Kumparan Logo
Konten Media Partner

Stok Air Hujan Masih Cukup buat Setahun, Cerita Warga Sleman Tak Pusing Kemarau

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sri Wahyuningsih atau Bu Ning, pendiri Komunitas Banyu Bening di Ngaglik, Sleman, tak pusing air bersih saat kemarau panjang karena punya stok air hujan banyak yang ia tampung dari taun-tahun sebelumnya. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Sri Wahyuningsih atau Bu Ning, pendiri Komunitas Banyu Bening di Ngaglik, Sleman, tak pusing air bersih saat kemarau panjang karena punya stok air hujan banyak yang ia tampung dari taun-tahun sebelumnya. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja

Kemarau berkepanjangan telah menyebabkan sebagian wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami kekeringan dan kesulitan air bersih, bahkan sekadar untuk makan dan minum. Tak sedikit dari mereka yang harus beli air untuk kebutuhan sehari-hari, dengan harga yang tidak murah.

Tapi itu semua tak dialami oleh Sri Wahyuningsih, atau akrab dipanggil Bu Ning. Ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali beli air untuk dikonsumsi. Di tengah kemarau berkepanjangan ini, kebutuhan air bersihnya tercukupi dari air hujan yang ia tampung dari tahun-tahun sebelumnya.

“Stok air kami masih tercukupi dengan baik, tidak ada masalah dengan air. Sampai hujan tahun depan masih tahan,” kata Sri Wahyuningsih, saat ditemui Pandangan Jogja pada Selasa (31/10).

kumparan post embed
Air hujan yang ditampung oleh Sri Wahyuni di rumahnya, warga sekitar boleh mengambilnya secara gratis. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja

Bu Ning adalah pendiri Komunitas Banyu Bening di Kalurahan Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman. Komunitas ini sudah sejak 2012 menampung dan mengelola air hujan untuk kebutuhan sehari-hari.

Kini di rumahnya ia memiliki penampungan air hujan berupa toren dengan kapasitas sekitar 25.000 liter.

“Kalau untuk konsumsi saja ini tidak habis buat orang satu RT sampai tahun depan,” ujarnya.

kumparan post embed

Ia mengatakan bahwa air hujan adalah solusi paling murah untuk mengatasi kekeringan. Sebab, setiap orang bisa mendapatkan air hujan dengan gratis.

Toren penampungan air hujan yang ada di rumah Sri Wahyuni di Ngaglik, Sleman. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja

Cara menampungnya juga sangat mudah, tak harus menggunakan toren-toren besar seperti yang digunakan oleh Bu Ning. Yang penting, pastikan atap rumah dan wadah yang dipakai untuk menampung air hujan dalam kondisi bersih.

“Sesalah-salahnya menampung air hujan, itu masih benar daripada kita nyedot air tanah terus,” ujarnya.

Karena air hujan merupakan air yang sangat murni, maka ia bisa disimpan dalam jangka waktu yang lama. Bahkan Bu Ning masih menyimpan air hujan dari musim penghujan dua sampai tiga tahun silam. Dan ia meminum air hujan itu dalam keadaan mentah, tanpa dimasak lebih dulu.

“Kalau saya langsung diminum sudah biasa. Tapi kalau ada yang kurang yakin, bisa dimasak dulu, dikasih sinar ultraviolet, atau apapun. Walaupun dalam kondisi mentah sebenarnya sangat aman,” kata Sri Wahyuningsih.