Pengelola Jip Wisata Parangtritis: Harusnya Jip Tak Boleh Keluar dari Bantul
·waktu baca 2 menit

Sebuah jip wisata pantai Parangtritis yang membawa tiga penumpang mengalami kecelakaan terperosok ke jurang di daerah Kecamatan Purwosari, Gunungkidul, Sabtu (3/12). Akibat kecelakaan itu, seorang wisatawan meninggal dunia dan penumpang lainnya mengalami luka-luka.
Salah seorang pengelola wisata jip pantai Parangtritis yang juga anggota Paguyuban Jeep Wisata Parangtritis (JWP), Putra Fajar, mengatakan bahwa sebenarnya para pemilik usaha wisata jeep di kawasan Pantai Parangtritis dilarang membawa jipnya keluar dari kawasan Bantul.
“Di awal berdirinya JWP sudah ditekankan kalau jip itu hanya boleh beroperasi di kawasan pantai Bantul, tidak boleh keluar sampai ke Gunungkidul,” kata Putra Fajar saat dihubungi, Senin (5/12).
Adapun rute yang diperbolehkan menurut dia hanya ke arah barat, paling jauh sampai ke Pantai Depok.
“Jadi hanya boleh susur pantai, lihat view pantai, dari Parangtritis ke Gumuk Pasir, paling jauh sampai ke Pantai Depok,” tegasnya.
Karena didesain untuk susur pantai, maka spesifikasi mobil jip yang ada di wisata Pantai Parangtritis sebenarnya tak cocok jika dibawa ke kawasan perbukitan seperti ke daerah Gunungkidul di timur Pantai Parangtritis.
“Saya sendiri yang sudah bertahun-tahun jadi driver enggak berani ke atas (daerah Gunungkidul), apalagi bawa wisatawan,” kata dia.
“Dari awal driver-driver memang dilarang, enggak ada rute ke sana,” lanjutnya.
Karena itu, sampai saat ini sebenarnya tidak banyak driver yang membuka rute jip ke arah Gunungkidul. Jika pun ada satu dua, menurutnya itu dilakukan sembunyi-sembunyi dan melanggar kesepakatan Paguyuban.
“Biasanya karena ingin mencari keuntungan sendiri, tapi kurang memperhatikan keselamatannya,” ujarnya.
Putra berharap, kecelakaan jip tersebut menjadi pelajaran bagi para pengusaha dan driver jip wisata di kawasan Parangtritis. Para pelaku usaha jip menurut dia mestinya tidak hanya sekadar mengejar keuntungan saja, tapi juga memperhatikan keselamatan wisatawan yang dia bawa.
“Jangan sampai kejadian-kejadian begini terulang lagi, yang kena dampaknya kan nanti semua pengusaha jip. Cari untung boleh, tapi keselamatan tetap harus diutamakan,” kata Putra Fajar.
