Pahoman Sejati Bukan Penyembah Gunung Merapi dan Tak Boleh Membunuh Nyamuk
·waktu baca 4 menit

Embun masih membasahi daun-daun ilalang ketika puluhan umat Pahoman Sejati menyusuri jalan setapak menuju sebuah mata air suci: Sendang Kawit atau Umbul Sewu yang terletak di Dusun Windusabrang, Desa Wonolelo, Sawangan, Magelang. Jumat (17/6), adalah salah satu hari besar bagi mereka, yakni tahun baru Jawa Kuna 6424 Respati.
Tiba di mata air, mereka duduk melingkar di tepi sendang. Umat Pahoman Sejati meyakini Sendang Kawit adalah mata air suci yang zaman dulu digunakan oleh para leluhur mereka untuk bersuci sebelum bertapa di dalam hutan.
Sesaji sudah diletakkan di tepi sendang. Kembang setaman sudah ditebar ke dalam mata air. Beberapa batang dupa juga sudah dinyalakan, tandanya ritual akan segera dimulai. Ritual ini adalah satu dari serangkaian ritual peringatan tahun baru Respati.
Suasana menjadi hening, diselimuti kabut tipis Merapi, semua yang datang diam tertunduk dengan mata terpejam. Yang terdengar tinggal suara gemericik air dan burung-burung yang mulai keluar dari sarangnya. Ki Rekso Jiwo mulai memimpin ritual di tepi mata air itu menghadap Gunung Merapi.
“Kami tidak sedang menyembah Merapi, ini adalah wujud cinta kasih kami kepada Merapi,” kata Ki Rekso Jiwo selepas ritual.
Ki Reksi Jiwo berkata, semua ritual itu tidak dimaksudkan untuk menyembah Gunung Merapi, melainkan wujud syukur mereka kepada Tuhan yang telah melimpahkan berkat melalui Merapi. Juga sebagai doa supaya Merapi dan semua yang ada di sekitarnya selalu diberikan keselamatan.
Umat Pahoman memang kerap melakukan ritual-ritual yang berkaitan langsung dengan alam.
Selain peringatan tahun baru Respati, ada juga ritual Pisungsung Gunung setiap bulan Suro yang dilakukan untuk memperingati erupsi Merapi.
Selain itu, ada ritual bhakti alam dan merti bumi, yang tujuannya kurang lebih sama yakni untuk mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan melalui alam yang mereka tinggali.
“Karena tanah suci kami ya ini, tanah yang setiap hari kami injak dan kotori tapi masih terus memberikan berkah, bukan tanah yang jauh di sana,” ujarnya.
Talip, Kikis, Ki Rekso Jiwo, juga semua umat Pahoman Sejati sadar, jika mereka tak mungkin mampu menahan kekuatan perusahaan tambang yang mengeruk pasir batu, hingga mengakibatkan tanah suci mereka rusak.
Berkali-kali sudah penolakan dilakukan, berkali-kali juga selalu datang perusahaan yang baru. Suara mereka tak didengar sebagai kepentingan umum.
Akhirnya, yang bisa dilakukan hanyalah memuliakan tanah sucinya melalui berbagai ritual dan persembahyangan. Mereka sakralkan gunung, sungai, pohon, juga mata air, supaya orang-orang sadar kalau ada Pahoman Sejati yang menyucikan tempat-tempat itu.
“Jadi orang-orang tidak seenaknya lagi merusak, tidak seenaknya lagi mengotori. Semoga ada yang peduli, kalau bagi kami Merapi ini tanah suci,” kata Ki Rekso Jiwo.
Kasih Seekor Nyamuk
Soal sikap umat Pahoman Sejati pada penambang yang mereka anggap telah merusak ekosistem sungai Pabelan, ada ajaran tentang nyamuk yang terus menjadi pegangan
Ya, ajaran nyamuk memberi perintah bahwa umat Pahoman Sejati tak pernah diajari membenci. Termasuk kepada orang-orang yang kerap merusak alam Merapi. Sebab, apapun yang didasari kebencian tak akan pernah menghasilkan kebaikan.
“Kami hanya bisa merawat, melestarikan, siapa tahu mereka lihat terus jadi segan buat merusak lagi,” ujar Ketua Padepokan Seni Budi Aji, sebuah sanggar seni yang didirikan para penganut Pahoman Sejati, Kikis Wantoro.
Pahoman Sejati mengajarkan bahwa manusia hanyalah satu bagian kecil dari entitas semesta. Ada jutaan makhluk Tuhan lain yang hidup di jagat raya, yang semua punya hak atas berkat Tuhan. Dan manusia punya kewajiban untuk mengasihi semua makhluk itu.
Contoh kecilnya perlakuan terhadap nyamuk. Meski sudah menggigit, tapi bagi leluhur Pahoman Sejati, pantang hukumnya menepuk atau membunuh mereka. Sebab terbang, hinggap, dan mengisap darah yang dilakukan oleh nyamuk-nyamuk itu semua adalah kodrat Tuhan. Semua atas izin dan perintah Tuhan.
“Itu yang sulit, kadang saya masih refleks (nepuk). Baru setelah itu biasanya saya merasa bersalah kenapa membunuh mereka,” lanjutnya.
Ajaran itu yang kemudian mempengaruhi cara umat Pahoman Sejati hidup. Semua hal perlu dihitung dan ditimbang supaya kehidupan tetap seimbang.
Misalnya saat mereka mau menebang pohon, penentuan hari mesti disesuaikan dengan penggunaan pohon itu, apakah akan dipakai untuk tiang, pintu, jendela, atau yang lainnya.
Bagi masyarakat petani, saat akan menggarap lahan, memulai masa tanam, atau melakukan panen juga mesti melakukan ritual khusus dan penghitungan hari yang tepat.
“Ritual itu intinya kami berdoa supaya apa yang kami tanam akan membuahkan hasil yang bermanfaat, tidak hanya bagi kami tapi juga bagi para perusak alam, perusak Gunung Merapi, simbah kami,” pungkas Kikis. **
• Liputan ini bagian dari program workshop dan fellowship yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta
• Tulisan ini merupakan seri kedua dari 3 seri tulisan penganut kepercayaan Pahoman Sejati yang tinggal di lereng selatan Gunung Merapi, kawasan Pabelan, Magelang
• Simak seri pertama dan kedua:
