Tangis Umat Pahoman Sejati Saat para Penambang Merusak Merapi, Siapa Peduli?
·waktu baca 3 menit

Seperti robot yang haus darah, mesin besar yang terbuat dari besi-besi berwarna oranye itu suaranya meraung-raung. Suara yang benar-benar asing bagi warga sekitar.
Talip Supriono yang sedang memahat batu, langsung berhenti. Meski berjarak beberapa ratus meter dari rumahnya, tapi raungan suara mesin itu sanggup memekakan telinganya.
Hari yang dia takutkan telah tiba.
Beberapa hari terakhir, kabar akan adanya pembukaan kawasan tambang galian C di kampungnya memang santer terdengar.
Saat Talip diam dan takut, mesin aneh itu terus bergerak membuka akses penambangan pasir dan batu di Kali Pabelan, di Dusun Wonogiri Kidul, Desa Kapuhan, Kecamatan Sawangan, Magelang, hanya 8 kilometer dari puncak Merapi.
Semua peralatan memahat dia letakkan begitu saja, termasuk rokok yang masih tersisa setengah. Tanpa alas kaki, Talip bergegas lari menuju sumber suara.
Sampai di tepi sungai, ternyata sudah ada beberapa warga dusun lain. Mereka semua sedang melihat alat berat berwarna oranye itu menerabas lahan untuk mengeruk pasir dan batu yang ada di sungai Pabelan, salah satu aliran sungai yang berhulu di Merapi.
“Saya kemudian tahu mesin itu bernama eskavator. Saya ingat, saya saat itu diam agak lama, tanpa sadar saya nangis,” kata Talip.
Peristiwa itu sebenarnya sudah terjadi hampir 20 tahun silam, tapi Talip masih bisa merasakan sakitnya sampai sekarang.
Apalagi setelah perusahaan penambangan pertama itu masuk ke desa mereka, satu per satu tambang lain silih berganti ikut mengeruk pasir dan batu di sana.
Dan belum sebulan ini, sebuah perusahaan baru penambangan pasir dan batu kembali melakukan penambangan di dekat rumahnya.
Beberapa kali warga kampung yang mayoritas adalah penganut Pahoman Sejati melakukan demonstrasi menolak tambang pasir di kampung mereka.
Beberapa kali mereka berhasil, karena sebagian perusahaan yang menambang tak jelas izinnya. Tapi lebih banyak gagalnya.
“Walaupun satu perusahaan pergi, tapi terus datang perusahaan tambang yang baru. Begitu terus sampai sekarang,” ujarnya, Juni lalu saat ditemui Pandangan Jogja @Kumparan.
Sampai sekarang, Talip tak pernah kuat untuk menyaksikan proses penambangan material di sungai Pabelan.
Dia bahkan nyaris tak pernah menginjakkan kaki di badan sungai lagi setelah ada tambang karena merasa sudah gagal menjaga dan merawat sungai mereka.
Untuk pekerjaannya sebagai pemahat batu, Talip juga tak lagi mengambil batu di sungai Pabelan. Talip tak tega, Talip tak kuat.
Talip dan semua umat penganut Pahoman Sejati, oleh leluhur mereka; penduduk awal di lereng selatan Merapi, diajari bahwa Merapi adalah simbah mereka.
“Kalau ada yang menyakiti Merapi, sama saja menyakiti umat Pahoman Sejati,” kata salah seorang tokoh Pahoman Sejati, yang juga Ketua Padepokan Seni Budi Aji, sebuah sanggar seni yang didirikan para penganut Pahoman Sejati, Kikis Wantoro. **
• Liputan ini bagian dari program workshop dan fellowship yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta
• Tulisan ini merupakan seri pertama dari 3 seri tulisan penganut kepercayaan Pahoman Sejati yang tinggal di lereng selatan Gunung Merapi, kawasan Pabelan, Magelang
• Simak seri kedua dan ketiga:
