patroli mencapai 12.038 kilometer. Dari patroli itu ditemukan 810 jerat dan 87 konflik antara manusia dengan harimau.
“Artinya dari patroli ini kita benar-benar berperang melawan jerat, karena sampai 810 jerat untuk ukuran lampung saja,” ujar Hifzon.
Upaya penegakan hukum dan perlindungan spesies maupun habitat pun terus dilakukan. Sebab menurutnya, hal tersebut menjadi sektor yang paling penting untuk diperkuat. Dan saat ini, sedikitnya ada 48 orang yang telah dihukum terkait dengan perdagangan harimau sumatra.
Penghitungan estimasi populasi harimau sumatra juga telah dilakukan dengan pemodelan Population Viability Analysis (PVA) untuk mempermudah dalam memetakan populasi harimau dan menentukan langkah-langkah konservasi.
“Dari perhitungan tersebut, diperkirakan ada sebanyak 600-an individu harimau yang terdistribusi di 23 lanskap di seluruh Sumatra,” lanjutnya.
Dia berharap, upaya-upaya konservasi yang dilakukan dapat meningkatkan populasi harimau sumatra serta bentang alamnya di seluruh Sumatra dapat pulih dan dipertahankan, atau bahkan bertambah. Dia juga berharap adanya infrastruktur dan peningkatan kapasitas KLHK dalam memantau dan mengevaluasi upaya konservasi harimau sumatra dan satwa mangsanya.
“Serta terbangunnya program konservasi ex-situ yang bermanfaat dan selaras dengan upaya pelestarian harimau Sumatra di alam,” kata Hifzon.
Anak Muda Bisa Apa?
Anak-anak muda dengan semua sumberdaya dan pengetahuan yang dimiliki memiliki peran penting dalam upaya konservasi harimau sumatra. Bagi para mahasiswa misalnya, mereka bisa ikut terlibat dalam penelitian-penelitian akademis tentang harimau sumatra. Penelitian ini tidak harus dengan cara masuk ke hutan dan memasang kamera trap, bisa saja berupa penelitian terkait kehidupan sosial atau antropologi kehidupan masyarakat di sekitar habitat harimau.
“Bisa juga menjadi informan, jadi bisa menginformasikan temuan harimau atau perdagangan ilegal,” kata Biodiversity Research and Survey Bukit Barisan Landscape Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS IP), Fahrudin Surahmat.
Maraknya perdagangan harimau ilegal secara online dengan memanfaatkan teknologi informasi, sangat membutuhkan peran anak-anak muda yang notabene lebih dekat dengan dunia digital untuk bisa melaporkan hal tersebut.
Dengan sosial media yang ada, anak-anak muda dengan semua kreativitas yang dimiliki juga bisa menjadi influencer. Misalnya melalui sosial media yang dimiliki, anak-anak muda ikut mengedukasi masyarakat tentang nilai penting harimau sumatra.
“Bisa juga ikut kampanye dan mengajak orang lain untuk tidak terlibat dalam kegiatan yang dapat merusak lingkungan dan satwa liar, terutama harimau sumatra,” kata dia.
Upaya-upaya itu mungkin terdengar sederhana, tapi menurut Fahrudin sangat berarti dalam upaya konservasi harimau sumatra. Apalagi hal-hal seperti itu biasanya kurang terjamah oleh mereka yang melakukan konservasi harimau secara langsung di lapangan.
“Jadi sangat dibutuhkan peran pemuda dengan kreativitas mereka,” ujar Fahrudin.
